RADARBANYUWANGI.ID - Dalam dua hari berturut-turut di Muncar, 48 sound horeg menghidupkan ekonomi sekaligus mengguncang rumah warga. Apakah ini berkah, atau beban yang kita abaikan? Fenomena ini menghadirkan satu ironi yang jarang disadari: sesuatu yang dianggap mengganggu oleh sebagian orang, justru menjadi sumber rezeki bagi yang lain. Di tengah kebisingan yang diperdebatkan, ada pedagang kecil yang tersenyum karena dagangannya habis terjual.
Dalam hitungan jam, uang berputar cepat. Bagi pelaku UMKM, keramaian seperti ini bukan sekadar hiburan, tetapi peluang yang nyata.
Dalam logika sederhana, semakin besar kerumunan, semakin tinggi potensi transaksi. Sound horeg, dalam konteks ini, menjadi magnet ekonomi. Ia menarik massa, dan massa menciptakan pasar. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa dua hari berturut-turutkeramaian mampu menggantikan beberapa hari aktivitas biasa. Bahkan dalam beberapa kasus, momentum seperti ini menjadi “penyelamat” bagi pelaku usaha kecil yang selama ini bertahan dalam kondisi serba terbatas.
Namun, di balik manfaat itu, ada biaya yang tidak pernah benar-benar dihitung. Kebisingan yang dihasilkan bukan sekadar keras, tetapi sudah berada pada level yang ekstrem. Dalam ilmu akustik, suara diukur dalam desibel dengan skala logaritmik. Artinya, kenaikan kecil pada angka tidak berarti dampak kecil, melainkan lonjakan yang jauh lebih besar. Ketika satu sumber suara saja sudah kuat, maka puluhan yang berbunyi bersamaan bukan lagi penjumlahan biasa, tetapi akumulasi energi yang berlipat.
Ketika 48 sound horeg berdiri dalam satu lokasi, yang terjadi bukan sekadar “ramai”, tetapi tekanan suara yang nyata. Getaran tidak hanya dirasakan oleh telinga, tetapi juga oleh lingkungan fisik. Tidak mengherankan jika muncul laporan genteng bergeser atau kaca bergetar. Ini bukan persepsi berlebihan, melainkan konsekuensi logis dari intensitas suara yang melampaui batas.
Lebih dari itu, kebisingan ekstrem juga berdampak pada kesehatan. Paparan suara dalam intensitas tinggi dalam waktu lama dapat memicu stres, gangguan tidur, hingga menurunkan konsentrasi. Artinya, dampak sound horeg tidak hanya bersifat sesaat, tetapi juga berpotensi berkelanjutan jika tidak dikelola dengan baik.
Di titik inilah fenomena sound horeg menjadi menarik sekaligus problematis. Kita tidak hanya melihat satu kurva, tetapi dua kurva yang bergerak bersamaan: kurva keuntungan ekonomi yang naik, dan kurva dampak sosial yang melonjak lebih cepat.
Di sinilah letak dilema sebenarnya. Kita melihat manfaat ekonomi secara langsung, tetapi mengabaikan kerugian yang tidak kasat mata. Kita menghitung omzet, tetapi tidak menghitung dampak. Kita merayakan keramaian, tetapi lupa bahwa tidak semua orang berada dalam posisi yang sama untuk menikmatinya.
Jika dianalogikan secara sederhana, keuntungan ekonomi mungkin bertambah secara bertahap, tetapi kerugian sosial dapat meningkat secara eksponensial. Inilah yang membuat fenomena ini tidak bisa dipahami hanya dengan logika “untung-rugi” biasa. Ada ketimpangan dampak yang sering luput dari perhatian. Masalah sound horeg bukan pada keberadaannya, tetapi pada hilangnya batas. Ketika sesuatu yang sebenarnya bisa diukur seperti kebisingan tidak lagi dijadikan acuan, maka yang terjadi bukan sekadar hiburan, tetapi potensi gangguan yang dianggap wajar.
Kita cenderung menggunakan logika sederhana: semakin ramai, semakin berhasil. Semakin keras, semakin meriah. Tanpa sadar, kita mulai menggeser standar, bukan ke arah yang lebih baik, tetapi ke arah yang lebih ekstrem. Yang dulunya dianggap berlebihan, kini menjadi biasa. Padahal, ruang publik tidak pernah dimiliki oleh satu kelompok saja. Ia adalah ruang bersama, tempat di mana kepentingan harus saling bertemu. Apa yang menjadi hiburan bagi satu pihak, bisa menjadi beban bagi pihak lain. Dan ketika tidak ada batas yang jelas, yang kuat akan mendominasi, sementara yang terdampak hanya bisa menerima.
Lalu, apakah sound horeg harus dihentikan?
Tidak sesederhana itu. Melarang total berarti mematikan peluang ekonomi yang nyata bagi masyarakat kecil. Namun membiarkannya tanpa kendali juga berarti mengabaikan hak orang lain untuk merasa aman dan nyaman.
Di sinilah pentingnya keseimbangan. Jika keramaian membawa manfaat ekonomi, maka dampaknya juga harus dikelola. Batas volume, jumlah perangkat, lokasi, dan waktu pelaksanaan bukan sekadar aturan teknis, tetapi bentuk keadilan. Bahkan lebih jauh, diperlukan kesadaran kolektif bahwa ruang publik adalah ruang berbagi, bukan ruang dominasi.
Karena pada akhirnya, ini bukan tentang melarang hiburan, tetapi memastikan agar hiburan tidak berubah menjadi gangguan.
Sound horeg menunjukkan satu hal penting: sesuatu yang mampu menghidupkan ekonomi dalam waktu singkat, juga bisa merusak kenyamanan dalam waktu yang sama. Ia adalah dua sisi dari koin yang tidak bisa dipisahkan. Dan di titik inilah kita diuji.
Apakah kita hanya ingin ramai, atau juga ingin adil?
Sebab ramai itu mudah diciptakan. Tetapi menjaga agar semuanya tetap dalam batas itulah yang membutuhkan kedewasaan. (*)
Editor : Ali Sodiqin