BERAPA kali kita tertarik mencoba sesuatu hanya karena melihatnya di media sosial?
Entah itu makanan yang sedang viral, tempat nongkrong baru yang ramai dibicarakan, gaya pakaian tertentu, sampai gaya hidup “produktif” ala influencer yang bangun pagi, olahraga, bekerja seharian, lalu tetap punya waktu untuk healing.
Tanpa kita sadari, media sosial hari ini bukan lagi sekadar ruang hiburan atau tempat berbagi, melainkan ruang yang perlahan membentuk cara kita memandang hidup dan cara kita menjalaninya.
Setiap hari, kita disuguhi potongan kehidupan orang lain.
Awalnya hanya sekadar melihat, lalu membandingkan, dan lama-kelamaan muncul keinginan untuk ikut mencoba, ikut memiliki, atau ikut menjalani hal yang sama.
Keinginan itu sering kali bukan muncul karena kebutuhan mendesak, melainkan karena rasa takut tertinggal atau merasa hidup sendiri “kurang menarik” jika dibandingkan dengan apa yang tampak di layar.
Di tengah arus tersebut, influencer memegang peran yang sangat besar.
Mereka tidak hadir sebagai pengiklan yang kaku dan terang-terangan, melainkan sebagai “teman di layar”.
Mereka berbagi cerita dengan gaya santai, menggunakan bahasa sehari-hari, dan menampilkan keseharian yang tampak dekat dengan realitas audiens.
Padahal, apa yang ditampilkan sering kali sudah melalui proses kurasi, penyaringan, dan perencanaan yang sangat rapi.
Justru karena terlihat akrab dan apa adanya, pengaruh mereka terasa jauh lebih kuat dibanding iklan konvensional.
Apa yang dipakai, dilakukan, atau dipromosikan influencer sering kali langsung dianggap layak untuk ditiru.
Kita tidak merasa sedang dibujuk atau diarahkan, melainkan merasa sedang diberi referensi.
Dari sinilah pengaruh bekerja secara halus.
Kita tidak dipaksa membeli atau mengikuti, tetapi pelan-pelan diyakinkan bahwa itulah pilihan yang tepat, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang “wajar” untuk dilakukan.
Dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang membeli barang, mengikuti tren, atau mengadopsi gaya hidup tertentu bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena ingin merasakan pengalaman yang sama seperti yang ditampilkan di media sosial.
Berdasarkan laporan We Are Social (2024) menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna media sosial di Indonesia mengaku pernah terpengaruh konten influencer dalam mengambil keputusan konsumsi.
Fakta ini menegaskan bahwa pengaruh media sosial bukan sekadar asumsi, melainkan realitas sosial yang nyata.
Masalahnya, media sosial hampir selalu menampilkan versi hidup yang sudah disaring dan dipoles.
Hidup terlihat rapi, estetik, produktif, dan bahagia terus-menerus, seolah tidak ada lelah, gagal, atau hari buruk.
Konten semacam ini terus berulang dan tanpa sadar membentuk standar baru tentang “hidup yang ideal”.
Ketika standar tersebut dianggap normal, kehidupan nyata yang penuh keterbatasan sering kali terasa kurang.
Muncul perasaan tidak cukup produktif, tidak cukup sukses, dan tidak cukup bahagia.
Padahal yang kita bandingkan adalah kehidupan nyata dengan potongan hidup orang lain yang sudah melewati proses seleksi dan edit panjang.
Influencer, mau atau tidak, ikut membentuk standar tersebut.
Apa yang sering mereka tampilkan akan dianggap wajar, bahkan patut dikejar.
Inilah cara media sosial bekerja paling halus bukan lewat perintah, tetapi lewat normalisasi.
Kita tidak disuruh ikut, tetapi merasa tertinggal jika tidak ikut.
Tidak dilarang berbeda, tetapi dibuat takut terlihat “tidak relevan”.
Meski demikian, tidak adil jika influencer sepenuhnya disalahkan.
Banyak influencer yang justru menggunakan pengaruhnya untuk hal positif, seperti mengajak hidup lebih sehat, lebih peduli lingkungan, lebih bijak mengelola keuangan, atau berani membicarakan kesehatan mental.
Dalam banyak kasus, pesan-pesan semacam ini justru lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh figur yang terasa dekat dan dipercaya.
Pada akhirnya, media sosial dan influencer hanyalah alat.
Mereka bisa mendorong gaya hidup konsumtif, tetapi juga bisa menjadi ruang edukasi dan refleksi.
Semua bergantung pada bagaimana kita sebagai audiens menyikapinya.
Tantangan terbesar kita hari ini bukan berhenti menggunakan media sosial, melainkan belajar memanfaatkannya secara sadar agar kita tidak kehilangan kendali atas pilihan hidup sendiri.
Editor : Lugas Rumpakaadi