Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketenangan Pengguna Jalan Diuji Di Traffic Light

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Senin, 16 Februari 2026 | 09:25 WIB
Oleh: SEMILIR ANGIN NUSANTARA, Siswa Kelas XI-5 SMAN 1 Glagah/Pengurus Perkumpulan Jebeng Thulik Banyuwangi.
Oleh: SEMILIR ANGIN NUSANTARA, Siswa Kelas XI-5 SMAN 1 Glagah/Pengurus Perkumpulan Jebeng Thulik Banyuwangi.

RADARBANYUWANGI.ID - Pergerseran lampu traffic light dari merah ke hijau adalah situasi dan tempat favorit saya untuk tersenyum.

Bagaimana tidak, di saat lampu merah berganti hijau, saya kerap melihat dan mendengar suara klakson berulang-ulang, terlihat wajah di balik stir yang melenguh kesal, dan bibir yang mengumpat lantang karena merasa waktunya terbuang sia-sia.

Penyebabnya sederhana, hanya karena suatu kendaraan yang ada di depannya tak kunjung bergerak.

Kira-kira begitulah suasana yang berulang kali saya, atau bahkan kita semua, temui atau alami saat berada di traffic light.

Sejatinya, ketenangan saat memakai jalan dan kepatuhan pada rambu lalu lintas merupakan gambaran kedewasaan dalam mengatur emosi, sekaligus pemahaman mendasar yang wajib dimiliki setiap insan sosial dalam menggunakan jalan.

Percayalah, tidak ada pengendara kendaraan bermotor yang ingin tidur di jalan karena nyala traffic light.

Situasi tidak bergerak atau bergerak lambat tentu memiliki beberapa alasan. Kendaraan di depannya belum bergerak, maupun karena sepersekian detik terlambat melihat perubahan warna lampu traffic light.

Jikapun pengendara yang emosional tersebut merasa terlambat, keterlambatan itu hanya sekian detik atau dalam hitungan menit kecil.

Ketenangan Pengguna Jalan Diuji

Area traffic light adalah ruang publik “yang dihuni” oleh berbagai karakter, kepentingan, serta tingkat kewaspadaan atau keterampilan berkendara.

Dalam situasi lampu merah yang panjang, kemacetan, atau kendaraan di depan yang lambat bergerak, reaksi spontan seperti memperdengarkan klakson secara berlebihan, kesal, atau bahkan mengumpat sering kali muncul sebagai luapan frustrasi.

Pada situasi seperti itu, saya berpendapat bahwa pada titik itulah kualitas ketenangan sebagai pengguna jalan diuji — untuk mampu menahan emosi demi menjaga kenyamanan, keselamatan, serta ketertiban bersama.

Bergerak sangat lambat atau bahkan tidak bergeraknya suatu kendaraan yang ada di depan kita jangan justru membuat kita frustrasi.

Dalam terminologi teori frustrasi-agresi sebagaimana dikemukakan oleh John Dollard, kondisi frustrasi akibat terhambatnya pencapaian tujuan dapat memicu kecenderungan agresif.

Dalam konteks area traffic light, hambatan karena kendaraan di depan tidak bergerak meski lampu sudah hijau menjadi stimulus frustratif yang mudah berubah menjadi perilaku agresif di ruang publik (baca: jalan raya).

Meski teori tersebut terlihat kaku, hakikatnya respons agresif tidak bersifat deterministik, karena dapat dimodifikasi melalui kontrol diri dan norma sosial.

SIM adalah Pengendalian Diri

Kewajiban setiap pengendara bermotor di antaranya adalah memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) sesuai jenis kendaraan yang digunakan.

Prinsip dari SIM adalah pengendalian diri. Hal tersebut bermakna pada pentingnya kemampuan setiap orang yang berkendara untuk mengelola impuls (dorongan sesaat) demi tujuan jangka panjang.

Ketenangan seorang pengemudi yang menyadari bahwa beberapa detik tambahan dalam antrean kendaraan akibat perubahan lampu merah ke hijau memiliki risiko yang jauh lebih kecil dibandingkan potensi kecelakaan akibat terburu-buru dan emosional adalah bentuk kedewasaan sosial.

Saya percaya, norma dan ketenangan yang berulang kali diajarkan oleh guru di SMAN 1 Glagah dapat menjadi aturan diri yang berorientasi pada keselamatan kolektif, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam desain sosiologis, upaya menjaga kadar ketenangan saat di traffic light bertujuan agar kita tidak terjebak pada perilaku semata-mata emosional di jalan raya.

Kita harus memiliki prinsip objektivitas dan mempertimbangkan orang lain. Perilaku tenang dari pengendara kendaraan bermotor tergambarkan pada prinsip rasional instrumental, yaitu didasarkan pada pertimbangan sadar serta efisiensi dalam mencapai tujuan tertentu.

Dengan demikian, pengantri di traffic light memilih menunggu karena menyadari bahwa aturan lalu lintas adalah kaidah bersama demi terciptanya ketertiban, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan.

Tak Sekadar Sikap Moral Individu

Prinsip dari uraian narasi tersebut tentu memerlukan dukungan komitmen bersama. Kesabaran di area traffic light dan ruang publik lainnya bukan sekadar sikap moral individu, tetapi merupakan kompetensi sosial dan psikologis yang menopang keselamatan bersama.

Ketenangan mencerminkan kemampuan seseorang dalam mengelola frustrasi, mengendalikan impuls, serta menempatkan kepentingan bersama di atas emosi sesaat.

Di tengah kepadatan jalan raya yang semakin kompleks, ketenangan adalah model tanggung jawab sosial yang paling dasar, namun sangat menentukan.

Sebagai penutup, beberapa hari lagi umat Islam akan menjalani ibadah puasa Ramadan. Mungkin akan banyak orang yang “berebut” untuk sampai tujuan. Aturlah waktu sebaik mungkin, dan tetaplah tenang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#pengguna jalan #ketenangan #traffic light