Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Merawat Sungai dari Ruang Kelas

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Kamis, 19 Maret 2026 | 01:30 WIB

Oleh: Nafa Brian Janata, Mahasiswa Universitas PGRI Banyuwangi. Juara 1 Kompetisi Menulis Sekardadu 2026
Oleh: Nafa Brian Janata, Mahasiswa Universitas PGRI Banyuwangi. Juara 1 Kompetisi Menulis Sekardadu 2026

RADARBANYUWANGI.ID - Bisakah sungai menjadi ruang belajar bagi siswa? Pertanyaan ini mungkin terdengar tidak biasa, sebab sungai lebih sering dipakai sebagai tempat kerja bakti daripada ruang belajar. Ketika sungai kotor, solusinya biasanya sederhana: bersihkan. Namun, sungai yang dibersihkan hari ini kerap kembali tercemar esok hari. Di titik inilah muncul pertanyaan yang lebih mendasar, apakah persoalannya hanya pada sampah di sungai, atau pada cara kita memandang lingkungan itu sendiri?

Banyak orang yang menganggap merawat lingkungan berarti harus turun langsung membersihkan sungai atau menanam pohon. Kegiatan itu penting, tetapi sering kali dampaknya tidak bertahan lama. Merawat sungai tidak cukup hanya dengan aksi lapangan, tetapi perlu dimulai dari kesadaran yang dibangun di ruang kelas. Di sinilah peran guru dan sekolah menjadi strategis, bukan hanya mengajarkan teori lingkungan, tetapi menanamkan cara pandang ekologis.

Photo
Photo

Dalam konsep Education for Sustainable Development (ESD) yang diperkenalkan UNESCO, pendidikan lingkungan tidak berhenti pada aksi fisik seperti kerja bakti, membersihkan sungai atau menanam pohon. Yang lebih utama adalah membangun kesadaran, nilai, dan cara berpikir siswa terhadap lingkungan. Tanpa perubahan pola pikir, aksi nyata sering hanya menjadi kegiatan seremonial yang dampaknya tidak bertahan lama.

Di sinilah gagasan menjadikan sungai sebagai ruang kelas menemukan  relevansinya. Sungai tidak lagi dipandang sekadar objek yang dibersihkan, tetapi sebagai sumber belajar. Ketika siswa belajar dari sungai, mereka memahami penyebab pencemaran, dampak kerusakan, dan hubungan manusia dengan air. Pada saat itulah kesadaran ekologis mulai terbentuk. Proses inilah yang menjadi inti dari pendidikan keberlanjutan. Pembelajaran dapat dimulai dari langkah sederhana. Ajak siswa mengamati kondisi sungai, mencatat jenis sampah yang ditemukan, lalu diskusikan penyebabnya di kelas. Pada titik itulah sungai berubah fungsi, bukan sekadar dibersihkan, tetapi dibaca dan dipelajari seperti buku terbuka tentang lingkungan.

Gagasan ini bukan sekadar teori. Di Banyuwangi, pendekatan menjadikan sungai sebagai ruang belajar mulai diterapkan di sekolah. Berdasarkan laporan Kabar Banyuwangi (2025), hingga kini tercatat 110 sekolah dasar, 36 sekolah menengah pertama, dan 15 sekolah menengah atas terlibat dalam Sekardadu (Sekolah Rawat Daerah Aliran Sungai). Data ini memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan mulai diintegrasikan dalam proses belajar. Di tengah krisis lingkungan dan ancaman air bersih saat ini, pendidikan seperti ini bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.

Dari ruang kelas yang terhubung dengan realitas lingkungan, siswa tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengerti mengapa itu penting. Sungai yang bersih tidak lahir dari satu hari kerja bakti, tetapi dari generasi yang dibesarkan dengan cara pandang yang bersih terhadap lingkungan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#sekardadu #Merawat Sungai