Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kesepian yang Menyerang Generasi Muda

Redaksi • Selasa, 24 Desember 2024 | 13:00 WIB
Oleh: Nabiilah Nadya Shafwah, Jurusan Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
Oleh: Nabiilah Nadya Shafwah, Jurusan Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang

GENERASI muda, dengan segala aksesnya ke teknologi dan informasi, seringkali digambarkan sebagai generasi yang paling terhubung. Namun, ironisnya, banyak di antara mereka yang justru merasakan kesepian yang mendalam.

Kesepian yang disebabkan karena tidak terpenuhinya kebutuhan relasi sosial, dan manusia juga makhluk sosial. Oleh karena itu, relasi dengan orang lain merupakan kebutuhan dasar manusia. Maka, kebutuhan relasi dengan orang lain merupakan kebutuhan dasar psikologis manusia yang juga harus terpenuhi.

Secara psikologis, manusia mempunyai kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain dan menjadi bagian dari lingkungan. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang akan merasa sendiri dan terisolasi dari dunia luar.

Media sosial dan internet memang memudahkan masyarakat untuk berinteraksi dengan banyak orang. Namun, interaksi virtual ini seringkali tidak bisa menggantikan interaksi tatap muka yang lebih mendalam.

Like, komentar, dan emoji mungkin membuat kita merasa diperhatikan, tetapi tidak bisa memberikan kepuasan emosional yang sama, seperti pelukan hangat dari teman atau obrolan santai dengan keluarga.

Kesepian tidak hanya dipengaruhi oleh kuantitas hubungan, tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas hubungan yang terbangun.

Para experts meyakini bahwa rendahnya kualitas hubungan individu dengan orang lain dapat membuat seseorang lebih merasakan kesepian dibandingkan dengan sedikitnya kuantitas relasi. Kesepian bergantung pada bagaimana cara berpikir seseorang terhadap lingkungannya.

Seseorang yang mengalami kesepian mendambakan kualitas hubungan yang baik, tetapi pemikiran dan perasaan bahwa mereka ditolak dan terisolasi dari dunia luar menghambat kemampuan mereka untuk dapat terhubung secara baik dengan orang lain.

Tekanan untuk menjadi sempurna, generasi muda sendiri mungkin banyak merasakan adanya hal tersebut karena generasi muda sekarang, banyak mematokkan dirinya dengan standar medsos seperti yang ada di tik tok. Banyak generasi muda yang memaksakan agar terlihat sempurna, seperti yang mereka inginkan.

Mereka merasa selalu kurang dengan apa yang mereka capai dari dirinya sendiri. Generasi muda juga tumbuh di era di mana penampilan sempurna, kecerdasan, fisik, dan kesuksesan sangat diidamkan.

Media sosial juga memperlihatkan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna, sehingga membuat banyak orang merasa tidak cukup puas dengan yang mereka dapat, dengan hasil dari individu itu sendiri.

Mereka akan terus menilai jika dirinya ini belum mencapai standar, yang mereka inginkan dari orang lain itu sendiri. Perbandingan yang tidak sehat ini bisa memicu perasaan rendah diri.

Dari perbandingan orang lain vs diri sendiri ini juga menimbulkan rasa iri, yang menyebabkan individu tersebut selalu tidak puas akan hal yang mereka punya seperti ketampanan muka, kecerdasan, keuksesan, mempunyai hubungan romantis dengan pasangan.

Sekarang juga menjadi banyak perbincangan mengenai “keluarga cemara” banyak dari generasi muda juga menginginkan akan hal tersebut. Keluarga juga berperan penting dengan hal ini karena meminimalisir dengan adanya kesepian yang menyerang generasi muda tersebut.

Timbul berbagai perasaan menyakitkan, seperti perasaan ditolak, tidak diakui bahkan perasaan lebih rendah dari orang lain. Perasaan menyakitkan ini menyebabkan luka psikologis sehingga seseorang menjadi lebih banyak menghindari kesempatan untuk relasi dengan orang lain.

Pada tahap yang lebih kronis kesepian bahkan dapat menimbulkan berbagai gangguan psikologis seperti depresi, meningkatkan keinginan untuk bunuh diri, bahkan perilaku adiksi seperti drugs, alcohol, bahkan cybersexual.

Kesepian sangat berhubungan dengan pemikiran dan perasaan yang dirasakan seseorang. Oleh karena itu, Cacioppo mengatakan kesendirian sebagai “perceived social isolation” atau adanya kesenjangan antara kualitas relasi sosial yang diharapkan, dengan kualitas yang terjadi pada kenyataan. Kesepian merupakan sebuah tanda bahwa secara psikologis mereka sedang membutuhkan kebersama dengan orang lain.

Saat merasakan kesepian, tubuh memberikan tanda bahwa mereka harus mulai membangun relasi dengan orang lain yang baik. Merasa sepi merupakan warning yang diberikan Tuhan agar mereka tidak terus-menerus mempertahankan pemikiran dan perilaku untuk menghindari orang lain.

Seseorang yang merasa kesepian seringkali berpikir bahwa lingkungan akan menolak mereka. Kesepian akan terjadi karena cara berpikir kita yang terlalu negatif ketika melihat dunia.

Mencoba berpikir lebih realistis. “Orang lain mungkin tidak pernah menolak kamu selama ini, tapi kamu mungkin hanya berpikir kamu sedang ditolak”. Terlalu banyak berpikir mengenai bagaimana seharusnya, mereka diterima orang lain atau berpikir mengenai kekhawatiran mereka ditolak secara terusmenerus.

Hanya akan membuat mereka lelah dan semakin menyakiti diri. Mulailah dari hal-hal kecil, tanpa ekspektasi apapun. Seperti menyapa tetangga, bertanya kepada teman dekat apa yang bisa kita lakukan untuk mereka atau sekedar menanyakan kabar kerabat lama. Saling terhubung membuat otot-otot relasi kita bertumbuh semakin kuat.

Era digital yang serba instan membuat mereka terjebak dalam dunia maya dan melupakan pentingnya interaksi sosial langsung. Padahal, kesepian bisa memicu masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Namun, jangan khawatir! Mereka bisa mengatasi kesepian dengan cara yang sederhana, misalnya, dengan bergabung dalam organisasi untuk sekadar menambah aktivitas dengan teman dekat. Gunakan media sosial sebaik mungkin, jadikan itu sebagai sarana untuk saling “terhubung” dengan orang lain.

Membandingkan diri dengan apa yang ada di media sosial itu bukan lagi untuk kita contoh. Pilih dan pilah konten yang sesuai dengan diri mereka, jangan biarkan media sosial mengambil alih pikiran dan perasaan. Bijaklah menggunakannya, jadikan pikiran yang mengontrol bagaimana cara menggunakan media sosial dengan baik. Be Smart!

Membangun kualitas hubungan menjadi salah satu kunci agar mereka tidak merasa kesepian, maka fokuskan membangun kualitas hubungan yang baik daripada mencari banyaknya teman tanpa makna. Ketika mereka berada disekitar orang-orang yang mempunyai ketertarikan yang sama maka secara emosi akan lebih mudah terbangun kedekatan antara anggotanya.

Jadi mulai mengikuti berbagai aktivitas dengan orang-orang yang mempunyai passion yang sama. Ikuti organisasi yang mereka sukai atau sekedar bercerita dengan teman mengenai passion kalian yang sama.

Oleh karena itu, generasi muda saat ini sering merasa kesepian meskipun mereka memiliki akses ke teknologi dan media sosial yang memudahkan komunikasi. Hal ini terjadi karena kebutuhan dasar manusia untuk memiliki hubungan sosial yang berkualitas sering tidak terpenuhi. Interaksi virtual seperti komentar dan like di media sosial tidak dapat menggantikan hubungan tatap muka yang lebih.

Tekanan untuk tampil sempurna di media sosial sering membuat generasi muda merasa tidak puas dengan diri mereka sendiri. Perbandingan yang tidak sehat dengan orang lain dapat memicu rasa rendah diri, iri, dan perasaan tidak cukup baik.

Selain itu, keseimbangan yang berkelanjutan dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, seperti menyebabkan depresi, kecemasan, dan bahkan perilaku berisiko. Kesepian sebenarnya pistol bagi generasi muda. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#generasi muda #kesepian #teknologi #komunikasi