PERKEMBANGAN teknologi memberikan dampak yang tidak diragukan lagi dalam dunia pendidikan dan bisnis. Perpustakaan mulai sepi karena kumpulan buku dan artikel jurnal dapat mudah diakses melalui gadget.
Digitalisasi memberikan efek pada keleluasaan setiap pengguna tanpa terbatas oleh ruang dan waktu, selama akses internet lancar, maka seluruh suguhan yang menarik sesuai keinginan pengguna dapat didapat dengan mudah.
Pengaruh kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terhadap kecerdasan atau kebodohan anak bangsa bergantung pada bagaimana teknologi ini digunakan.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 33,44 persen anak usia dini di Indonesia menggunakan gadget. Dengan rincian 25,5 persen pengguna dari kelompok usia 0-4 tahun dan 52,76 persen dari kelompok usia 5-6 tahun. Hal ini meningkatkan potensi kecanduan gadget pada anak-anak.
Fenomena kecanduan gadget di kalangan anak-anak semakin mengkhawatirkan di era digital. Menurut survei dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), lebih dari 71,3 persen anak usia sekolah memiliki gadget dan menggunakannya dalam durasi yang cukup panjang setiap hari. Sementara 79 persen dari mereka diizinkan menggunakan gadget untuk kegiatan selain belajar.
Anak-anak yang terlalu lama terpapar layar sering menghadapi masalah. Misalnya seperti gangguan tidur, penurunan prestasi akademik, serta gangguan sosial dan emosional (Kanal Psikologi UGM, 2024).
Fenomena yang nyata yang dikutip dari beberapa sumber, negara Finlandia mulai membatasi penggunaan AI dalam pembelajaran dan tetap menggunakan paper dan pencil dalam pembelajaran. Finlandia lebih berfokus pada pengembangan dan pengaturan kecerdasan buatan secara keseluruhan, dengan tujuan memastikan teknologi ini digunakan sesuai dengan standar etika dan keamanan, termasuk dalam sektor pendidikan.
Bersama Uni Eropa, Finlandia mendukung regulasi yang mencegah penggunaan AI berisiko tinggi. Seperti pengawasan biometrik secara real-time atau sistem yang dapat mengancam privasi dan hak asasi manusia. Namun, penggunaan AI dalam pendidikan di Finlandia masih dianggap sebagai alat yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Terutama dalam hal personalisasi pendidikan dan perluasan akses terhadap pengetahuan.
Pendekatan Finlandia terhadap AI lebih menekankan pengawasan risiko. Bukan pembatasan total, termasuk dalam konteks pendidikan (Valtioneuvosto)(Wikipedia).
AI dapat mencerdaskan Anak Bangsa karena kecerdasan buatan itu memberikan akses cepat dan mudah ke informasi yang relevan dan tepercaya. Anak-anak dapat belajar lebih banyak dengan bantuan alat pendidikan berbasis AI. Seperti platform pembelajaran, tutorial, atau aplikasi edukasi.
AI dapat memberikan pengalaman belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Sistem berbasis AI dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan siswa serta menawarkan materi yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.
AI membantu anak-anak mempersiapkan diri untuk dunia yang semakin digital. Mereka belajar keterampilan baru, seperti pemrograman, analisis data, dan pemahaman algoritma, yang relevan dengan pekerjaan masa depan.
Namun di sisi lain, AI dapat membodohkan anak bangsa jika teknologi tersebut menjadi ‘candu’. Penggunaan AI yang berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan, di mana siswa tidak lagi berusaha berpikir kritis atau mencari solusi sendiri, melainkan mengandalkan AI untuk menjawab segala hal. Sehingga hal itu dapat menurunkan keterampilan sosial dan kreativitas jika AI terlalu banyak menggantikan interaksi manusia. Anak-anak mungkin kurang berlatih dalam keterampilan sosial, kerja sama, dan kreativitas, yang sulit digantikan oleh mesin.
Mengandalkan AI untuk mengingat atau menemukan informasi bisa mengurangi usaha untuk memahami dan mengingat secara mendalam. Karena segala sesuatu dianggap bisa dicari kapan saja. Dan perlu disaring informasi yang bersumber dari AI karena konten tidak terfilter. Karena tidak semua informasi yang disediakan AI akurat atau sesuai. Terutama jika anak-anak tidak diajari cara menyaring informasi yang mereka terima.
AI bisa mencerdaskan anak bangsa jika diimbangi dengan pendidikan yang tepat, bimbingan, dan penggunaan secara bijak. Namun sebaliknya, jika digunakan tanpa kontrol, AI bisa menjadi alat yang memperburuk keterampilan berpikir kritis dan sosial.
Pendidikan tetap memainkan peran penting dalam memastikan AI dimanfaatkan secara optimal. Pentingnya pengetahuan yang baik dalam penggunaan teknologi tersebut, menjadi kunci pengguna bijak dalam menggunakan teknologi. (*)
*) Dosen FEBI UIMSYA Blokagung Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin