Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menjemput Kemuliaan Lailatul Qadar

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Kamis, 12 Maret 2026 | 04:30 WIB

Oleh: llham Wahyudi SE, Takmir Masjid Al-Amin dan Musala Al-Muttaqiin, Perum Villa Sukowidi, Klatak, Kalipuro
Oleh: llham Wahyudi SE, Takmir Masjid Al-Amin dan Musala Al-Muttaqiin, Perum Villa Sukowidi, Klatak, Kalipuro

RADARBANYUWANGI.ID - Lailatul Qadr adalah malam yang sangat mulia di bulan Ramadan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pada malam ini Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3). Pada malam ini pula para malaikat turun membawa keberkahan dan kedamaian hingga terbit fajar. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa agar memperoleh keberkahan Lailatul Qadr.

Keistimewaan Lailatul Qadr dapat dianalogikan seperti ujian penting bagi anak sekolah yang menentukan kelulusan atau masa depan mereka. Walaupun dalam satu tahun terdapat banyak hari belajar, ada satu hari tertentu yang menjadi penentu hasil akhir, yaitu hari ujian. Para siswa tentu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan hasil terbaik. Begitu pula dengan Lailatul Qadr, satu malam yang nilainya luar biasa besar, sehingga umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah agar mendapatkan pahala dan keberkahan yang sangat besar dari Allah SWT.

Salah satu hikmah utama dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadr adalah agar umat Islam tetap istiqomah (konsisten) dalam beribadah sepanjang bulan Ramadan. Jika malam tersebut diketahui secara pasti, kemungkinan besar banyak orang hanya akan bersungguh-sungguh pada malam itu saja. Dengan dirahasiakannya waktu Lailatul Qadr, umat Islam terdorong untuk terus meningkatkan ibadah, khususnya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, sehingga semangat beribadah tetap terjaga dari awal hingga akhir bulan suci.

Oleh karena itu, Ramadan hendaknya dijalani dengan penuh kesungguhan sejak awal hingga akhir. Jangan sampai semangat ibadah hanya terasa di awal Ramadan lalu menurun di tengah perjalanan. Kita diajak untuk terus istiqomah dalam menjalankan shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta memperbanyak doa dan dzikir. Dengan konsistensi tersebut, diharapkan hati kita semakin dekat dengan Allah dan kita berpeluang besar mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadr.

Ketika Ramadan mulai mendekati akhir, umat Islam juga diingatkan untuk menyempurnakan ibadah dengan menunaikan zakat, terutama zakat fitrah. Zakat tidak hanya membersihkan harta dan jiwa, tetapi juga memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat. Melalui zakat, sedekah, dan santunan kepada fakir miskin serta anak yatim, kebahagiaan Ramadan dapat dirasakan oleh semua orang. Inilah wujud nyata bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial.

Pada akhirnya, puncak dari seluruh ibadah Ramadhan adalah datangnya Hari Raya Idul Fitri. Kemenangan sejati bukanlah sekadar mengenakan pakaian baru atau merayakan dengan hidangan istimewa, tetapi kemenangan dalam menundukkan hawa nafsu, memperbaiki diri, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Semoga setelah menjalani Ramadan dengan penuh kesungguhan, kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah, diampuni dosa-dosanya, dan menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#lailatul qadar