Banyuwangi, Bau menyengat itu dulu akrab dengan sungai. Plastik mengambang, air menghitam, dan orang-orang menutup hidung saat melintas. Sungai yang semestinya menjadi sumber kehidupan justru mencerminkan kelalaian bersama. Akan tetapi, pemandangan tersebut perlahan berubah.
Sejak 2022, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan meluncurkan program Sekolah Rawat Daerah Aliran Sungai (Sekardadu). Dilansir dari banyuwangikab.go.id, Sekardadu merupakan program kolaboratif lintas sektor guna menumbuhkan kepedulian pelajar dari semua jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi serta pondok pesantren, terhadap kebersihan sungai melalui keterlibatan langsung di lingkungan sekitar.
Sejatinya, masalah sungai bukan sekadar sampah yang tampak, melainkan cermin dari kebiasaan manusia. Pasalnya, apa yang dibuang hari ini akan kembali sebagai dampak esok hari. Ironisnya selama bertahun-tahun, penanganan pencemaran cenderung reaktif, sungai kotor dibersihkan, lalu dibiarkan kembali tercemar. Berbeda dengan pola tersebut, Sekardadu hadir dengan pendekatan preventif. Alih-alih memperbaiki yang sudah rusak, program ini bergerak dari hulu persoalan dengan membangun kesadaran generasi muda sejak dini.
Guru Adiwiyata MTsN 1 Banyuwangi, Inun Fitriyani, menilai Sekardadu bukan sekadar aksi pungut sampah, melainkan gerakan yang mengedepankan pendidikan karakter sebagai fondasi perubahan. Siswa tidak serta-merta turun membersihkan sungai, melainkan dibekali pemahaman dasar tentang lingkungan terlebih dahulu. “"Kami tidak hanya bergerak secara fisik, tetapi juga mempelajari siklus air, ekosistem sungai, hingga dampak polusi terhadap biota air,” ungkapnya.
Lebih jauh, Inun menekankan bahwa orientasi Sekardadu mendorong perubahan pola pikir peserta didik terhadap lingkungan. Ia menyebut keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya sampah yang terkumpul, melainkan dari tumbuhnya kesadaran untuk tidak mengulang kebiasaan yang sama. “Sekardadu bukan hanya tentang membersihkan air dari sampah, tapi tentang membersihkan mentalitas kita dari sikap acuh tak acuh terhadap alam,” tegasnya.
Hal senada disampaikan siswa MTsN 1 Banyuwangi, Dini Aulia Azzahra. Ia mengaku alami perubahan cara pandang setelah mengikuti kegiatan Sekardadu. “Saya jadi tahu bahwa menjaga daerah aliran sungai itu sangat penting dan bisa dimulai dari hal kecil, seperti menanam pohon,” ujarnya.
Sejalan dengan pengakuan tersebut, Sekardadu tidak berhenti pada pemahaman semata, melainkan mengarahkannya pada aksi nyata. Siswa menanam pohon untuk meningkatkan daya resap tanah dan mencegah erosi, melepas ikan guna memulihkan habitat, serta membersihkan sungai sebagai wujud tanggung jawab bersama.
Tidak berhenti pada lokasi kegiatan, dampaknya mulai terlihat di lingkungan sekolah. Menurut Inun, perubahan kebiasaan tampak dari siswa yang membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta saling mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Perubahan ini menunjukkan pergeseran perilaku yang tidak lagi bersifat sesaat.
Di sisi lain, pendekatan ini berorientasi pada pencegahan, bukan sekadar penanganan dampak. Berbeda dengan normalisasi dan pengerukan yang berfokus pada kondisi sungai, Sekardadu menempatkan kebiasaan sebagai akar persoalan. Melalui sekolah, kesadaran jangka panjang dibangun agar pencemaran tidak terus berulang.
Dengan demikian, sungai yang semula mencerminkan kelalaian perlahan merefleksikan kesadaran baru. Kini, sekardadu membuktikan bahwa perubahan lahir dari pendidikan yang konsisten serta diperkuat melalui praktik berkelanjutan. (*)
Editor : Ali Sodiqin