Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketika Stigma Jadi Epidemi Kedua Setelah HIV

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Senin, 17 November 2025 | 17:50 WIB
Oleh: Salsabila Alya Ramadhani, Mahasiswa Prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Oleh: Salsabila Alya Ramadhani, Mahasiswa Prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

RADARBANYUWANGI.ID - Di era ketika informasi bisa diakses dengan satu sentuhan layar, masih banyak orang yang percaya bahwa HIV adalah penyakit yang harus ditakuti–bukan karena virusnya, tapi karena label sosial yang mengikutinya.

Stigma terhadap HIV/AIDS masih menjadi bayang-bayang yang membuat banyak orang memilih diam, bahkan ketika mereka seharusnya mencari pertolongan.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) memang menyerang sistem kekebalan tubuh, tetapi stigma sosial menyerang lebih dalam pada rasa percaya diri, harga diri, dan harapan hidup seseorang. Banyak yang lupa bahwa HIV bukan sekadar hasil dari perilaku “menyimpang”.

Virus ini bisa menular melalui transfusi darah, jarum suntik tidak steril, hingga proses kelahiran. Namun, masyarakat cenderung menyederhanakan, seolah hanya orang yang “berbuat salah” yang pantas terinfeksi. Inilah akar dari diskriminasi yang membuat ribuan pengidap HIV harus hidup dalam diam.

Di beberapa klinik kesehatan, masih banyak pasien muda yang datang dengan wajah gugup dan mata yang menunduk. Ketakutan mereka bukan hanya terhadap hasil tes, tapi juga terhadap reaksi orang di sekitarnya.

Bayangkan, ketika seseorang ingin memeriksakan diri, ia justru harus berhadapan dengan stigma bahwa dirinya “tidak bermoral”. Akibatnya, banyak yang akhirnya menunda tes, menolak pengobatan, bahkan berpura-pura sehat padahal deteksi dini justru bisa menyelamatkan hidup mereka.

Fakta yang sering terlewat adalah bahwa HIV kini banyak menyerang kelompok usia muda. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sebagian besar kasus baru berasal dari rentang usia 15–24 tahun.

Artinya, HIV bukan lagi isu orang dewasa, melainkan tantangan generasi muda. Namun sayangnya, pembicaraan soal kesehatan seksual dan reproduksi di kalangan remaja masih dianggap tabu.

Di sekolah, topik ini sering disapu di bawah karpet, seolah pengetahuan justru akan “menyimpangkan” anak-anak. Padahal, ketidaktahuan justru adalah pintu pertama menuju risiko.

Contoh nyata ada pada salah satu studi lokal Journal Poltekkes Jakarta, menyebutkan bahwa di tahun 2019, di Indonesia terdapat 9.201 kasus HIV pada remaja usia 15-24 tahun. Bila kita anggap remaja sebagai potensi masa depan bangsa, angka itu bukan hanya statistik itu adalah panggilan untuk bertindak.

Edukasi tentang HIV seharusnya tidak dibungkus dengan rasa takut, tapi dengan pemahaman. Masyarakat perlu tahu bahwa berpelukan, berjabat tangan, atau makan bersama tidak akan menularkan HIV. Virus ini tidak menular lewat udara, air liur, atau sentuhan biasa.

Yang menular justru adalah ketidakpedulian kita. Ketika seseorang dijauhi hanya karena status kesehatannya, kita sedang menciptakan luka sosial yang jauh lebih dalam daripada efek medis dari virus itu sendiri.

Stigma juga membuat banyak penderita kehilangan kesempatan untuk berobat atau bekerja. Padahal, dengan pengobatan antiretroviral (ARV), seseorang yang hidup dengan HIV bisa tetap sehat, produktif, bahkan menjalani hidup layaknya orang lain. Yang mereka butuhkan hanyalah dukungan, bukan penghakiman.

Kita sering lupa bahwa empati adalah bentuk paling sederhana dari pencegahan. Ketika lingkungan menjadi tempat yang aman bagi siapa pun untuk berbicara tanpa takut dihakimi, maka kesadaran akan meningkat, pemeriksaan dini akan meningkat, dan penularan bisa ditekan.

Perang melawan HIV bukan hanya di laboratorium dan rumah sakit, tapi juga di cara kita berpikir dan bersikap.

HIV bukanlah hukuman moral. Ia adalah penyakit yang bisa dicegah, dikendalikan, dandihadapi dengan ilmu serta kasih. Tapi stigma itulah yang membuat banyak orang matidalam kesepian, bukan karena virus, tapi karena merasa tak layak untuk dicintai.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti memandang HIV dengan rasa takut, dan mulai melihat manusia di baliknya. Karena yang mereka butuhkan bukan belas kasihan, melainkan keberanian kita untuk memperlakukan mereka sebagai sesama. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Human Immunodeficiency Virus #AIDS #HIV