Ramadan begitu dahsyat menerangi
setiap langkah perjalanan hati nan jiwa,
seperti rasa cinta,
Ramadan adalah kekasih paling setia,
seperti rasa rindu,
Ramadan adalah kekasih
yang selalu menepati janji
Ramadan adalah sinar terang
saat pagi menjelang,
Ramadan adalah cahaya benderang
saat keheningan malam
ALHAMDULILLAH, tak terasa, separo perjalanan Ramadan telah terlewati. Rasanya baru kemarin, sepuluh hari terakhir bulan Ramadan (asyrul awakhir) menunggu kehadiran kita dengan sepenuh rindu dan cinta. ”Wahai Rasulullah, perintahlah saya untuk mengerjakan suatu amalan, yang dengannya, saya dimasukkan ke dalam surga. Beliau bersabda, ’Berpuasalah, karena (puasa) itu tak ada bandingannya” (Al-Hadits).
Ramadan memang benar-benar bulan yang dipersembahkan khusus untuk umat Rasulullah Muhammad SAW yang sangat mengistimewakan Ramadan. Bahkan, Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif meriwayatkan spirit kerinduan para sahabat dalam menyambut bulan nan suci ini. ”Mereka (para sahabat) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadan. Kemudian, mereka pun berdoa selama enam bulan agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima oleh Allah SWT. ’Ya arhamarrohimin farrij ‘alal muslimin’ (Ya Allah Yang Maha Pengasih di antara para pengasih, berikanlah kelapangan kepada orang-orang muslim). Sepagi sepetang di jalan Allah adalah lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR. Bukhari-Muslim).
Ya, hari-hari ibadah, tiada hari tanpa ibadah, spirit Ramadan benar-benar menembus perbatasan rasa, hingga mengalir sungai kasih sayang. Ramadan adalah muara kasih sayang, saling berbagi, saling mengasihi, saling menyayangi merupakan pengejawantahan puasa. Setidaknya, puasa di samping berhubungan langsung dengan Allah Azza wa Jalla juga sebentuk interaksi sosial yang terus kita bangun bersama saudara, tetangga, dan masyarakat.
Buka puasa bersama, tentu menjadi salah satu pilihan untuk semakin mempererat tali kekeluargaan, tali persaudaraan. Sebab, kebahagiaan berpuasa adalah saat berbuka dan bertemu dengan Allah SWT. ”Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya” (Muttafaq ’Alaihi).
Separo perjalanan Ramadan nan suci begitu penuh makna, setiap waktu setiap hari memiliki arti tersendiri terhadap kualitas sekaligus kuantitas ibadah kita. ”Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya” (HR Muslim).
Di bulan suci ini, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan berbagai rahmat, tentu saja yang tidak mendapat rahmat di bulan ini, mereka termasuk orang-orang yang benar-benar celaka. Karena fase pertama atau sepuluh hari pertama Ramadan adalah turunnya rahmat, di sini Allah menunjukkan bulan kasih sayang, bulan kedermawanan.
Sementara fase kedua atau sepuluh hari kedua Ramadan disebut maghfirah (ampunan), Allah itu Maha Pengampun, maha menerima taubat. Sebab itu, volume beribadah mesti terus ditingkatkan, tak lupa memohon dengan tulus-ikhlas ampunan Allah SWT.
Yang terakhir atau fase ketiga adalah pembebasan dari api neraka (itqun minan nar). Di malam-malam terakhir Ramadan ini Rasulullah Muhammad SAW selalu beriktikaf di dalam masjid. Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa melaksanakan ibadah pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni”.
Malam nan sunyi, angin berembus sepoi-sepoi basah, embun pagi bergegas membasahi daun dan reranting kering, semoga langit tidak berawan, udara terasa tenang, sejuk, tidak panas, dan tidak dingin. Semoga malam Lailatul Qadar benar-benar hadir di antara kekhusyukan sujud malam, Ramadan penuh rindu dan cinta terus-menerus menyempurnakan ibadah kita, aamiin. (*)
Editor : Ali Sodiqin