RADARBANYUWANGI.ID - Konferensi Cabang (Konfercab) XIV PCNU Banyuwangi yang diselenggarakan pada 7–8 Januari 2026 di Universitas KH Mukhtar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi, berlangsung sukses dan penuh khidmat.
Forum tertinggi di tingkat cabang ini bukan sekadar agenda lima tahunan, tetapi momentum strategis untuk menata ulang arah perjuangan Nahdlatul Ulama di Bumi Blambangan memasuki abad kedua.
Melalui Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan digelarkan pelantikan PCNU Banyuwangi Masa Khidmat 2026-2031 tanggal 4 April 2026 di Pondok Pesantren Minhajut Thullab, Desa Sumberberas, Muncar, menjadi awal babak baru kepemimpinan.
Amanah ini bukan hanya kehormatan organisatoris, tetapi tanggung jawab sejarah untuk mengembalikan PCNU Banyuwangi sebagai cabang percontohan di Jawa Timur, bahkan di tingkat nasional.
Sejarah mencatat bahwa PCNU Banyuwangi pernah berada pada fase kejayaan yang membanggakan. Keberadaan Rumah Sakit NU di wilayah Mangir–Rogojampi yang berstandar nasional menjadi simbol kemandirian dan profesionalitas layanan kesehatan berbasis nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Di sektor pendidikan, lembaga formal di bawah LP Ma’arif NU Banyuwangi data kuantitatif yang disajikan oleh sahabat Habib seorang aktivis NU ( penulis opini Radar Bwi 10/04/26) , LP Ma’arif Banyuwangi membawahi 651 Lembaga Pendidikan formal TK/RA s.d SLTA dan lebih dari 4.000 guru serta 86.000 siswa aktif.
Di sektor Pendidikan nonformal seperti Pondok pesantren ( RMI ) menjadi pusat kaderisasi ulama dan penjaga tradisi keilmuan Islam moderat.
Namun, memasuki abad kedua, tantangan tidaklah ringan. Dinamika organisasi yang terjadi selama ini harus dijadikan “jamu kuat” untuk membangun NU yang lebih tangguh dan dewasa.
Perbedaan pandangan, dinamika kepengurusan, hingga tantangan eksternal hendaknya menjadi pelajaran berharga, bukan sumber perpecahan. Justru dari dinamika itulah akan lahir kematangan dan soliditas organisasi.
Ke depan, program keumatan seperti pemberdayaan ekonomi, penguatan sektor pertanian, pengembangan UMKM, dan layanan sosial harus ditingkatkan secara terukur.
NU tidak boleh hanya hadir dalam forum seremonial, tetapi harus nyata dalam pemberdayaan umat. Banyuwangi memiliki potensi pertanian, perikanan, dan pariwisata yang besar. PCNU harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi jamaah berbasis potensi lokal.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah menjadi kebutuhan strategis. Sinergi program pembangunan dengan program keumatan akan mempercepat kesejahteraan masyarakat. Namun, prinsip kemandirian organisasi tetap harus dijaga.
NU adalah mitra kritis dan strategis, bukan subordinat. Kolaborasi yang sehat akan memperkuat posisi NU sebagai penjaga moral dan sosial masyarakat Banyuwangi.
Transformasi digital juga menjadi agenda mendesak. Optimalisasi Platform Digdaya dari Nahdlatul Ulama dalam digitalisasi data dan layanan harus menjadi prioritas. Pendataan jamaah, manajemen aset, pelayanan administrasi, hingga integrasi program antar lembaga perlu berbasis sistem yang transparan dan akuntabel.
Organisasi besar tidak bisa lagi dikelola secara konvensional. Data yang kuat akan melahirkan kebijakan yang tepat.
Selain itu, optimalisasi aset harus menjadi perhatian serius. PCNU Banyuwangi memiliki aset tanah di wilayah kota Banyuwangi dan Rogojampi.
Aset tersebut harus dimanfaatkan secara produktif, misalnya dengan pembangunan Klinik NU, pusat layanan terpadu, atau unit usaha profit lainnya. Kemandirian finansial menjadi fondasi penting agar organisasi dapat bergerak lincah tanpa ketergantungan berlebihan pada pihak luar.
Sebagai struktur di atas MWCNU dan PRNU se-Banyuwangi, PCNU memiliki peran strategis dalam pembinaan dan penguatan basis. MWCNU dan PRNU harus didorong menjadi pusat kemajuan NU dan warganya di tingkat kecamatan dan desa.
Penguatan kapasitas manajerial, kaderisasi kepemimpinan muda, serta pengembangan ekonomi jamaah harus dimulai dari akar rumput. Jika MWCNU dan PRNU maju, maka PCNU akan kokoh. Jika jamaah berdaya, maka NU akan bermartabat.
Memasuki abad kedua, PCNU Banyuwangi tidak boleh berjalan lambat. Ia harus berlari. Berlari mengejar ketertinggalan, berlari menyongsong peluang, dan berlari menjawab tantangan zaman.
Dengan potensi besar yang dimiliki—pendidikan, pesantren, aset, dan dukungan jamaah—NU Banyuwangi memiliki modal sosial yang luar biasa untuk bangkit lebih kuat.
Banyuwangi dikenal dengan julukan “The Sunrise of Java.” Julukan ini melambangkan harapan, semangat baru, dan cahaya yang terbit dari ujung timur Pulau Jawa.
Maka di abad kedua ini, PCNU Banyuwangi harus benar-benar menjadi “The Sunrise of Java” bagi gerakan Nahdlatul Ulama. Menjadi matahari yang memancarkan cahaya moderasi, kemajuan, dan kesejahteraan bagi umat.
Selamat datang PCNU Banyuwangi di abad ke-2. Dengan kepemimpinan baru, semangat baru, dan tekad baru dan dengan kepengurusan Jumbo sebagaimana tulisan MAN NAHWU : Samsudin Adlawi ( Radar BWI, 06/04/26), semoga menjadi Modal besar untuk Kapal jumbo NU dalam mengarungi Samudera perjuangan dan mari kita jadikan dinamika sebagai energi, potensi sebagai kekuatan, dan tantangan sebagai peluang. Dari Banyuwangi, cahaya itu terbit. Dari Banyuwangi, NU bangkit.
Dan di abad kedua ini, NU Banyuwangi melangkah lebih cepat, lebih profesional, dan lebih berdampak bagi umat dan bangsa. (*)
Editor : Ali Sodiqin