Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Puasa sebagai Pembina Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

Ali Sodiqin • Sabtu, 28 Februari 2026 | 08:00 WIB

Oleh: Ahmad Mawardi, SH Mag, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Giri.
Oleh: Ahmad Mawardi, SH Mag, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Giri.

RADARBANYUWANGI.ID - Alhamdulillah tahun ini kita berjumpa lagi dengan bulan Ramadan. Doa dan harapan kita, semoga Allah SWT memberikan kekuatan fisik dan mental untuk  melaksanakan kewajiban tahunan ini, amin.

Rumah tangga adalah penyatuan karakter yang berbeda, latar belakang keluarga yang berbeda. Mungkin pendidikan yang berbeda, mungkin warna kulit yang berbeda, dan budaya yang berbeda. Sehingga hampir pasti ada keterkejutan kecil, ada ketidakcocokan ketika awal perkenalan dengan kenyataan sekarang.

Lima tahun pertama adalah penyesuaian, asimilasi dari perbedaan perbedaan tersebut. Waktu inilah memerlukan kesabaran memerlukan pengurangan egoisme, memerlukan pendewasaan pribadi masing-masing pasangan. Mengalah lebih baik daripada mempertahankan ego. Karena rumah tangga bukan lomba mencari menang, tetapi mencari ketenangan, harmonis, "sakinah", dan menjunjung tinggi amanah.

Photo
Photo

Betapa indah dan sakralnya ijab qobul antara wali nikah dengan calon pengantin (catin) lelaki. "Angkahtuka wazawajtuka makhtubataka binti... bi mahri ...., halan". Saya nikahkan kamu dengan anak putri saya bernama: ..... dengan maskawin....tunai. Kemudian dijawab oleh catin lelaki "Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bimahril madzkur". Saya terima nikahnya dengan maskawin tersebut  di atas".

Sejak saat itu amanah beralih dari rang tua yang sekian tahun memelihara,  mengasuh, membiayai,  membesarkan,  menjaga keamanannya, dan  tanggungjawab  beralih kepada laki-laki sebagai suami. Amanah dahsyat ini mampu dijalani dengan menghayati dan mempraktikkan kaifiyat puasa. Puasa adalah menahan diri dari hal-hal perbuatan yang negatif, perkataan perkataan yang negatif. Rasulullah bersabda:"Innii shoooim, sesungguhnya aku sedang berpuasa".

Artinya, kalau tingkah laku puasa ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari berumah tangga maka "bantah bantahan", celathu (kata orang Oseng Banyuwangi), padu, bengkerengan, tidak akan terjadi karena saling mengalah. Juga ketika berpuasa dianjurkan memperbanyak berdoa, sebagaimana firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 186, yang berbunyi: "Wa idzaa sa alaka 'ibaadii 'anni fainni qariib ujiibu da'wataddaa 'i idzaa da 'aani falwastajiibuu lii wal yukminuubii la'allahum yar syuduun".

Artinya:  ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-Mu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah-Ku)) dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran". ( QS. Al-Baqarah ayat 186).

Dalam berdoa ada kepasrahan, ada pernyataan kelemahan diri, tetapi juga ada pengharapan, tidak angkuh, tidak egois. Selalu merasa dipantau oleh Allah SWT. Dengan demikian puasa yang dilakukan sesuai dengan syari'at Islam maka akan semakin menimbulkan mawaddah warahmah di antara suami dan istri. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#keluarga sakinah #ramadan #rumah tangga