PERLU diketahui, saat ini Indonesia meraih skor 359 untuk kemampuan literasi membaca dan berada di peringkat 71, dari 81 negara menurut data Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022. Hal ini masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara maju yang lain di dunia.
Setidaknya Indonesia harus menargetkan kemampuan berliterasinya pada 20 besar di dunia. Bagaimana caranya agar kemampuan literasi masyarakat Indonesia, khususnya siswa bisa meningkat?
Seluruh lapisan masyarakat seharusnya memiliki kesadaran penuh terhadap minat baca. Hal tersebut bisa dimulai dari organisasi terkecil yaitu keluarga. Bagaimana sebuah keluarga menciptakan atmosfer gemar membaca sejak dini. Kemudian sekolah memberikan berbagai cara atau strategi untuk meningkatkan kemampuan membaca.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan berkembang sangat pesat. Perkembangan ini harus diimbangi dengan meningkatnya kecerdasan manusia. Kecerdasan manusia dapat tercipta dari masyarakat yang gemar membaca. Masyarakat yang gemar membaca akan mendapatkan banyak wawasan dan pengetahuan baru yang akan meningkatkan kecerdasan.
Membaca menduduki posisi yang sangat penting dalam konteks kehidupan manusia, terlebih pada era informasi dan komunikasi sekarang ini. Membaca merupakan aktivitas mental memahami apa yang dituturkan pihak lain melalui sarana tulis. Kegiatan membaca merupakan aktivitas berbahasa yang bersifat reseptif kedua setelah menyimak.
Menurut Tarigan, membaca sebagai suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca (Tarigan, 1994).
Cara menumbuhkan minat baca siswa harus menciptakan motivasi dari dalam diri. Selain faktor dari dalam, faktor-faktor dari luar juga tak kalah penting. Faktor dari luar misalnya ketersediaan bahan-bahan bacaan di berbagai tempat, pembiasaan membaca yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan strategi-strategi tertentu, dan lain sebagainya.
Selama ini, sebagian besar siswa Indonesia malas dalam urusan membaca. Hal ini karena cara membaca siswa yang masih keliru. Mereka membaca dari halaman awal sampai halaman akhir tanpa mencari tujuan apa yang ingin diketahui. Apabila belum paham, mereka akan mengulang bacaannya dan bisa dilakukan hingga beberapa kali.
Tentu saja, hal tersebut akan menjadi sangat membosankan. Siswa akan membaca secara lamban. Otomatis pikiran siswa tidak lagi fokus terhadap bacaan. Cara membaca dengan strategi ini tidak tepat dan membuat siswa tidak maju dalam belajarnya. Untuk itu perlu digunakan strategi membaca yang lebih efektif yaitu strategi Know, Want, to Learn (KWL).
Strategi KWL merupakan strategi membaca dengan langkah-langkah, apa yang diketahui (K), apa yang ingin diketahui (W), dan yang telah dipelajari (L). Strategi KWL memberikan kepada siswa tujuan membaca dan memberikan suatu peran aktif siswa sebelum, saat, dan sesudah membaca.
Strategi ini dikembangkan untuk membantu guru menghidupkan latar belakang pengetahuan siswa dan minat siswa pada suatu topik. KWL dapat menjadi alternatif untuk menumbuhkan minat baca dan memudahkan siswa untuk memahami bacaan. Minat baca juga mempunyai pengaruh terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa.
Strategi KWL dikembangkan oleh Ogle pada tahun 1986 untuk membantu guru menghidupkan latar belakang pengetahuan dan minat siswa pada suatu topik. Strategi KWL memiliki tiga langkah pokok, yaitu menggali latar belakang pengetahuan siswa dengan cara brainstorming. Kemudian menentukan hal-hal yang ingin diketahui dengan merumuskan pertanyaan yang berkaitan dengan teks yang akan dibaca. Dan yang terakhir, menentukan hal-hal yang telah dipelajari dengan cara menjawab pertanyaan yang telah mereka rumuskan pada langkah sebelumnya.
Peningkatan kemampuan membaca dengan menggunakan strategi KWL ini diharapkan dapat menumbuhkan minat baca siswa dan kemampuan membaca intensifnya. Secara garis besar membaca intensif merupakan suatu proses mencari makna dari gagasan-gagasan tertulis melalui interpretasi bermakna dan interaksi dengan bahasa. Percuma gemar membaca tapi siswa tidak mampu menyerap informasi atau pengetahuan apa yang ada di dalam bacaannya.
Peran guru menjadi sangat penting untuk menjelaskan bagaimana cara membaca intensif dengan strategi KWL. Pihak sekolah juga harus memberikan beberapa fasilitas untuk menunjang strategi tersebut. Kolaborasi antara pihak sekolah dengan orang tua siswa untuk menumbuhkan minat baca siswa ini juga harus terlaksana. Pemerintah dan masyarakat juga harus sepaham bahwa membaca adalah suatu kegiatan yang sangat penting dan perlu dibiasakan. Dengan usaha demikian bukan tidak mungkin kemampuan literasi membaca masyarakat Indonesia akan meningkat. (*)
*) Bekerja di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin