Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Spirit Ekonomi Etnis Osing, Belajar Etika Bisnis dari Ujung Timur Jawa

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Sabtu, 13 September 2025 | 01:34 WIB
Oleh: Dr. Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, S.E, M.M
Oleh: Dr. Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, S.E, M.M

RADARBANYUWANGI.ID - Fajar menyingsing di Kabupaten Banyuwangi, ujung timur Pulau Jawa. Di Desa Kemiren, kampung adat suku Osing, aroma kopi hangat menyeruak dari dapur-dapur kayu. Seorang ibu paruh baya bergegas menuju pasar dengan bakul sayuran di tangan. “Harus cepat, biar dapat pembeli pertama,” ujarnya. Bagi masyarakat Osing, bukan sekadar dagangan laku, tetapi juga simbol doa agar rezeki lancar sepanjang hari.

Banyuwangi memang bukan hanya kabupaten di ujung timur Jawa. Ia adalah simpul pertemuan tiga dunia: Jawa, Bali, dan Madura. Di sinilah suku Osing, keturunan Kerajaan Blambangan menjaga identitas budaya sekaligus mengembangkan etika bisnis khas. Dari sawah di kaki Ijen, pelabuhan ikan Muncar, hingga homestay di Kemiren, spirit ekonomi Osing menyatu dalam prinsip: harmoni sosial, ketajaman membaca peluang, dan semangat gotong royong.

Budaya sebagai Fondasi Ekonomi

Sejarah Osing menunjukkan ketangguhan menghadapi perubahan. Dari masa Blambangan, mereka terbiasa menjalin jaringan lintas pulau dengan Bali dan Madura. Keterhubungan ini membentuk identitas sekaligus jejaring dagang yang kuat. Nilai guyub lan rukun yang artinya hidup harmonis dan saling menjaga menjadi pondasi bagi masyarakat Suku Osing. 

Di pasar, pedagang tidak hanya bersaing, tapi saling membantu. Di Desa Kemiren, pengelola homestay bahkan berbagi tamu jika kamar penuh. Prinsipnya sederhana, rezeki adalah milik bersama, asal kita saling jaga. Dari sini terlihat bahwa harmoni bukan sekadar etika sosial, melainkan strategi bisnis yang berkelanjutan.

Nilai lain adalah tanggap ing sasmita, yaitu kepekaan membaca peluang. Ketika pariwisata Banyuwangi mulai tumbuh di awal 2010-an, warga Osing cepat beradaptasi. Rumah disulap menjadi homestay, kopi lokal dikemas ulang dengan label “Kopi Lanang Ijen – 100% Osing”, seni Gandrung dijadikan paket atraksi wisata. Hasilnya, produk sederhana bisa menembus pasar global berkat kualitas dan kejujuran.

Etika Bisnis yang Hidup

Etika Osing berangkat dari prinsip bahwa nama baik lebih berharga daripada harta. “Janji itu hutang,” ujar Bu Sari, seorang petani padi, yang rela mengantar pesanan meski hujan deras. Kepercayaan pelanggan dianggap modal utama, lebih penting daripada keuntungan sesaat.

Selain itu, masyarakat Osing menjual pengalaman, bukan sekadar produk. Homestay tidak hanya menawarkan kamar, tetapi mengajak tamu ikut memasak pecel pitik, belajar bahasa Osing, hingga menari Gandrung. Pendekatan ini membuat wisatawan merasa terlibat dan menjadi duta tak resmi yang mempromosikan desa mereka.

Namun, budaya juga menjadi batas etika. Upacara Seblang atau kebo-keboan tetap dijalankan sesuai tata cara adat, bukan sekadar tontonan turis. Prinsip ini menjaga agar pariwisata tetap otentik dan tidak kehilangan ruh budaya.

Tantangan dan Adaptasi

Meski berkembang pesat, ekonomi bagi Suku Osing menghadapi tantangan. Posisi Banyuwangi yang berdekatan dengan Bali sering membuatnya hanya menjadi “persinggahan”, bukan destinasi utama. Untuk itu, pelaku usaha perlu diferensiasi menawarkan pengalaman budaya otentik yang tidak ditemukan di Bali.

Tantangan lain adalah digitalisasi. Data Disperindag Banyuwangi 2023 menunjukkan baru sekitar 40% UMKM Osing aktif di platform digital. Hambatannya antara lain keterbatasan keterampilan teknologi, akses internet, dan minimnya pengetahuan pemasaran daring. Upaya anak muda seperti Arif, yang membantu ibu-ibu pengrajin menjual produk lewat marketplace, menjadi langkah penting mendorong transformasi.

Regenerasi juga krusial. Yuni, pengrajin batik Gajah Oling generasi ketiga, berinovasi membuat jaket bomber batik agar diminati anak muda. Hasilnya, produknya masuk pasar fashion nasional. Kisah Yuni menunjukkan bagaimana inovasi kreatif menjaga tradisi tetap hidup sekaligus relevan.

Selain itu, infrastruktur desa wisata dan akses modal UMKM masih terbatas. Jalan menuju sentra kopi sering rusak, kredit perbankan sulit dijangkau. Meski program KUR membantu, belum semua pelaku usaha merasakan manfaatnya.

Pelajaran untuk Indonesia

Dari Etnis Osing, ada tiga pelajaran penting untuk ekonomi bangsa. Pertama, budaya bisa menjadi diferensiasi dalam persaingan global. Identitas lokal yang autentik adalah daya tarik yang sulit ditiru. Kedua, jaringan berbasis kepercayaan memperkuat kerja sama lintas wilayah dan sektor. Ketiga, kolaborasi lintas generasi memastikan keberlanjutan ekonomi sekaligus menjaga tradisi.

Etika bisnis Osing mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan tradisi. Justru, ketika tradisi dijadikan fondasi, kemajuan akan lebih kokoh. Banyuwangi adalah bukti nyata: dari desa adat sederhana, lahir spirit ekonomi yang mampu bersaing di era modern.

Senja di Banyuwangi menutup hari dengan cahaya keemasan di atas sawah yang menguning. Suara anak-anak berlatih Gandrung berpadu dengan kesibukan petani dan pedagang. Etika bisnis Osing tetap hidup dan dipertahankan yaitu guyub lan rukun, tanggap ing sasmita, tanggap ing gawe. Semua menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara budaya dan ekonomi adalah jalan menuju kemajuan yang berakar, berkarakter, sekaligus berkelanjutan. (*)

Penulis adalag Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen | Praktisi Keuangan | Penggerak Literasi Ekonomi UMKM Budaya.

Editor : Ali Sodiqin
#osing #Etika Bisnis #ekonomi #banyuwangi