RADEN Ajeng (RA) Kartini dikenal luas sebagai salah satu pahlawan nasional yang secara khusus dikenal sebagai penggerak kesetaraan hak wanita (emansipasi). Beliau berusaha menghapus era diskriminatif, yang cenderung memosisikan pria sebagai insan lebih unggul sehingga memperoleh berbagai fasilitas lebih baik, sedangkan wanita dipandang hanya menempati posisi ibu rumah tangga semata.
Hal tersebut menjadikan wanita sebagai individu yang terbelakang pikiran, karena tidak pernah mendapat posisi maupun fasilitas sebagaimana yang dinikmati kaum pria. Contoh emansipasi yang sangat diperjuangkan oleh Kartini adalah kesetaraan mengenyam pendidikan. Hal ini membantu mengantarkan wanita menuju insan berwawasan luas dan memiliki pandangan kritis serta solutif untuk ikut berpartisipasi membangun bangsa.
Pendidikan merupakan gerbang utama bagi kaum wanita yang dapat dimanfaatkan untuk membangun generasi emas di masa depan. Maka tidak heran apabila wanita saat ini didorong untuk menuntaskan pendidikan setinggi-tingginya. Karena menjadi bekal kelak mendidik puta-putrinya menjadi individu yang lebih sehat dan cerdas.
Di era sekarang, semangat Kartini terus digelorakan oleh kaum wanita dengan berbagai cara, berbagai profesi, dan berbagai media. Dengan tujuan, membawa manfaat serta kemaslahatan bagi sesama wanita.
Sayangnya, beberapa kegiatan tersebut bisa dinilai melebihi norma atau batas kewajaran yang menuai beragam komentar. Bahkan, beberapa menilai masih bisa diterima dengan rasionalisasi versinya masing-masing. Terlebih di era serba bebas ini, membuat wanita yang memiliki kapasitas pendidikan mumpuni bisa saja terperosok ke dalam jurang kehidupan atau bahkan memperoleh simpati, sehingga menuai rasa iba dan dukungan dari beberapa pihak.
Kasus Kartini semacam ini bisa disematkan pada berita yang belakangan ini viral dan menuai beragam penilaian masyarakat. Sampai pada akhirnya memunculkan suatu persepsi yang melebar membuat publik terpecah belah.
Ibu Novi dan Ibu Salsa mencuat namanya di jagat maya, karena perilaku kontroversi mengundang perhatian publik. Keduanya memiliki profesi sama yaitu sebagai guru Sekolah Dasar (SD), yang secara kasat mata bisa dinilai bila mereka merepresentasikan sosok Kartini sebagai seorang wanita dengan cita-cita memajukan prestasi anak didiknya.
Bu Guru Novi mulai dikenal karena tercatat memiliki group band yang membawakan lagu bersifat kritik ditujukan kepada kepolisian Indonesia. Sedangkan Bu Guru Salsa dikenal karena videonya yang dianggap tidak pantas beredar di media sosial. Secara umum, profesi mereka relevan dengan perjuangan Kartini untuk memberikan pendidikan terbaik tanpa memandang sisi gender murid.
Namun, pola perilaku mereka di luar sekolah yang paling menyita publik. Sebagai contoh, mayoritas netizen membela Novi yang menilai sebagai sosok pendidik yang tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga mencurahkan pikiran kritisnya kepada pemerintah menjadi buah bibir di jagad maya. Mereka menyayangkan Novi tidak mendapat pembelaan dari instansi terkait dan justru mengalami pemecatan.
Berbeda dengan Salsa yang membuat konten dengan menonjolkan lekuk tubuh, memperoleh pembelaan dari PGRI, dan masih memperoleh pertimbangan lolos PPPK. Lalu mana yang lebih relevan dengan semangat RA Kartini?
Menilik sejarah, RA Kartini digambarkan sebagai wanita yang lebih menekankan pemikiran kritis melalui surat-surat kepada rekannya di Belanda. Hal inilah yang harus ditekankan kepada wanita di era 5.0 saat ini. Bahwa wanita harus menghasilkan karya dari buah pemikirannya yang kritis, dan bukan menjadikan sensasi sebagai cara memperoleh ketenaran.
Menulis opini dengan menanggapi isu di berbagai bidang dan memberikan masukan positif, adalah salah satu media yang bisa menjembatani wanita menuangkan pikiran kritisnya. Peran media juga berpengaruh pesat saat ini. Karena sesuatu yang viral mudah untuk diangkat sebagai narasumber akan sangat berpengaruh kepada pandangan maupun penilaian masyarakat.
Kasus Novi, terlebih yang dialami Salsa, hendaknya menjadi perhatian kita semua bahwa harus pandai memanfaatkan media yang mudah diakses sebagai wadah menuangkan gagasan kritis dan konstruktif sebagai perwujudan Kartini di era modern. Perkembangan teknologi dan sistem pendidikan, menghasilkan pola pikir yang kreatif saat ini. Namun perlu selektif untuk menuangkan di media, supaya publik tidak salah menilai dan bisa dijadikan panutan untuk Kartini lainnya.
Kritis dan kreatif di media maya boleh, tapi perlu juga menilai patut tidaknya untuk dipublikasikan. Semoga peringatan hari Kartini tidak hanya menjadi ajang berbusana ala Kartini zaman dahulu. Tetapi juga memberikan edukasi kepada generasi mendatang. Agar mereka lebih mampu mengembangkan potensi dirinya ke dalam hal-hal positif, terlebih ketika berselancar di media sosial. (*)
Editor : Ali Sodiqin