Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ruang Sunyi Iktikaf

Redaksi • Selasa, 25 Maret 2025 | 08:00 WIB
Oleh: MOH. HUSEN, Penulis buku Jejak Kritik. Tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.
Oleh: MOH. HUSEN, Penulis buku Jejak Kritik. Tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.

RAMADAN, bagi banyak orang, adalah soal puasa, tarawih, zakat fitrah, dan yang tak kalah ramai menjadi diam-diam paling diburu adalah momentum malam Lailatul Qadar. Namun, ada satu ibadah yang sering terlupakan atau hanya dilakukan oleh sedikit orang, yakni iktikaf. Diam di masjid. Menyendiri dan sunyi.

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian lama kian gaduh, manusia kerap terperangkap dalam rutinitas yang menenggelamkan rohaninya. Maka, iktikaf hadir menjadi ruang sunyi yang paling dirindukan oleh sebagian orang yang masih ingin akrab dengan dirinya sendiri dan Tuhannya.

Iktikaf mengajak manusia keluar dari keramaian dunia agar manusia bisa lebih mengenal dirinya sendiri. Ia bukan sekadar ”parkir” di sudut masjid belaka, Melainkan mengurai dan merajut kembali simpul-simpul kusut kehidupan kita. Dalam iktikaf tidak ada target, ekspektasi, dan ambisi. Ia nol.

Ia adalah perjalanan batin yang tak bisa diukur dengan langkah kaki. Di ruang sunyi iktikaf, kita masuk ke lorong waktu yang terasa lebih lambat dari biasanya. Kesadaran menjadi peka dan tajam. Setiap desahan nafas terasa berarti, dan ayat-ayat Al-Qur’an menggema lebih dalam dan jernih di hati.

Maka tak heran ada orang iktikaf tiba-tiba terlintas firman Allah: ”Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ’Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian istiqomah (tetap dalam pendiriannya), akan turun para malaikat kepada mereka (seraya berkata), ’Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu’.”

Seorang kiai tatkala ditanya apa makna QS Fusshilat ayat 30 tersebut, beliau menjawab: ”Kamu hendaknya selalu istiqomah menjaga hubunganmu dengan Allah. Terserah, bisa dengan wirid atau apa, yang penting istiqomah. Kelak para malaikat ditugaskan Allah membereskan permasalahanmu. Tapi istiqomah ini berat.”

Orang-orang yang memilih iktikaf, seperti sedang membikin space atau jarak dari dunia. Mereka yang berdiam di masjid, dalam sunyi malam yang hanya ditemani helaian nafas dan hati yang berdzikir, seakan sedang mengembalikan hakikat diri yang lama terlupakan.

Ia adalah ruang belajar tentang keikhlasan, tentang bagaimana menikmati kebersamaan dengan Tuhan tanpa pamrih. Di ruang sunyi itu, kita belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang pencapaian duniawi. Istilah kekiniannya: iktikaf mengajarkan kepada kita seni ”melepaskan” dunia walau hanya sebentar.

Keluar dari ruang sunyi iktikaf, kita seolah dilahirkan kembali, dengan kesadaran baru. Dunia memang tetap bising dan penuh problem, tapi hati kita—semoga—telah lebih lapang, lebih jernih, dan lebih siap menghadapi keramaian dengan ketenangan yang dibawa dari ruang sunyi itu.

Iktikaf menawarkan ruang hening yang merdeka. Sebuah tempat untuk kembali menjadi hamba yang bersahaja. Ia mengingatkan bahwa di balik layar gemerlap dunia, ada sutradara yang berkuasa mengatur semuanya.

Iktikaf merupakan ruang untuk merawat jiwa yang kelelahan oleh dunia. Dan setiap dari kita, sesungguhnya, memerlukan ruang-ruang sunyi: entah di masjid, di rumah, atau bahkan di relung hati kita sendiri.

Mohon maaf, tulisan ini sengaja saya bikin agak serius, supaya ada ruang untuk dikecam: ”Kamu ini sok alim dan menggurui. Emang kamu siapa kok suka menggurui? Lagian, yang kamu tulis ini pengalaman sunyimu di masjid, di rumah, di warung kopi, atau di mana?” (*)

 

Editor : Ali Sodiqin
#puasa #Tarawih #zakat #lailatul qadar #iktikaf #ramadhan