RADARBANYUWANGI.ID - Hai, kenalin namaku Dhafitha. 08 Oktober 2025, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Kata Pak Nur Khoriri, Kepala Sekolah MI Islamiyah Rogojampi, hari ini kami ikut program Sekardadu yang diadakan oleh Korsda Rogojampi, tempatnya di tepi Sungai Concrong.
Aku belum tahu apa itu Sekardadu, tapi katanya singkatan dari Sekolah Rawat Daerah Aliran Sungai. Wah, kedengarannya keren sekali. Aku berangkat bersama teman-teman dari Sekolah jalan kaki menuju Sungai Concrong. Sesampainya di sana, udaranya segar sekali; burung-burung berkicau, dan suara air sungai terdengar jelas.
“Wah, indah sekali ya,” kataku pada Khaira, teman sebangkuku.
“Iya, tapi lihat, ada banyak sampah,” jawab Khaira sambil menunjuk plastik yang mengapung di sungai.
Lalu kami dikumpulkan oleh Pak Nur Khoriri di tepi sungai.
“Anak-anak, sungai ini penting sekali. Kalau sungai rusak, kita juga yang susah. Air jadi kotor, ikan banyak yang mati, dan banjir bisa datang karena aliran sungai tersumbat sampah.” katanya.
Aku mengangguk-angguk, baru sadar kalau sungai bukan cuma air yang mengalir, tapi tempat hidup banyak makhluk.
“Kenapa orang buang sampah di sini ya?” tanyaku.
“Karena banyak orang belum sadar pentingnya sungai, maka kita harus menjaga sungai, dengan membuang sampah pada tempatnya dan menanam pohon di sekitar bantaran sungai.” jawab Pak Nur Khoriri.
Setelah itu, Pak Jasmani selaku Korsda Rogojampi memberitahu kegiatan selajutnya adalah menanam pohon di tepi sungai. Aku dapat bibit pohon sukun. Aku menancapkan papan kecil bertuliskan namaku di samping pohon itu.
“Ini pohonmu, rawatlah agar suatu hari bisa memberi manfaat.” kata Pak Jasmani.
Aku tersenyum. “Aku janji akan merawatmu,” bisikku pada pohon kecil itu.
Kami juga belajar tentang ekosistem sungai. Pak Jasmani menunjukkan serangga kecil yang hanya bisa hidup di air bersih.
“Kalau serangga ini ada di sungai, berarti airnya sehat,” katanya.
Aku jadi tahu kalau sungai punya banyak tanda-tanda kehidupan.
Khaira berkata, “Kalau sungai bersih, kita bisa main di sini dengan senang.”
Aku tersenyum, “Betul, pasti seru sekali.” jawabku
Tapi ada hal yang bikin aku marah. Di satu sudut sungai, kami menemukan banyak sekali sampah: botol, kantong plastik, bahkan sandal bekas.
“Kasihan ya sungainya,” kataku.
“Betul, kalau kita tidak merawat, sungai akan kotor. Tapi kalau kita mau peduli, sungai bisa jadi sehat kembali” kata Pak Jasmani.
Di akhir kegiatan, kami duduk melingkar di tepi sungai. Pak Jasmani memberi kertas kecil dan berkata, “Tuliskan harapan kalian untuk sungai ini.”
Aku menulis: “Aku ingin sungai ini bersih, bebas sampah, dan jadi tempat bermain anak-anak.”
Khaira membaca harapanku. “Aku juga ingin begitu. Bayangkan kalau kita bisa berenang di sini tanpa takut kotor, pasti seru.” Kata Khaira sambil melirik ke kertasku
Aku tersenyum. “Tentu itu pasti menyenangkan.” jawabku
Sejak ikut Sekardadu, aku mulai berubah. Aku tidak buang sampah sembarangan lagi. Kalau ada teman mau buang sampah sembarangan, aku bilang, “Jangan, nanti sungai kita jadi kotor.” Kadang mereka tertawa, tapi lama-lama mereka ikut peduli.
Dan setiap kali aku lewat Sungai Concrong, aku selalu melihat pohon sukun yang kutanam. Sekarang daunnya mulai tumbuh, batangnya makin kuat. Aku merasa pohon itu tumbuh sesuai harapanku. Aku berkata pelan, “Tumbuhlah kuat, pohon kecil. Bersama kamu, sungai ini akan tetap hidup.”
Program Sekardadu membuatku sadar: sungai adalah sahabat kita. Kalau kita merawatnya, sungai akan memberi kehidupan. Kalau kita merusaknya, sungai akan membawa bencana. Aku percaya, kalau semua anak ikut menjaga sungai, masa depan kita akan lebih baik.
Aku punya harapan besar. Aku ingin Banyuwangi terkenal bukan hanya karena pantai dan gunungnya saja, tapi juga karena sungai-sungainya yang bersih. Aku ingin Sekardadu terus ada, supaya banyak anak belajar mencintai sungai. Dan ingin suatu hari nanti, sungai-sungai di Banyuwangi jadi jernih, penuh ikan, bebas sampah dan jadi tempat wisata. Anak-anak bisa bermain di tepi sungai dengan gembira, dan pohon-pohon yang kami tanam tumbuh besar membuat udara sejuk. Aku ingin orang dewasa pun ikut menjaga sungai dan mengajarkan anak-anak mencintai alam. Aku berharap Sekardadu terus berjalan agar semakin banyak teman ikut merawat sungai. Harapan terbesarku, sungai tetap hidup, mengalir, dan menjadi sahabat kita semua. (*)
Editor : Ali Sodiqin