KESADARAN terbesar yang harus ada dalam diri kita, adalah memahami bahwa kita hamba dan Allah adalah Rabb semesta alam.
Kalau kita sebagai budak, dan kita punya seorang manusia sebagai tuan, maka kita adalah miliknya sepenuhnya. 24 jam. Kita tidak punya jam kerja. Kita juga tidak berhak atas gaji. Kalau kita menerima sesuatu dari tuan kita, itu bukan kewajibannya, itu hanyalah pemberiannya.
Pertanyaannya: Mungkin tidak seorang budak manusia, mencintai tuannya dan kemudian berterima kasih kepadanya. Dan ingin selama-lamanya menjadi budaknya?
Hubungan kita dengan Allah adalah hubungan yang unik. Dia Rabb (Tuhan Penguasa) dan kita hamba-Nya (Abd).
Tapi kita mencintai, memuji dan berterima kasih kepada-Nya. Bahkan, kita merasa berbahagia menjadi hamba-Nya selama-lamanya.
Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin.
Alhamdu memiliki dua makna: pujian dan terima kasih (syukur).
Lalu ada pertanyaan: Mengapa saya sudah salat, puasa, berbuat baik, tapi rizki saya segini-segini saja. Sedang orang lain yang tidak salat, tidak puasa, tidak berbuat baik kadang malah diberi kekayaan luar biasa. Bukankah ini tidak adil?
Pertanyaan ini datang dari pemahaman yang keliru bahwa Allah punya utang kepada hamba-Nya. Allah punya kewajiban memberi sesuatu kepada hamba-Nya ketika si hamba sudah memberi sesuatu kepada Allah. Padahal, tidak demikian.
Allah Sang Tuhan Alam semesta (Pemilik kita) dan kita hanyalah hamba. Allah tidak punya utang apa pun kepada kita. Sedang kita justru yang memiliki utang yang amat besar kepada Allah. Bahkan, Allah sudah banyak memberi sebelum kita memintanya.
Lihatlah tubuh kita, oksigen yang kita hirup, darah yang mengalir dengan sistem yang kompleks beserta seluruh organ-organ di dalamnya.
Kalau Allah memberi sesuatu kepada salah seorang di antara kita 100 ribu misalnya, itu terserah Allah. Orang tersebut ketika menyadari orang lain tidak diberi seperti dia, maka pasti dia akan berterima kasih. Lalu ketika Allah memberi seorang lain lagi 500 ribu, itu juga terserah Dia. Yang diberi 500 ribu ini pasti akan merasa bahagia.
Lalu ketika melihat orang diberi 500 ribu itu bagaimana perasaan orang yang telah diberi 100 ribu dan orang yang tidak diberi? Orang yang menerima 100 ribu mulai merasakan bahwa 100 ribu itu kecil sekali. Orang yang tidak menerima akan mengatakan Allah telah berbuat tidak adil kepadanya.
Orang yang diberi 100 ribu, itu hadiah dari Allah. Tapi ada konsekuensinya, dia harus mempertanggungjawabkan 100 ribu itu kepada Allah. Orang yang di beri 500 ribu, itu juga hadiah dari Allah. Tapi konsekuensinya, dia harus mempertanggungjawabkan 500 ribu itu kepada Allah. Konsekuensi yang jauh lebih berat.
Bagaimana dengan orang yang tidak diberi? Dia tidak perlu mempertanggungjawabkan apa pun. Dia tidak akan ditanya apa pun. Dan ini pun juga hadiah dari Allah. Ketika semua orang diberi mata oleh Allah, maka ia akan dihisab dengan matanya. Orang yang tidak diberi mata, akan dibebaskan dari hisab terkait matanya. Ini sekadar contoh.
Lalu sebagai hamba apakah kita tidak boleh meminta sesuatu kepada Allah? Boleh dan bahkan seharusnya kita meminta kepada-Nya. Allah menyukai orang2 yang meminta kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa kita membutuhkan Allah.
Yang tidak boleh adalah kita memaksakan permintaan kita harus dituruti. Jika tidak, kita tidak mau salat, tidak mau puasa, tidak mau berbuat baik.
Allah Maha Kuasa. Tapi Allah juga Maha Tahu apa yang terbaik untuk masing-masing diri kita. Ketika kita meminta sesuatu dan Allah kabulkan, kita berprasangka baik semoga itu menjadi sarana kita lebih dekat dengan-Nya. Dan sarana kita berbuat dengan manfaat lebih luas untuk orang lain dan semesta.
Ketika doa kita tidak dikabulkan Allah, kita juga berprasangka baik. Bisa jadi sesuatu yang kita minta itu tidak baik untuk kita, menjauhkan kita dari Allah dan tidak bermanfaat untuk akhirat kita. Dan Allah pasti akan pilihkan sesuatu yang lebih baik untuk kita terima.
Intinya, selalu memuji Allah. Berterima kasih kepada-Nya. Dan, selalu berprasangka baik kepada apa pun yang dikehendaki Allah atas kita. (*)
Editor : Ali Sodiqin