Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Rapor yang Tergenang: Catatan Tak Terlihat dari Nadi Spengaba

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Kamis, 19 Maret 2026 | 02:30 WIB

Oleh: Cindy Aulia Puspita Sari, Siswa SMPN 3 Banyuwangi, Juara 1 Kompetisi Menulis Sekardadu 2026
Oleh: Cindy Aulia Puspita Sari, Siswa SMPN 3 Banyuwangi, Juara 1 Kompetisi Menulis Sekardadu 2026

RADARBANYUWANGI.ID - Sejujurnya, aku selalu mengira nilai terbaikku hanya tersimpan rapi di dalam buku rapor yang kuterima tiap akhir semester. Ternyata, sejak program SEKARDADU (Sekolah Rawat Daerah Aliran Sungai di Banyuwangi) masuk ke SMP Negeri 3 Banyuwangi, aku baru sadar kalau ada "buku besar" lain yang jauh lebih jujur, sekaligus lebih kejam dalam menilai siapa kita sebenarnya.

Buku itu letaknya tepat di depan pagar masuk sekolah kami, sungai namanya. Aliran airnya yang hitam pekat seperti oli bengkel, dan bermacam varian sampah plastik itu seolah menjadi cermin retak yang memantulkan wajah asli kita di hadapan alam.

Photo
Photo

Pikiranku sempat buntu saat pertama kali berdiri di tepiannya. Bau busuk yang tercium seperti campuran lumut tua dan bungkus plastik puluhan tahun itu tidak sekadar tercium, tapi seolah membisikkan sesuatu yang pahit tepat di telingaku, "Inilah nilai kalian yang sebenarnya."

Dulu, aku cuma menganggap SEKARDADU itu singkatan keren buat pajangan di spanduk atau sekadar laporan formal ke Dinas Pengairan.  Bahkan, aku sempat terpikir untuk pura-pura sakit di UKS supaya tidak perlu turun ke air. Aku salah besar. Baru setelah aku benar-benar terjun dalam aksi nyata melalui program inovasi AKTA SAS (Aksi Nyata Sekolah Asuh Sungai), sudut pandangku berubah total.

Aku ingat rasanya ketika tanganku merogoh lumpur pekat yang lengket hanya untuk menarik satu kemasan detergen plastik yang sudah membatu di dasar sungai. Rasanya sulit sekali, seperti sedang mencabut stiker lama di buku diary. Bagiku, setiap kilogram sampah yang kami angkat bukan sekadar limbah mati. Di Spengaba, itu adalah cara kami memperbaiki nilai yang selama ini membutuhkan remidial di mata alam.  Tanpa SEKARDADU, mungkin aku akan lulus sebagai siswa yang pintar menjawab soal ujian, tapi gagal menjadi manusia karena buta pada derita air di depanku.

Dramanya mencapai puncak saat badai melanda Banyuwangi minggu lalu. Air sungai naik begitu cepat bagaikan hari minggu beranjak ke senin, warnanya cokelat pekat, bahkan suara bel dari ruang guru pun kalah keras dengan suara gemuruh air waktu itu. Gelombang air itu membawa sampah kiriman yang seolah sedang membalas dendam pada kita.

Di bawah guyuran hujan yang membuat seragamku basah kuyup, aku merasakan kaos kakiku mulai basah dan mengeluarkan bunyi cepot-cepot setiap kali melangkah. Ditambah lagi, kulitku mulai terasa gatal, membuatku ingin segera lari pulang ke rumah untuk mandi air hangat. Aku melihat teman-temanku berkelahi melawan arus demi menjaga jaring penahan kami agar tidak jebol. "Kita tidak mungkin menang melawan arus ini! Semuanya sia-sia!" teriak salah seorang temanku di tengah suara gemuruh hujan.

Aku terdiam sejenak. Aku melihat seragam putihku yang berubah warna menjadi cokelat lumpur, beratnya terasa seperti menggendong tas berisi buku paket lima mata pelajaran sekaligus. Di situlah aku merasa kekuatan SEKARDADU benar-benar diuji. Ini bukan cuma soal membersihkan sungai, tapi soal janji. Aku menjawabnya dengan suara serak yang hampir habis, "Kita tidak sedang melawan air! Kita sedang mempraktikkan SEKARDADU yang sesungguhnya! Kita lagi melawan rasa malas yang bikin kita jadi manusia tidak berguna!" Sampah-sampah yang kami kumpulkan dengan keringat itu tidak kami buang lagi ke tempat lain.

Lewat program inovasi LAKU RIKO (Olah Sampahku, Lestari Sekolahku), kami melakukan hal yang di luar logika biasa. Kami ambil plastik-plastik kotor itu, kami olah, dan kami paksa mereka bertransformasi jadi barang bermanfaat yang sekarang menghiasi sekolah kami. Inilah makna SEKARDADU, kami tidak membuang masalah, tetapi kami mendidiknya kembali sampai dia jadi sesuatu yang indah. Sekarang, tiap kali aku berdiri di jembatan itu, aku tidak lagi menutup hidung dengan rasa jijik.

Aku melihat air sungai mulai mengalir lebih bebas, tatapannya lebih jernih. SEKARDADU bukan lagi sekadar program lingkungan bagiku, tapi sudah jadi sumpah setia. Sumpah untuk jadi siswa yang tidak cuma cerdas di atas kertas rapor, tapi juga bersih di dalam nurani. Aku tidak lagi peduli soal piala atau pujian pemerintah. Bagiku, piala yang sesungguhnya adalah saat aku menoleh ke belakang dan melihat sungai itu kembali bernapas.  Ternyata, sekolah yang hebat itu adalah yang berani merawat nadinya sendiri. Dan melalui SEKARDADU, nadi Spengaba kini kembali berdenyut dengan martabat yang baru. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#sekardadu #Merawat Sungai