Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tren Makeup di Sekolah: Ekspresi Diri dan Tantangan Psikologis di Dunia Pendidikan

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Selasa, 27 Januari 2026 | 09:30 WIB
Oleh: Siti Yuliyanti, Mahasiswa Pasca Sarjana – Program Studi Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang
Oleh: Siti Yuliyanti, Mahasiswa Pasca Sarjana – Program Studi Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang

DI ERA Gen Z, makeup bukan hanya dandan biar cantik tetapi juga sudah jadi bagian dari vibes, identitas diri, dan cara mereka mengekspresikan kepribadian. Dari no-makeup makeup look sampai blush on dempul aesthetic, semuanya muncul sebagai tren yang ikut meramaikan lorong sekolah. Namun, di balik warna-warna pastel cushion dan highlighter yang glow-nya sampai kelihatan dari jauh, ada dinamika psikologis yang sering tidak disadari.

Buat sebagian siswa, makeup itu self-expression. Ibaratnya, wajah adalah "kanvas" untuk menunjukkan mood hari itu. Lagi pengen tampil fresh? Tinggal pakai tinted sunscreen dan lip balm warna peach. Lagi pengen terlihat lebih bold? Masukin eyeliner tipis-tipis atau ombre lips.

Makeup juga sering jadi cara untuk meningkatkan kepercayaan diri. Banyak siswa merasa lebih siap menghadapi hari kalau wajahnya sudah on, meskipun cuma dipoles sedikit. Sensasinya kayak "Oke, aku siap presentasi di kelas!" atau "Ayo foto bareng bestie setelah jam sekolah!".

Sayangnya, tren makeup di sekolah juga kadang membawa tekanan sosial tersendiri. Ada yang jadi merasa kurang kalau datang tanpa makeup, ada yang membandingkan dirinya dengan teman yang selalu tampil glowing, atau merasa tidak pede kalau kulitnya lagi breakout. Media sosial (terutama TikTok dan Instagram) kadang memperparah, karena algoritma penuh dengan konten get ready with me, filter super halus, dan review produk yang membuat kita lupa kalau wajah asli tiap orang berbeda. Akhirnya, pengaruh tekanan sosial ini bisa memicu stres kecil-kecilan, seperti: takut diejek kusam atau tidak terawat, merasa harus selalu tampil sempurna, dan membeli produk hanya karena ikut tren, bukan karena kebutuhan.

Beberapa sekolah punya aturan soal makeup; ada yang longgar, ada yang super ketat. Ini bukan tanpa alasan. Sekolah ingin memastikan fokus utama siswa tetap pada belajar, bukan sekadar penampilan. Jadi, tantangannya adalah: bagaimana tetap bisa berekspresi tanpa mengabaikan aturan?.

Makeup natural bisa jadi solusi. Tinted sunscreen, bedak tipis, dan lip balm warna soft biasanya aman dan tetap terlihat fresh tanpa berlebihan; yang penting tahu kapan harus full vibes dan kapan harus calm down. Makeup bisa membawa positive boost, seperti rasa percaya diri dan mood yang lebih baik. Namun, bisa juga berdampak negatif kalau sudah masuk zona harus selalu tampil cakep.

Beberapa hal yang perlu disadari adalah self-worth bukan ditentukan dari seberapa flawless makeup kita, kulit berjerawat bukan masalah besar karena semua manusia pernah mengalaminya, mengikuti tren boleh, tapi jangan sampai menghilangkan jati diri.

Hal yang paling penting adalah cintai diri sendiri dulu sebelum mencintai blush on, karena penting buat kita sadar kalau aturan sekolah tentang tidak pakai makeup bukan bermaksud merusak kebebasan siswa, tetapi justru untuk tetap fokus belajar, tidak terjebak tekanan sosial soal penampilan, dan suasana sekolah tetap rapi serta nyaman buat semua. Serta ingat, kamu tetap berharga meski tanpa cushion, blush, atau lip tint.

Glow boleh, tapi mental harus tetap on!

Editor : Lugas Rumpakaadi
#pendidikan #makeup #tren #sekolah #Gen Z