Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketika Nastar Menjadi Bahasa Maaf

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Rabu, 18 Maret 2026 | 05:00 WIB

Oleh: H Asmu’i Syarkowi, Hakim PTA Banjarmasin tinggal di Pandan, Kembiritan, Genteng
Oleh: H Asmu’i Syarkowi, Hakim PTA Banjarmasin tinggal di Pandan, Kembiritan, Genteng

Di antara berbagai hidangan yang tersaji saat Hari Raya Idul Fitri, ada satu kue kecil yang hampir tidak pernah absen dari meja tamu kaum Muslimin di Indonesia: nastar. Kue berbentuk bulat kecil berisi selai nanas ini telah lama menjelma menjadi hidangan khas lebaran, bahkan seolah menjadi “menu wajib” yang hadir di hampir setiap rumah. Toples-toples kaca yang berisi nastar biasanya disusun rapi di ruang tamu, berdampingan dengan kue-kue lain, menunggu tangan-tangan para tamu yang datang bersilaturahmi. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap hidangan, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi sosial yang menyertai kegembiraan hari raya.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, dapur-dapur rumah tangga Muslim pun biasanya mulai hidup dengan aroma khas: mentega yang meleleh, adonan kue yang dipanggang, dan deretan toples yang perlahan terisi. Di antara berbagai hidangan itu, nastar hampir selalu hadir sebagai primadona. Namun sebenarnya, nastar di meja tamu bukan sekadar suguhan. Ia sering kali menjadi bahasa tanpa kata, sebuah simbol keramahan, penerimaan, dan bahkan permohonan maaf.

Photo
Photo

Ketika seseorang datang berkunjung di hari raya, lalu dipersilakan duduk dan disuguhi hidangan, di situlah percakapan hati dimulai. Tangan berjabat, senyum merekah, dan kalimat yang hampir selalu terucap: “Mohon maaf lahir dan batin.” Pada saat itulah, nastar seolah berubah menjadi bahasa maaf—bahasa yang memperhalus perjumpaan manusia setelah perjalanan panjang Ramadan.

Padahal, sebelum kue itu tersaji di meja tamu, ada begitu banyak aktivitas yang mendahuluinya. Orang-orang membersihkan rumah, mengecat dinding yang kusam, menata ruang tamu, membeli pakaian baru, serta menyiapkan aneka hidangan. Semua itu sering dilakukan dengan penuh kesibukan dan kelelahan. Akan tetapi, di balik aktivitas tersebut tersimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tradisi tahunan.

Dalam perspektif spiritual, semua persiapan menjelang lebaran pada hakikatnya merupakan upaya memperindah dua dimensi hubungan manusia: hubungan dengan Allah (ḥablun minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (ḥablun minannas).

Membersihkan rumah, misalnya, dapat dimaknai sebagai simbol membersihkan hati setelah sebulan menjalani latihan spiritual di bulan Ramadan. Rumah yang rapi dan bersih seakan menjadi cerminan dari jiwa yang ingin kembali kepada kesucian. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”(QS. Al-Baqarah: 222)

Ayat ini menunjukkan bahwa kebersihan dan kesucian memiliki nilai yang sangat tinggi dalam Islam. Ulama tafsir besar seperti Ibn Kathir menjelaskan bahwa kesucian yang dimaksud dalam ayat ini tidak hanya terbatas pada kebersihan fisik, tetapi juga kesucian batin. Karena itu, membersihkan rumah menjelang lebaran dapat menjadi simbol dari upaya manusia membersihkan hati dari dosa dan kesalahan.

Demikian pula dengan hidangan lebaran. Kue-kue yang tersaji, termasuk nastar, bukan hanya sekadar suguhan kuliner. Ia merupakan bentuk kegembiraan dalam menyambut tamu dan mempererat tali silaturahmi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menyambut tamu dengan baik, menyediakan hidangan, dan menciptakan suasana yang hangat merupakan bagian dari akhlak yang dianjurkan dalam Islam. Ulama besar seperti Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa memuliakan tamu dan menjaga hubungan sosial merupakan bagian dari akhlak yang memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat.

Tradisi membeli atau mengenakan pakaian baru di hari raya juga memiliki makna simbolik. Ia bukan sekadar soal penampilan, melainkan bentuk ekspresi syukur atas nikmat Allah dan tanda pembaruan diri setelah menjalani ibadah Ramadan. Menurut penjelasan Al-Nawawi, dianjurkan bagi seorang Muslim untuk mengenakan pakaian terbaik pada hari raya sebagai bentuk penghormatan terhadap hari yang mulia tersebut.

Namun semua aktivitas itu hanya akan bermakna jika dilandasi niat yang benar. Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sebuah hadis yang sangat terkenal: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan pelajaran bahwa pekerjaan yang tampaknya sederhana dan duniawi pun dapat bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah. Membersihkan rumah bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk menyambut tamu dengan baik. Menyiapkan hidangan dapat menjadi amal saleh jika diniatkan untuk memuliakan orang lain. Bahkan menyuguhkan sepotong nastar pun bisa bernilai pahala apabila diniatkan sebagai sarana silaturahmi.

Sebaliknya, tanpa penghayatan spiritual, semua aktivitas menjelang lebaran berpotensi kehilangan maknanya. Kesibukan yang seharusnya menjadi sarana ibadah justru dapat berubah menjadi ajang pamer, pemborosan, atau bahkan kompetisi sosial yang tidak sehat. Padahal Allah SWT telah mengingatkan:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”(QS. Al-A’raf: 31)

Karena itu, yang perlu dijaga bukan sekadar kemeriahan lebaran, melainkan maknanya. Semua aktivitas menjelang hari raya—membersihkan rumah, menyiapkan makanan, hingga mengenakan pakaian terbaik—seharusnya menjadi bagian dari perjalanan spiritual untuk menyempurnakan dua hubungan utama manusia: dengan Allah dan dengan sesama.

Di situlah makna terdalam dari tradisi lebaran. Di balik toples-toples nastar yang tersaji di ruang tamu, sebenarnya terbuka sebuah pintu yang sangat berharga: pintu maaf. Melalui silaturahmi, manusia belajar menundukkan ego, mengakui kesalahan, dan memperbaiki hubungan yang mungkin sempat retak.

Akhirnya, nastar di meja tamu bukan lagi sekadar kue lebaran. Ia menjadi simbol keramahan, jembatan silaturahmi, dan bahasa maaf yang menyatukan hati. Dan jika semua itu disertai niat yang tulus, maka setiap aktivitas kecil menjelang lebaran—bahkan sekadar menyajikan sepotong kue—dapat berubah menjadi amal yang bernilai ibadah di sisi Allah. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#idul fitri #nastar