RADARBANYUWANGI.ID - Sebagai putra daerah yang lahir dan besar di tanah Blambangan, hati saya selalu bergetar setiap melihat denyut nadi ekonomi di pasar-pasar tradisional dan toko kelontong di sudut-sudut Banyuwangi.
Toko-toko kecil ini bukan sekadar tempat transaksi, melainkan simbol daya tahan rakyat kita.
Namun, belakangan ini kita melihat sebuah fenomena: kebijakan pembatasan jam operasional ritel modern dianggap sebagai satu-satunya "obat" untuk menyelamatkan mereka.
Secara pribadi dan sebagai aparat hukum yang sering bersinggungan dengan ketertiban sosial, saya melihat kebijakan restriksi (pembatasan) hanyalah solusi kosmetik.
Ia tidak menyembuhkan penyakit utama, yakni ketimpangan daya saing.
Jika kita ingin toko kelontong Lare Oseng benar-benar berjaya di rumah sendiri, kita butuh elevasi , bukan sekadar regulasi yang membatasi.
Ada tiga langkah konkret yang menurut saya harus segera diakselerasi oleh Pemerintah Daerah Banyuwangi dengan menggandeng sektor swasta dan perbankan.
Revolusi Harga melalui Agregasi Rantai Pasok
Masalah utama toko kelontong adalah harga kulakan yang mahal karena mereka membeli eceran. Di sini, Pemda harus hadir sebagai "Jembatan".
Kita perlu mendorong sektor swasta, para distributor besar untuk memberikan skema harga Tier-1 kepada toko kelontong melalui konsorsium atau koperasi.
Perbankan harus masuk di titik ini.
Dengan skema penjaminan kredit atau supply chain financing, bank dapat menjamin pembayaran ke distributor , sehingga toko kelontong kita bisa mendapatkan stok barang dengan harga yang sama murahnya dengan ritel modern.
Tanpa harga yang kompetitif, proteksi jam operasional hanya akan menunda kekalahan.
Digitalisasi: Mengubah "Konvensional" Menjadi "Proporsional"
Kita sering bangga dengan Smart Kampung, kini saatnya kita memiliki Smart Kelontong. Sektor swasta yang bergerak di bidang teknologi (POS dan Fintech) jangan hanya membidik kafe-kafe elit di kota.
Pemda bisa memfasilitasi integrasi aplikasi manajemen stok digital untuk toko kelontong.
Mengapa ini penting? Agar mereka bankable. Perbankan akan jauh lebih berani menyalurkan kredit modal kerja jika melihat catatan transaksi digital yang rapi daripada sekadar nota kertas manual.
Digitalisasi adalah kunci agar toko kecil kita naik kelas, bukan lagi dikelola "seadanya", tapi dikelola secara profesional.
Simbiosis Mutualisme, Bukan Sekadar Etalase
Kemitraan antara ritel modern dan UMKM lokal tidak boleh hanya sekadar formalitas diletakkan di pojok yang gelap. Ritel modern yang beroperasi di Banyuwangi wajib menjadi "orang tua asuh" bagi produk lokal.
Sektor perbankan dapat berperan sebagai kurator, membantu UMKM meningkatkan standar kualitas dan kemasan mereka melalui pembiayaan KUR. Kebijakan Pemda harus tegas: Izin ritel modern adalah komitmen untuk memajukan produk lokal.
Jika produk UMKM kita mendominasi rak-rak ritel tersebut dengan dukungan modal dari perbankan, maka persaingan akan berubah menjadi kolaborasi yang sehat.
Keunggulan Kompetensi
Menyelamatkan ekonomi rakyat bukan dengan memotong kaki mereka yang berlari cepat, melainkan dengan memberikan "sepatu lari" yang mumpuni bagi mereka yang masih tertatih.
Sebagai Lare Oseng, saya rindu melihat toko kelontong di Banyuwangi tidak hanya bertahan hidup karena belas kasihan regulasi, tapi tegak berdiri karena keunggulan kompetensi.
Mari kita bangun Banyuwangi dengan semangat Gotong Royong yang modern—di mana pemerintah, swasta, dan perbankan berjalan seiring untuk mengangkat martabat ekonomi rakyat kecil.
Banyuwangi Jenggirat Tangi! (*)
Editor : Ali Sodiqin