Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Program Mabur Banter di Bulan Ramadan

Redaksi • Rabu, 5 Maret 2025 | 12:00 WIB
Oleh: Herny Nilawati SPd MPdI, Kepala MTsN 12 Banyuwangi (Wongsorejo). Anggota Lentera Sastra Kemenag Banyuwangi.
Oleh: Herny Nilawati SPd MPdI, Kepala MTsN 12 Banyuwangi (Wongsorejo). Anggota Lentera Sastra Kemenag Banyuwangi.

BULAN suci Ramadan merupakan bulan yang selalu dinanti oleh umat muslim di seluruh dunia. Berbagai cara dilakukan umat muslim dalam menyambut kedatangan bulan penuh keberkahan ini. 

Demikian halnya dalam dunia pendidikan. Ada bermacam cara yang dilakukan sekolah/madrasah untuk menyambut dan mengisi kegiatan di bulan puasa ini. Tidak hanya sekolah berbau Islam yang melaksanakan kegiatan-kegiatan agamis selama bulan puasa ini, tetapi juga termasuk sekolah umum—mulai dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi. Semua ini tentunya untuk meningkatkan keimanan peserta didik selama pembelajaran di bulan Ramadan ini.

Sesuai dengan SEB (Surat Edaran Bersama) Mendikdasmen, Mendagri, Menag Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pembelajaran di Bulan Ramadan dan disusul Pemberitahuan SEB Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur ditegaskan bahwa pembelajaran selama bulan Ramadan diharapkan melaksanakan kegiatan yang bermanfaat untuk meningkatkan iman dan takwa, akhlak mulia, kepemimpinan, dan kegiatan sosial yang membentuk karakter mulia dan kepribadian. Untuk itulah program Mabur Banter dirasa perlu diterapkan dan sangat cocok di bulan Ramadan.

Istilah Mabur Banter sekilas terkesan seperti kata-kata dalam bahasa Jawa. Mabur memiliki arti ’terbang’, sedangkan banter adalah ’keras, cepat, dan kencang’. Mabur Banter bisa diartikan terbang dengan cepat. Padahal Mabur Banter sesungguhnya adalah sebuah akronim dari ”Madrasah Berbudaya dan Berkarakter”. Istilah Mabur Banter ini memang mengadopsi dari salah satu 7 program unggulan seksi Pendidikan Madrasah (Pendma) di Kemenag Kabupaten Banyuwangi.

Mewujudkan Mabur Banter sangatlah tepat diterapkan di bulan Ramadan ini. Dalam arti bukan berarti hanya saat Ramadan saja, akan tetapi di seluruh bulan yang lain juga harus diterapkan. Terfokus di bulan Ramadan diharapkan menjadi suatu pembiasaan pada siswa hingga nantinya bisa diterapkan di dalam kesehariannya.

Madrasah Berbudaya dan Berkarakter (Mabur Banter) bukan sekadar tagline untuk membangun madrasah semata. Namun, juga untuk mengingat keprihatinan terhadap kondisi generasi muda zaman sekarang yang sudah mulai tergilas oleh perkembangan teknologi dan majunya zaman.

Kita sering mengambinghitamkan bahkan menyalahkan bahwa penyebab perubahan perilaku pada generasi sekarang utamanya para generasi Z, generasi milenial, bahkan generasi alpha karena adanya kemajuan teknologi dan perkembangan zaman. Majunya teknologi dan zaman hal yang mutlak tidak bisa dihindari. Nah! Di sinilah  perlunya benteng pertahanan berupa iman dan ketakwaan pada diri generasi muda. Tetap berpegang teguh pada budaya Indonesia dan memiliki karakter positif yang membangun jiwanya. Inilah yang perlu dipraktikkan siswa dalam keseharian bukan hanya sekadar teori.

Perlu dipahami kata budaya dalam KBBI berarti ’pikiran; akal budi, adat istiadat’, sedangkan karakter berarti ’tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti’. Berbudaya dan berkarakter diharapkan peserta didik memiliki pola pikir, perilaku, mental, moral, dan kebiasaan yang sesuai dengan nilai-nilai luhur berbudi pekerti yang baik.

Implementasi madrasah berbudaya dan berkarakter di  kegiatan praktik selama Ramadan di antaranya penanaman pada jiwa siswa tentang berpuasa dengan keikhlasan, melaksanakan salat sunah (Duha, Tarawih, Tahajud, dll), tadarus (one day one juz), hafalan Al-Qur’an, mengikuti kajian Islami, pondok Ramadan/pesantren kilat, bagi-bagi takjil, bersedekah, membuat video kultum, menulis artikel tentang puasa, dan banyak lagi aktivitas yang membuat siswa lebih kreatif dalam meningkatkan nilai-nilai keislaman dan keimanan.

Masih serangkaian bulan Ramadan termasuk budaya sungkeman di Hari Raya Idul Fitri. Zaman sekarang ini sudah menjadi tren budaya cukup mengucapkan selamat Idul Fitri hanya lewat WhatsApp. Budaya silaturahmi untuk berkunjung ke famili, kerabat, bahkan gurunya sudah mulai luntur. Kondisi seperti ini hendaknya jangan sampai berlarut-larut. Pemerintah pun turut peduli dalam hal ini, terbukti telah ditegaskan dalam SEB (surat edaran Bersama) 3menteri di point bahwa ”Selama libur ldul Fitri, peserta didik diharapkan melaksanakan silaturahmi dengan keluarga dan masyarakat untuk meningkatkan persaudaraan dan persatuan”.

Program kegiatan Mabur Banter di bulan Ramadan harus benar-benar dijalankan oleh seluruh warga sekolah maupun madrasah. Mabur Banter ini akan terlaksana dengan baik tentunya jika dibarengi dengan andilnya bahkan kepedulian orang tua atau wali murid dalam pembentukan budaya dan karakter pada putra putrinya. Kerja sama yang harmonis dan selaras antara pihak sekolah/madrasah dengan orang tua/wali murid juga lingkungan masyarakat sangat menentukan keberhasilan Mabur Banter. Ramadan adalah saat yang tepat untuk menempa jiwa anak-anak kita untuk menjadi generasi yang memiliki budaya dan karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1446 H. (*)

*) Kepala MTsN 12 Banyuwangi (Wongsorejo). Anggota Lentera Sastra Kemenag Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#Muslim #puasa #ramadhan