SANTRI bukanlah hanya sekelompok orang yang menimba ilmu di pesantren. Melainkan santri ialah segenap orang yang memiliki jiwa dan semangat nasionalisme yang bertujuan untuk membela bangsa dari globalisasi yang semakin pesat.
Pengaruh arus zaman tersebut menjadi musuh sekaligus senjata mereka dalam berjuang di zaman modern ini. “Berotak London, berhati Masjidil Haram (Makkah)” Begitulah salah satu jargon ciptaan almarhum KH Romly.
Ideologi dan pemikiran santri sangat terbuka, karena dibantu dengan referensi keilmuan dan dibarengi karakter diri yang kokoh, menjadikan kekuatan diri yang besar bagi penguatan karakter bangsa di dunia global.
Peran santri tidak juga lepas dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Santri dengan semangat tinggi membela kebenaran, menjadi senjata utama dalam berjuang, tak akan lagi berhadapan dengan penjajah.
Negara Indonesia memang telah merdeka sejak 79 tahun lalu, para penjajah dari negeri antah berantah juga telah beringsut kembali ke asalnya. Namun bukan berarti tantangan santri di pondok pesantren menjadi lebih sederhana.
Kini tugas jihad santri sebenarnya masih sama besarnya dengan seabad lalu. Tantangan santri menjadi lebih kompleks, datang dari berbagai penjuru. Pengaruh globalisasi yang semakin pesat menjadi musuh, sekaligus menjadi senjata bagi mereka di zaman modern ini dalam berjuang.
Tentu kita tak mungkin lupa dengan sosok KH Abdul Wahab Hasbullah yang memiliki peran sangat signifikan, terutama dalam memupuk dan menumbuhkan semangat rasa cinta Tanah Air.
Atas bimbingan dari Kyai Haji Hasyim Asy'ari beliau membuat jargon dan adagium hubbul Wathon minal iman yang kalimatnya terus digemakan hingga kini. Seperti halnya jargon hubbul wathon yang terus dikenang, santri juga harus tampil dan menjadi penyambung suara di panggung dunia.
Pada wajah dunia yang serba digital santri harus mampu menguasai media sosial untuk menyebarluaskan semangat nasionalisme dan berpartisipasi dalam diskusi tentang kebangsaan. Hal ini dapat menjadi batu loncatan bagi santri untuk mendekati masyarakat secara lebih halus.
Sebagai bentuk pembuktian bahwa santri tidak hanya melulu dihadapkan dengan persoalan agama. Melainkan santri mampu untuk mengembangkan diri dalam segala bidang, termasuk dunia digital.
Belakangan paham radikal menyerbak dan tumbuh lebih cepat, seakan bahan bakar minyak yang disulut api. Menjalar tanpa dapat dihentikan.
Sesuai dengan hasil studi RAND Europe tentang radikalisme di ruang digital, terdapat beberapa wawasan menarik yang menunjukkan sisi negatif ruang digital yang dapat mengancam pertumbuhan nasionalisme.
Dalam ruang putih digital beserta kebebasannya, gampang sekali digunakan untuk memfasilitasi penyebaran konten-konten yang menghambat pertumbuhan nasionalisme. Ditambah dengan kabar hoaks yang mudah menggegerkan netizen.
Dalam menemui sasaran target yang tepat, ruang digital memosisikan dirinya sebagai echo chambers, sehingga memungkinkan terjadinya percepatan radikalisasi.
Di sini peran santri sebagai penghambat paham radikal yang terus menyebar. Santri harus mampu menanam nilai-nilai nasionalisme melalui literasi digital. Serta memosisikan Pancasila sebagai pembatas dari pemahaman yang menggerus kedaulatan negara.
Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Samuel Abrijani Pangerapan menjelaskan, ada empat kerangka literasi digital yang harus dikuasai penghuni ruang digital termasuk santri. Yakni digital skill, digital ethics, digital safety, dan digital culture.
Mulai banyaknya media santri yang bermunculan, menjadi tanda bahwa santri mulai paham dan mengikuti arus digitalisasi.
Santri mampu menyediakan platfrom digital anti radikal yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Mulai anak-anak hingga dewasa. Dengan sajian yang mudah dipahami, ramah, dan tak terkesan mendikte. Ada beberapa platform digital hasil karya santri yang tak asing lagi.
Serta seluruh akun medsos resmi berbagai pondok pesantren di Jawa maupun luar Jawa. Turut ikut menyebarkan propaganda cinta tanah air di atas merebaknya isu politik yang tumpang tindih.
Dari sudut pandang santri, stigma santri adalah seseorang kelompok yang kolot dan tidak menerima perkembangan zaman, tampaknya sudah waktunya dipatahkan. Hal ini penting disampaikan, agar terdefinisi siapakah sejatinya santri itu.
Santri adalah sosok seseorang yang selalu peduli dengan negara atau bangsa, yang selalu memandang tanah air sebagai bentuk rasa cintanya terhadap tanah air.
Dua poin penting bagi santri yang terdapat dalam tawaran definisi tersebut yaitu, santri harus memiliki perilaku dan akhlakul karimah ,serta nilai sosial yang baik.
Dua istilah ini tidak bisa dinegosiasikan dengan yang lainnya. Keduanya harus berjalan seiring dan seirama. Sehingga dapat didedikasikan segenap upaya yang dilakukan untuk kedaulatan negara. Dari santri untuk Indonesia, dari pesantren untuk dunia. (*)
*) Siswa MTs Al Amiriyyah Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin