Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ramadan dan Jajan Lebaran

Redaksi • Kamis, 20 Maret 2025 | 09:35 WIB
Oleh: AHMAD MAWARDI SH MAg, Pengurus MUI Daerah Banyuwangi
Oleh: AHMAD MAWARDI SH MAg, Pengurus MUI Daerah Banyuwangi

RAMADAN sudah separuh lebih berlalu. Tinggal kurang dari separuh lagi. Belum ada persiapan kue-kue Lebaran, ”paran-paran padang”, kata orang Using. Kue-kue persiapan Lebaran belum ada, rumah masih berantakan. Siap atau tidak harus menerima tamu. Adat yang baik bangsa Timur khususnya Indonesia, saling berkunjung di Hari Raya Idul Fitri.

Sah-sah saja mempersiapkan ubo rampe Lebaran, terutama adat kampung menyediakan juga opor ayam atau pun mungkin pecel pitik. Tetapi ada beberapa amalan yang lebih penting dari semua itu, yakni puasa dan tentu saja salat Tarawih kita yang tinggal kurang dari separuh, iktikaf, serta menunaikan zakat fitrah.

Rasulullah bersabda, ”Man shoma Ramadhana imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqaddama min dzambih”, barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan betul-betul mengharapkan pahala dari Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Riwayat Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah RA).

Juga sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam,Man qama Ramadhana imanan wahtisaban ghufiro lahu maa taqaddama min dzambih. Barangsiapa yang salat malam di bulan Ramadan dengan iman dan betul-betul mengharapkan pahala dari Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang lalu”.

Keimanan juga digambarkan dalam firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hadid ayat 4 yang berbunyi, ”Wahuwa ma ’akum ainama kuntum, wallahu bimaa ta'maluuna bashiir.  Artinya, dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

Makna ayat ini adalah Allah Maha Melihat apa yang kita kerjakan. Allah Maha Melihat amal-amal kita yang kita kerjakan, dan akan membalasnya. Allah selalu bersamamu di mana pun kamu berada. Dan yakinlah bahwa Allah selalu menemani kita dalam keadaan apa pun. Bahwa Allah itu dengan kekuasaan-Nya memonitor kita dan kita yakin itu dengan seyakin-yakinnya. Wahtisaban menurut hadis tersebut maknanya: penuh pengharapan; menghitung-hitung atau mengukur; melaksanakan ibadah dengan perasaan riang gembira.

Walaupun, akhir-akhir Ramadan begini biasanya ada ”kemajuan” saf-saf salat Tarawih maupun salat-salat rawatib lainnya. Padahal, malam-malam akhir Ramadan ada yang kita cari dan kita harapkan yaitu malam Lailatul Qadar. Malam seribu bulan, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Qadr ayat 1–4 yang berbunyi: ”Inna anzalnaahu fii laylatil qadr. Wa maa adrooka maa laylatul qadr. Laylatul qadri khoirum min alfi syahrin.  Artinya sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. 

Orang tua-orang tua zaman dulu menandai Lailatul Qadar dengan istilah ”maleman”. Karena diprediksi malam-malam likuran itulah akan dijumpai Lailatul Qadar. Demikian juga malam-malam likuran, kita dianjurkan untuk iktikaf di masjid-masjid. Berdiam diri sambil istighfar, wiridan, dan dzikiran. 

Hal lain yang perlu kita persiapkan adalah zakat fitrah. Zakat fitrah adalah zakat pribadi, zakat semua orang yang pada tanggal 1 Syawal punya kelebihan beras (kalau di Indonesia) setakaran dengan 4 mud atau setara dengan beras antara 2,5 kg–3 kg. Semua orang maksudnya, baik balita maupun orang dewasa yang masih hidup pada tanggal 1 Syawal, dikenai kewajiban untuk mengeluarkan zakat fitrah.

Kapan zakat fitrah itu dibagikan? Zakat fitrah dibagikan wajibnya mulai malam tanggal 1 Syawal sampai dengan sebelum khotib salat Idul Fitri naik di atas mimbar, kalau kelewatan maka pemberian itu dinilai sebagai sedekah biasa. Oleh karena itu, dianjurkan kepada para amil zakat fitrah atau panitia penerimaan dan pembagian zakat fitrah waspada dan teliti betul dalam hal ini, untuk menghindari hal-hal tersebut, jangan sampai kewajiban membayar zakat fitrah terlewati dan hanya menjadi sedekah biasa.

Maka, sesungguhnya, dalam bulan Ramadan menjelang Lebaran datang, bukan persoalan jajan Lebaran dan suguhan semata, tetapi juga nikmat dan makna ibadah yang harus kita kejar hingga Idul Fitri tiba. Akhir kata, harapan seluruh umat Islam di mana pun berada semoga puasa kita yang tinggal kurang dari separuh ini betul-betul bernilai berlian, insya Alloh, aamiin. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#lebaran #pahala #ramadan #Jajan