Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ramadan Bulan Pendidikan Keluarga

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:30 WIB

Oleh: Nuchbah Baroroh MPd, Ketua PCA Giri Banyuwangi
Oleh: Nuchbah Baroroh MPd, Ketua PCA Giri Banyuwangi

RADARBANYUWANGI.ID - Keluarga merupakan unit terkecil masyarakat. Maka kalau dari keluarga keluarga ini terpancar kebaikan maka masyarakat hampir pasti dan atau pasti terjadi kebaikan, ketentraman dan kedamaian. Antara suami dan istri serta anak-anak rukun,  ada komunikasi yang sehat, demokrasi serta saling membantu, saling percaya tidak ada curiga, maka itulah bagian keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Puasa Ramadan ini juga bisa menjadi sarana keluarga harmonis.  Sahur bareng dan  berbuka bersama. Kebersamaan akan menimbulkan kenyamanan. Terutama kedua orang tuanya. Allah SWT berfirman dalam QS. 2 ayat 187, ayat di sela-sela syari'at puasa, berbunyi: hunna libaasullakum wa antum libaasullahunn.

Artinya: Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Ungkapan ini menggambarkan betapa dekatnya, betapa tidak ada jarak antara suami dan istri, menempel seperti perangko, tidak ada dusta di antara suami istri.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa pasangan suami istri digambarkan saling melengkapi, saling menenangkan (sakinah) dan saling membutuhkan satu sama lain. Ini menunjukkan juga bahwa suami dan istri saling menjaga kehormatan, menutupi aib, dan melindungi satu sama lain dari perbuatan keji (zina ).

Kesuksesan dan keberhasilan anak-anak banyak ditentukan oleh orang tua yang harmonis, orang tua mesra. Puasa mengajarkan pula rasa berbagi, sepenanggungan, bertanggungjawab, ada rasa iba, sehingga menimbulkan empati. Antara kakak dan adiknya saling menghormati, berbagi tugas ketika ikut membantu pekerjaan orang tua di rumah. Saling berdoa, dungo-dinungo, kata orang Jawa.

Firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 40 dan 41. Orang tua berdoa untuk anak dan keturunannya (nabi Ibrahim): "Robbij 'alni muqiimas salaati wa mindzurriyyati rabbanaa wa taqabbal du'a". Artinya: "Ya, Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, Ya, Tuhan kami, perkenankanlah doaku".

Nabi Ibrahim As sebagai orang tua paham salat adalah kewajiban pertama dan utama. Karena salat mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar.  Dalam QS. Al-Ankabut ayat 45, Allah SWT berfirman yang berbunyi: "Innas shalaata tanha 'anil fahsyaa i wal munkar”. Artinya: sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar".

Salat yang dilaksanakan dengan benar dan baik membuat pelakunya mengingat Allah yang secara langsung mencegah diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Sebagaimana syariat puasa, salat pun melatih untuk jujur, untuk disiplin dan patuh.

Doa Nabi Ibrahim untuk orang tuanya, berbunyi: "Rabbanaghfirlii wa liwalidayya wa lil mu'miniina yauma yaquumul hisab".  Artinya: "Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari kiamat).

Sebagai ciri ciri anak saleh yaitu anak yang mendoakan kedua orang tuanya. Dengan demikian betapa pelajaran puasa di bulan Ramadan ini mampu mendidik keluarga sejahtera, harmonis dan demokrasi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#pendidikan #ramadan #keluarga