DALAM sosiologi, pendidikan terbagi menjadi tiga aspek: mikro, meso, dan makro, yang saling mempengaruhi dalam menciptakan realitas pendidikan.
Pendidikan mikro berfokus pada implementasi pendidikan karakter di sekolah, yang erat kaitannya dengan kebiasaan (habit) dan diharapkan dapat menyentuh tiga domain pembelajaran sebagaimana yang telah diklasifikasi oleh Bloom, yakni domain kognitif (berorientasi pada berpikir), afektif (pada emosi dan nilai), serta psikomotorik (pada keterampilan motorik).
Setelah bertahun-tahun para ilmuwan dan teknisi pendidikan hanya bergantung pada pemahaman kognitif, riset demi riset mulai mereka lakukan untuk mengamati lebih cermat korelasi antara gejala otak manusia dengan aktivitas belajarnya.
Salah satu di antaranya adalah penelitian Veenman dan kawan-kawan pada 2006. Melalui artikel ilmiah berjudul “Metacognition and Learning”, mereka mengemukakan komponen baru yang terlibat secara tidak langsung dalam proses belajar seseorang.
Komponen ini membentuk kesadaran dan kontrol yang dalam terkait usaha kognitif mereka. Kemampuan luar biasa dalam memperlebar pandangan (zoom out) untuk mengevaluasi rencana, strategi, dan efektivitas belajar mereka selama ini. Inilah yang kemudian para ilmuwan sebut dengan metakognitif.
Jika beralih ke taksonomi Bloom versi terbaru, ada beberapa penekanan aspek yang belum ada sebelumnya. Di antaranya ialah Bloom membedakan antara tahu tentang sesuatu (knowing what) yang merupakan isi pemikirannya sendiri dan tahu bagaimana melakukannya (knowing how) sebagai prosedur dalam menyelesaikan masalah.
Ini sejalan dengan pengamatan Saputra dan kawan-kawan (2018), bahwa kemampuan kognitif saja tidak cukup. Siswa harus bisa mengatur kemampuan kognitif mereka sedemikian rupa karena dalam pemecahan masalah dibutuhkan cara atau algoritma yang tidak biasa.
Karena itu, untuk mengatur semua itu dibutuhkan lagi suatu kemampuan (pengembangan dari domain kognitif) yang kemudian dinamakan metakognitif.
Seorang psikolog kontemporer Amerika, John Flavell, pertama kali mendefinisikan metakognitif sebagai pengetahuan seseorang mengenai proses berpikir dan hasil berpikirnya.
Kemudian, Brown mengungkapkan bahwa metakognitif mengarah pada pemahaman tentang pengetahuan yang dapat direfleksikan dari penggunaan efektif atau deskripsi yang jelas pada pertanyaan.
Adapun Wells mengungkapkan bahwa metakognitif adalah pikiran yang diaplikasikan untuk pikiran. Dari pendapat para ahli di atas, disimpulkan bahwa metakognitif adalah kemampuan berpikir seseorang tentang pikirannya itu sendiri.
Ditinjau dari perspektif Theory of Mind, menurut Preisseisen, metakognitif terdiri dari empat keterampilan: pengambilan keputusan, berpikir kritis, berpikir kreatif, dan pemecahan masalah.
Pendekatan keterampilan ini hendaknya dilatih kepada anak sejak dini. Misalnya mengajak anak merefleksikan pengalaman melalui kegiatan yang menyenangkan.
Berikut contoh perbedaan siswa yang hanya memiliki kognitif dan yang sudah memiliki metakognitif. Ketika harus mempelajari lima bab matematika dalam waktu tiga hari, siswa dengan kemampuan kognitif saja akan langsung berusaha memahami materi demi materi.
Sedangkan siswa dengan metakognitif akan membaca situasi sejenak, merumuskan strategi belajarnya dalam target dan agenda yang tersusun, baru memulai belajar dengan efektif dan efisien.
Keterampilan seperti ini akan mudah teridentifikasi bahkan dikuasai oleh siswa apabila diperantarai oleh berkualitas dan dibingkai dalam metode pembelajaran yang reflektif-interaktif.
Sementara dalam perspektif neurosains, terjadinya proses berpikir tingkat tinggi termasuk daya metakognisi merupakan efek bioproses bagian depan otak (lobus frontal).
Lobus ini berperan dalam pemecahan masalah, regulasi emosi, dan kepribadian. Kemampuan regulasi diri dalam metakognisi melibatkan otak kanan mengarahkan otak kiri untuk memonitor masalah sehingga keterampilan metakognitif anak berkembang.
Karena itu, orang tua dan guru harus mengadakan pembelajaran yang disertai aktivitas fisik untuk mengoptimalkan kinerja lobus frontal dan metakognisi.
Jadi berdasar analisis tersebut, dapat disimpulkan metakognitif adalah aspek baru dalam ranah tujuan pembelajaran yang sangat penting dikembangkan dalam diri anak sejak dini. Apalagi, mengingat mereka hidup di zaman yang cepat berubah dan disruptif ini.
Di situlah keterampilan metakognitif menjadi kunci bertumbuhnya pikiran kritis-analitis, demi membentengi dan merekonstruksi karakter mulia anak bangsa.
Sehingga diharapkan, para guru dan orang tua lebih bijak dalam mendidik anaknya melalui strategi pengembangan kognitif-metakognitif yang tepat guna. (*)
*) Siswa MAN 1 Banyuwangi, tinggal di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat.
Editor : Ali Sodiqin