Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Islam Rahmatan lil ’Alamiin

Redaksi • Rabu, 26 Maret 2025 | 17:00 WIB
Oleh: FAISOL AZIZ, Pembina Yayasan Darul Ilmi Banyuwangi
Oleh: FAISOL AZIZ, Pembina Yayasan Darul Ilmi Banyuwangi

”DAN tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad SAW), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiya’ :107).

Allah pernah mengutus 124.000 nabi. Di antara 124.000 orang yang pernah diutus itu, 315 di antaranya sebagai rasul yang membawa risalah. Setiap nabi dan rasul diutus kepada bangsa tertentu, dengan bahasa kaumnya dan berlaku dalam masa tertentu.

Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rasul terakhir, sebagai penutup dan penyempurna. Risalah yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad berlaku untuk seluruh manusia (dan jin), sampai akhir zaman.

Maka, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta. Sederhananya, Islam menjadi bentuk kasih sayang Allah kepada setiap makhluk-Nya. Dan Nabi Muhammad SAW menjadi teladan dalam praktik bagaimana mengejawantahkan nilai-nilai rahmat bagi alam semesta itu.

Kasih sayang Allah ini bukan khusus untuk orang-orang yang beriman. Melainkan juga, untuk orang yang tidak atau belum beriman. Bahkan, untuk hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Islam adalah syariat yang berlaku di dunia. Islam memerintahkan umatnya untuk selalu berbuat adil. Dunia ini tempat berbuat. Bukan untuk saling menghakimi, atau saling menilai perbuatan antarmanusia. Rasulullah SAW mengatakan, ”Sesungguhnya amal itu bergantung niatnya”. Dan, manusia tidak akan mampu melihat hati orang lain. Maka, tidak layak manusia menilai hati manusia yang lain.

Bahwa nanti di akhirat akan ada balasan atas perbuatan manusia, itu nanti. Tapi saat di dunia, hubungan kita antarmanusia, antara manusia dengan hewan, tumbuhan dan alam harus berjalan dengan nilai-nilai kasih sayang.

Maka, dalam Islam ada tiga hal, hubungan antara manusia dengan Allah (Tuhannya), antara manusia dengan manusia yang lain, dan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Semuanya harus berjalan dengan harmonis, seimbang, dan produktif. 

Hubungan dengan Allah yang baik, akan direalisasikan ketika ia berhubungan dengan sesama manusia dan alam semesta. Maka, ibadah yang baik akan melahirkan sifat dan sikap yang baik kepada sesama manusia dan alam semesta.

Bahkan dalam situasi yang paling keras sekalipun, yakni dalam perang, Rasulullah mengajarkan untuk tidak membunuh binatang, kecuali untuk dikonsumsi. Merusak tanaman tanpa kebutuhan. Dalam Islam perang lebih pada kebutuhan membela diri, bukan untuk menyebarkan agama. Pada dasarnya memang tidak boleh memaksakan agama (Islam) kepada orang lain, terlebih lagi dengan kekerasan. Tidak sah keislaman seseorang yang masuk Islam dalam keadaan terpaksa. Iman ini urusan hati. Maka, yang dituntut adalah bagaimana seseorang masuk Islam dengan kerelaan hati, atas dasar pemahaman yang baik.

Ketika menyembelih hewan, Rasulullah mengajarkan adab yang baik, dengan pisau yang setajam mungkin, dan diupayakan secepat mungkin agar hewan tidak merasakan tersiksa.

Demikianlah keindahan Islam. Dan, keindahan Islam ini tidak bisa dirusak dengan adanya fitnah dan perilaku sebagian kecil umatnya yang kadang tidak sesuai dengan ajaran Islam sendiri. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#rahmatan lil alamin #nabi #islam