RADARBANYUWANGI.ID - Sejarah awal 17 Ramadan (1 Hijriyah), bersamaan dengan turunnya ayat pertama Al-Qur'an, yaitu surat Al-Alaq. Nama surat yang berarti ’segumpal darah’ tersebut bertujuan untuk menunjukkan eksistensi material (jasmaniah) manusia fana, yang hanya menjadi pembungkus rohani, supaya manusia memiliki kesadaran transendental terhadap perwujudan kemanusiaannya.
Membuka Tabir Iqra
Iqra, ketika itu sang nabi baru bangun dari impiannya. Sambil duduk bersila didalam gua hira, kemudian Muhammad dituntun jibril memulai membuka tabir kegelapan matanya sambil mengeja huruf demi huruf untuk merangkai kata dan kalimat.
Kata yang dia baca bukan sekadar rangkaian abjad (huruf), tapi yang beliau rangkai adalah kata yang berisi serpihan pengalaman hidup manusia yang berupa adat istiadat masyarakat yang penuh keterbelakangan.
Ketika itu kehidupan sosial Muhammad dalam ekosistem Arab jahiliah. Sebelum Islam hadir. Kehidupan yang ditandai tanpa ilmu, pengetahuan kebenaran dan wahyu.
Kehidupan masyarakat yang hanya bermuara pada penyembahan berhala, fanatisme kesukuan (ashobiyah) yang tinggi, serta perilaku moral yang merosot seperti kekejaman, riba, dan merendahkan wanita
Kemudian turunlah ayat Al-Qur'an yang pertama, perintah Iqra yang terpatri dalam surat Al-Alaq. Ihwal sejarah perintah membaca untuk membuka tabir kejumudan, ketidakberdayaan, kezaliman, kebodohan, yang sengaja dipelihara oleh para tiran dalam melanggengkan kepentingan dan kekuasaannya.
Bahkan, turunnya ayat tersebut juga menjadi tanda awal Kenabian Muhammad yang memiliki kewenangan mutlak menyebarkan risalah pencerahan peradaban melalui agama Islam ke seluruh jazirah Arab.
Menuju Peradaban
Kemenangan perang badar yang berlangsung pada 17 Ramadlan (2 Hijriah), menandai berakhirnya era jahiliyah (masa pembodohan) dan lahirnya bangunan baru peradaban manusia.
Peristiwa Perang Badar yang bersamaan dengan pelaksanaan kewajiban puasa Ramadan memberi makna pedagogis bagi para sahabat dalam melakukan pertempuran. Karena dalam peperangan tersebut, Rasulullah mengajarkan hakikat perang yang bertujuan berjuang melakukan pembebasan.
Secara kontekstual, Perang Badar bukan meliarkan hasrat keinginan nafsu untuk meraih kemenangan semata. Tapi, peristiwa tersebut memberikan hikmah spiritual dan pranata hukum Islam yang konstruktif.
Karena, melalui pendekatan menahan makan, minum, amarah dan kebencian, kemudian Rasulullah dan para sahabat mampu mencapai derajat kemanusiaan tertinggi.
Maka pembelajaran makna hakikat dari Perang Badar dalam bulan Ramadan merupakan perjuangan jalan suci yang bersifat mempertahankan diri, untuk menegakkan keadilan, menghentikan penindasan, dan bertujuan mencapai perdamaian, bukan untuk pemaksaan agama serta eksperimentasi nafsu kekuasaan. (*)
Editor : Ali Sodiqin