PERSEWANGI Banyuwangi kembali berlaga. Seperti di Pom bensin, benar-benar dari nol. Di bawah manajemen baru pimpinan Handoko, Persewangi mengarungi Liga 4 dengan cukup meyakinkan. Keluar sebagai juara grup dengan mencatatkan dua kali kemenangan dan satu seri.
Kini, penggawa Laskar Blambangan yang dikapteni Anis Mujiono kembali mengarungi fase grup berikutnya. Tergabung di Grup AA, Persewangi bakal berebut kemenangan dengan Persesa Sampang, Persebo Bondowoso, dan Persid Jember. Klub terakhir ini, bakal menjadi ulangan pertarungan klasik. Maklum, dua kabupaten yang hanya dipisahkan oleh Gunung Gumitir ini, telah terbangun ”rivalitas” yang cukup panjang di lapangan hijau. Semacam ada hukum tidak tertulis, boleh kalah dengan yang lain, tapi tidak dengan Persid.
Ya, pertandingan ”el clasico” antara Persewangi dengan Persid tersebut akan digelar di Stadion Diponegoro Banyuwangi pada hari ini (22/1). Pertandingan yang patut ditunggu oleh segenap pencinta sepak bola Banyuwangi. Pertandingan yang melemparkan kenangan saya pada masa kanak-kanak nyaris dua dasawarsa silam.
Saat itu, Persewangi jadi tuan rumah dari lanjutan Divisi III Liga Indonesia tahun 2005–2006. Saat itu, Persewangi tergabung dengan PSM Madiun, PSSS Situbondo, dan Persid Jember. Melawan tim ”Macan Sangar”—julukan Persid— tersebut digelar pada putaran akhir. Penentuan untuk lolos ke babak berikutnya, enam besar Divisi III.
Ribuan Laros Mania memenuhi stadion berkapasitas 10.000 penonton itu. Saya yang berangkat dari Desa Patoman melihat antusiasme sepanjang jalan Rogojampi ke Banyuwangi. Kantong-kantong parkir penuh. Bahkan, saya yang dibonceng oleh almarhum kakek, Abah Asmuni, dengan motor Bravo Hitam, harus parkir di SDN 1 Penganjuran. Tak kurang satu kilometer dari stadion.
Tiket seharga Rp 5.000 menjadi bekal masuk stadion yang telah memerah dipenuhi Laros Mania. Tak seperti sekarang. Stadion Diponegoro hanya mempunyai tribun di sisi barat saja yang sekarang digunakan sebagai tribun VIP. Sisanya berjubel di pinggir lapangan.
Nuansa kemeriahan begitu bergelora. Yel-yel bergema sepanjang pertandingan. Diiringi kuntulan dan pemandu sorak yang tak lelah-lelahnya menari di atas tribun. Memberikan semangat bagi Rully Novianto, Ferri Aman Saragih, dkk yang sedang berlaga.
Kapasitas stadion penuh. Bahkan, di luar masih banyak penonton yang tak mendapatkan tiket. Antusiasme tersebut tak bisa dibendung oleh pihak keamanan. Babak kedua belum mulai, pintu stadion terpaksa dibuka. Desakan penonton yang tak sabar melihat laga tim besutan Rusdi Bahalwan itu tak bisa dikendalikan.
Baru-baru ini, saya baru tahu, jika antusiasme tersebut ternyata berbau mobilisasi. Seluruh aparatur sipil negara (ASN), bahkan para perangkat desa ”diwajibkan” oleh Bupati Banyuwangi kala itu untuk hadir mendukung. Saat itu, Banyuwangi dipimpin oleh mendiang Samsul Hadi yang memang gila bola itu.
Pantas saja, almarhum kakek yang merupakan perangkat desa itu, tak pernah absen hadir ke stadion. Begitu juga dengan mendiang Pak Najib, sanak famili yang merupakan guru PNS. Selain itu, permainan Persewangi yang memang patut didukung kala itu.
***
Tentu saja kenangan semasa saya masih duduk di bangku SMP itu, cukup sulit untuk diulang pada pertandingan Persewangi vs Persid esok ini. Masih butuh waktu bagi Persewangi untuk mengembalikan kepercayaan dan antusiasme dukungan seperti dulu. Setelah sekian drama dan skandal yang membekap klub kebanggaan ujung timur Jawa ini.
Akan tetapi, asa itu sepertinya hanya soal waktu. Di bawah komando manajemen klub yang baru, Persewangi mengarah ke pengembangan yang profesional. Handoko, presiden klub yang berasal dari Desa Sugihwaras, Kecamatan Glenmore, menata Persewangi dengan serius. Pemuda yang cukup lama berkarir di Jakarta itu, punya visi besar untuk sepak bola bumi Blambangan.
Dalam sebuah kesempatan, Handoko pernah berkisah tentang mimpinya. Persewangi ini harus jadi akselerator dunia olahraga di Blambangan. Membangun ekosistem yang sehat. Dari sinilah, akan terbangun ekonomi berkelanjutan. ”Ini bukan hanya misi setahun dua tahun. Tapi, visi ini jangka panjang,” ujarnya.
Melihat Persewangi sejauh ini, apa yang dicita-citakan Handoko itu sepertinya bukan pepesan kosong. Ada keseriusan dan sederet bukti. Kepercayaan publik pun mulai terbangun. Sponsorship mulai datang. Para elite pun mulai berkenan kembali ke tribun.
Keseriusan itu terlihat dari testimoni Maldini Pali, eks pemain Timnas Indonesia yang berlaga untuk Persewangi. Pelayanan manajemen Persewangi, menurutnya, jauh lebih profesional dibanding klubnya terdahulu di Liga 2.
Waba’du, melihat ini semua, tak ada alasan lain bagi kita untuk menolak kembali ke tribun. Mari kita bersamai kembali tim kebanggaan kita; Persewangi. (*)
Editor : Ali Sodiqin