NU dan Gerakan Keumatan Memasuki Abad Ke-2

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 14:32 WIB
Oleh: Agus Baihaqi, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIMSYA Blokagung/Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi.
Oleh: Agus Baihaqi, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIMSYA Blokagung/Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi.

RADARBANYUWANGI.ID - Pelantikan PCNU Banyuwangi yang dilaksanakan pada Sabtu (4/4/2026) di Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Parasgempal, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, bukan hanya sekedar tradisi yang biasa dilakukan di sebuah organisasi.

Tapi memiliki nilai lebih dengan tercatat dalam sejarah sebagai pengurus pertama yang menjaga NU di fase abad ke-2. Untuk diketahui, pada 31 Januari 2026, NU genap berumur 100 tahun atau seabad.

Tanggung jawab dan tugas yang diemban para pengabdi NU di fase abad ke-2 ini, tentu berbeda dengan masa-masa saat jam’iyah yang didirikan oleh para ulama pada 31 Januari 1926 itu diproklamirkan.

Pada fase abad ke-1, NU berjuang menjaga dan mempertahankan tradisi dan faham ahlussunah waljamaah di tengah puritas Islam yang sangat kuat. Perjuangan ini tidak hanya di Jawa (Indonesia), tapi juga di pusatnya Islam, Makkah. S

aat itu Raja Arab Saudi, Ibnu Sauud membongkar makam para sahabat dan konon juga akan membongkar makam Nabi Muhammad. Raja Sauud, juga kurang berkenan dengan empat madzhab, yakni madzab Syafii, Maliki, Hambali, dan Hanafi. (Choirul Anam:1999).

Perjuangan para kiai NU dengan mengirim surat dan menemui Raja Sauud akhirnya berhasil, tradisi yasinan dan tahlilan yang menjadi peninggalan dakwah Walisongo dengan menggabungkan Islam dan tradisi lokal, juga masih terjaga hingga saat ini. 

NU di fase abad ke-1, aktif melakukan perlawanan dan penyemangat dalam setiap gerakan melawan penjajah. Hingga akhirnya, muncul Resolusi Jihad yang disampaikan Rais Akbar PBNU KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945, dan kini ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional (HSN).

Pendirian lembaga pendidikan seperti pondok pesantren dan madrasah banyak dilakukan, termasuk perekonomian umat. NU semakin meroket pada fase abad pertama ini, saat muncul tokoh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan pemikiran demokrasi dan pluralismenya. 

Menurut Ketua Umum PBNU periode 1984-1999 ini, Islam harus menjadi kekuatan yang membebaskan dan melindungi hak-hak minoritas, dan mengontekstualisasikan ajaran Islam dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi ajaran (Abdurrahman Wahid: 2006).

Dari pemikiran-pemikirannya itu, NU akhirnya dikenal sebagai pelopor Islam moderat yang toleran dan inklusif (Islam Wasathiyah), hingga akhirnya  terbangunnya kohesi sosial.

Bagaimana Gerakan NU di fase abad ke-2 ini? Inti dari gerakan dan perjuangan sebenarnya tidak terlalu beda. Hanya saja, model dan strategi yang dilakukan tidak sama. Kemajuan tehnologi yang ditandai dengan digitalisasi, menjadi tantangan besar para kader dan pengurus NU.

Siap atau tidak siap, NU yang dikenal sebagai organisasi tradisional, harus siap menghadapi kemajuan tehnologi. Puritanisme Islam semakin kuat. Propaganda yang disertai dalil-dalil pembenarnya, setiap hari terus berseliweran di ruang siber.

Di sini, NU harus hadir untuk mengimbangi konten hoax. Para kader NU, terutama di kalangan GenZ dan Gen Alpha, harus diperkuat karena mereka itu yang akan menjadi tarjet. Para mubalig dan dai NU, harus menguasai tehnologi media digital.    

Pesantren tetap menjadi motor utama di NU. Martin van Bruinessen menyebut, pesantren sebuah institusi yang mampu bertahan dan beradaptasi dengan perubahan zaman (Martin van Bruinessen:1994).

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren harus mulai terbuka dengan tehnologi. Para santri tidak hanya mengkaji kitab-kitab klasik yang berhubungan dengan ibadah, tauhid, fikih, tafsir, dan tasawuf, tapi juga membuka lagi kitab filsafat, sains, pemikiran modern, dan penguasaan tehnologi. Ini menjadi ciri dan kekuatan NU.

Greg Fealy menyampaikan, NU itu organisasi yang unik karena mampu memadukan tradisi keislaman klasik dengan realitas sosial-politik modern (Greg Fealy: 1998). 

Dengan penguasaan ilmu pengetahuan umum dan tehnologi ini, para santri atau generasi NU, akan siap menghadapi tantangan global. Yang juga penting, dalam pengelolaan pendidikan ini tidak hanya beriorientasi pada akademik.

Kepekaan pada lingkungan, juga dituntut agar nantinya memiliki kepedulian pada masyarakat dan lingkungannya. Pesantren yang banyak berdiri di hampir setiap desa, bisa menjadi pelopor dalam penguatan ekonomi berbasis pesantren.

Selain itu, dengan jumlah anggota yang tinggi, warga NU tidak perlu mengandalkan pihak eksternal, tapi dapat membangun ekonomi berbasis nahdliyin. (*)

Editor : Ali Sodiqin
1 abad 100 tahun nahdlatul ulama pcnu banyuwangi