Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ramadan dan Pendidikan: Menanamkan Nilai-Nilai Kemanusiaan pada Generasi Muda

Redaksi • Jumat, 21 Maret 2025 | 09:40 WIB
Oleh: MOHAMAD SOLEH KURNIAWAN SE, Pengurus Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Banyuwangi.
Oleh: MOHAMAD SOLEH KURNIAWAN SE, Pengurus Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Banyuwangi.

BAGAIMANA generasi muda hari ini?

Tulisan ini menjadi tepat diawali dengan pertanyaan di atas. Bagaimana hari ini generasi muda selalu menjadi trending topic yang serius di berbagai media diskusi online maupun tongkrongan kopi. Sebut saja salah satunya menjadi objek perbincangan diskusi hangat di media Kompas.

Secara gamblang disebutkan melalui data dari Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) pada Kementerian Komunikasi dan Informatika, pada 2045 mendatang Indonesia diperkirakan akan mendapatkan bonus demografi. Terbilang jumlah penduduk Indonesia berada dalam usia produktif (15–64 tahun) sebanyak 70 persen. Sementara sisanya berusia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun. 

Tantangan di atas oleh generasi muda harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Sehingga, butuh disiapkan dari waktu ke waktu dengan sistemik menuju impian Indonesia menjadi Generasi Emas 2045. Dan penulis melihat momentum bulan Ramadan tahun ini menjadi awalan yang tepat generasi ini dididik dengan intens.

Kali ini kita semua telah menapaki pada 10 malam terakhir Ramadan. Dan Sang Kekasih dari riwayat Aisyah saat memasuki etape ini mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malam dengan beribadah dan membangunkan keluarganya.

”Pada malam sepuluh terakhir, Rasulullah SAW (lebih) bersungguh-sungguh (untuk beribadah), melebihi kesungguhan pada malam lainnya,” (HR. Muslim).

Sudah barang tentu Rasul pada etape terakhir Ramadan ini mengencangkan ikat pinggang dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, karena sebentar lagi bulan penuh maghfirah (ampunan) ini berkemas meninggalkan kita semua. Kita tidak menginginkan ditinggalkan bulan penuh rahmat kali ini, tanpa mendapatkan pembelajaran yang didawamkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sepanjang bulan suci ini tak lepas, penulis melihat, dan dapat disimpulkan kita sebagai generasi muda diajarkan penuh nilai-nilai kemanusiaan menjadi lebih baik. Setidaknya dapat disebutkan antara lain dengan tiga nilai utama: sabar, empati, dan kejujuran.

Kesabaran

Kata ”sabar” mudah untuk ditulis. Namun faktanya, belum terhitung semua generasi muda dapat melakukannya pada aktivitas sehari-hari. Sehingga, Allah SWT melatih kita dalam sebulan penuh tidak berbuka sebelum waktunya. Pun memaksa semuanya saat imsak dalam menjauhi aktivitas makan dan minum.

Dengan kekuatan modal ajaran kesabaran ini selain menggugurkan dosa-dosa yang ada dalam diri kita. Dan yang paling penting Nabi Muhammad SAW mengatakan fadhilah sabar dapat mendatangkan kemenangan yang diimpikan oleh Umat Muslim.

Setidaknya dari ibadah puasa ini yang terdekat di mata kita adalah menanti buka puasa. Sudah sama berarti momentum ini dengan hadirnya kemenangan setelah kita seharian penuh menahan dahaga dan lapar.

Empati

Secara mudah ”empati” ini melibatkan kemampuan kita dalam mengekspresikan perasaan. Dengan berbagi perasaan antar kita mampu membuka ruang bagi sesama, sehingga menciptakan hubungan lebih dalam.

Generasi muda seyogianya mulai berlatih dari Ramadan ini untuk saling berempati kepada saudara lainnya, terutama pada saudara yang tidak seberuntung kita. Ramadan adalah bulan penuh perjalanan agar terus berempati dan berbagi.

Bayangkan jika setiap generasi muda mampu memahami perasaan orang lain? Konflik yang terjadi karena kesalahpahaman bisa diminimalkan.

Kejujuran

Aspek yang tak kalah penting, menurut penulis yang dapat diambil oleh generasi muda selama sebulan penuh menjalani Ramadan adalah ”kejujuran”. Sebagaimana yang termaktub dalam hadis qudsi:

”Semua amal perbuatan anak adam (manusia) itu untuknya. Kecuali berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya.”

Kita semua berpuasa meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena taat pada perintah-Nya. Hanya kita yang dilatih kejujuran pada bulan penuh rahmat.

Kejujuran memiliki nilai yang tak bisa ditawar-tawar untuk generasi muda saat ini. Meskipun pada praktiknya tidak selalu mudah. Pun berbekal jujur kita bisa ciptakan kehidupan yang jauh lebih bermakna.

Marhaban Ya Ramadan!

Tidak semua generasi muda memetik perjalanan belajar di bulan suci tahun ini. Generasi ini semua produktif, yang terbukti menjadi garda terdepan dalam menghadapi tantangan dan menciptakan kemajuan. Dalam semua sektor yang diharamkan generasi muda hanya sekedar menjadi penonton di ruang perubahan yang kian dinamis

Ramadan menjadi buah tangan bersama untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan di ikhtiar penciptaan masa bonus demografi yang lebih cerah dan bermartabat bagi bangsa ini. Semoga! (*)

Editor : Ali Sodiqin
#generasi muda #empati #kemanusiaan #ramadhan