Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Skripsi Usai, Gas Dolan!

Ali Sodiqin • Selasa, 27 Agustus 2024 | 15:53 WIB
Oleh: MUHAMMAD NURUL IMAN*
Oleh: MUHAMMAD NURUL IMAN*

KULIAH empat tahun ternyata endingnya yang ditunggu telah usai. Demikian kira-kira unek-unek mahasiswa semester akhir.

Memang banyak sekali liku-liku perjalanan menuju gelar SPd. Mulai semester satu sampai semester delapan. Apalagi mahasiswa dengan notabene santri, pastinya pusing kuadrat.  

Skripsi merupakan karya ilmiah yang ditulis mahasiswa sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana, atau tugas akhir perkuliahan.

Mahasiswa skripsi disadari atau tidak, layaknya seperti mahasiswa baru. Dalam arti, mahasiswa akan sering menikmati suasana kampus dan jumpa dosen pembimbing.

Hidupnya setiap hari berteman laptop dan ngutek-ngutek word. Namun tak jarang, mahasiswa semester delapan ke atas juga ikut andil dalam pengerjaan skripsi.

Fenomena yang terjadi semasa proses skripsi bermacam-macam. Ada golongan santai, semangat, dan di antara santai dan semangat.

Atau yang lebih menyedihkan adalah golongan yang tidak gupuh blas. Sehingga mahasiswa hanya mandek pada judul yang melumat.

Bahkan melumutnya judul sampai tahun depan, sebut saja mahasiswa penghuni tetap kampus.

Puncak paling membahagiakan mahasiswa pada tahap skripsi, selain mendapatkan persetujuan pembimbing bahwa skripsinya sudah pantas diujikan adalah, ketika story WhatsApp mahasiswa sudah dikomentari dengan kata “Selamat semoga sukses, Congratulation kawan, ditunggu mayorannya (makan gratis)!”

Ini pertanda sidang skripsi sudah dipertanggungjawabkan. Pertanyaan mematikan dari penguji telah dilahap. Keringat dingin sudah mengering. Bayangkan sebahagia apa mereka.

Setelah usai sidang skripsi, entah mengapa bayangan wisata sudah menghantui mahasiswa. Namanya juga manusia normal, setelah berminggu-minggu memandangi laptop, patut jika mereka merasa pusing.

Sehingga jalan keluarnya adalah wisata. Refreshing biar tidak ada berita mahasiswa stres karena skripsi.

Ternyata memilih refreshing kurang tepat kalau menurut kami, karena apa? Setelah sidang skripsi terlampaui, masih belum cukup untuk memenuhi gelar sarjana.

Masih banyak urusan yang dipikul mahasiswa. Ya, benar, revisi dan teman-temannya masih butuh dipertanggungjawabkan.

Seperti diketahui mahasiswa, bahwa revisi hanya dibatasi seminggu setelah persidangan di kampus. Jadi tidak bisa dianggap enteng.

Belum lagi dosen penguji tidak menentu, kapan bisa ditemui. Karena tidak mereka saja yang dosen pikirkan.

Seyogyanya tahan dulu sejenak bayangan wisata, tuntaskan dulu gelar sarjana. Begini bandingannya, pilih berwisata tapi kepikiran revisi, atau berwisata tanpa tanggungan revisi?

Kami rasa orang normal menjawab dengan benar. Permasalahan yang timbul dan disadari adalah hal tersebut, sebenarnya mereka sadar atas pertimbangan di atas namun entah kenapa masih saja terjatuh dalam lubang yang sama!

Karena itu, teman seperjuangan semester akhir, coba diperhitungkan kembali dalam mengambil keputusan. Bukan tidak boleh mencari ketenangan, tapi tunggu waktu yang tepat.

Mungkin tak masalah jika sekadar ngopi melepas penat. Intinya, jangan menimbun derita dengan menunda revisi.

Persepsi kami mahasiswa semester akhir, puncak bahagia adalah ketika syarat menyandang gelar sarjana sudah terpenuhi dengan tuntas.

Ternyata setelah beberapa waktu mengaca pada diri sendiri, ini masih tahap awal perjalanan kami.

Mungkin anggapan orang, enak sudah tamat perkuliahan, terlepas dari tugas-tugas yang ada. Dari sini, kami justru salah kaprah mengartikan kebahagiaan usai skripsi.

Ya, sebab semakin dewasa seseorang, berarti semakin berat tanggung jawabnya. Setelah lulus dari pendidikan, otomatis pandangan masyarakat pasti mengarah pada kami, dengan anggapan bisa ini bisa itu.

Hal demikian yang dimaksud tambahnya tanggung jawab mahasiswa. Setelah lulus pendidikannya, mereka akan dihadapkan dengan masyarakat.

Berhubungan dengan masyarakat dengan mengaplikasikan ilmu yang selama ini didapat di bangku perkuliahan.

Selain itu, setelah lulus nanti mau kerja di mana? Lanjut pendidikan atau berumah tangga? Dari sini dapat disimpulkan, setelah selesai urusan skripsi, lahir urusan lainnya. 

Persoalan yang nanti akan dihadapi mereka bukanlah hal remeh. Justru akan fatal jika menyikapinya kurang tepat.

Jangan sampai setelah wisuda bingung mau ke mana. Apalagi malah jadi pengangguran banyak acara.

Jangan sampai terdengar di telinga, celoteh kurang enak mengenai kita. “Deloken kae, disekolahne duwur-duwur malah gak megawe!”

Maka dari itu, ayo para sarjana, buktikan bahwa kami bisa diandalkan. Kami tidak seperti apa yang dianggap selama ini.

Ayo mulai saat ini, mengaca pada diri sendiri. Mencari kemampuan dan keahlian kita di bidang apa. Logikanya, kita yang berpendidikan tentu bisa lebih hebat dan bisa dari yang di luar sana.

Tetapi ingat, di mana pun Anda setelah lulus nanti, menjadi apa kelak, gunakan karakter berpendidikan. Jangan tukar jiwa pendidikan dengan apa pun, bahkan jabatan sekalipun.

Lihatlah negeri kita kini. Terakhir, jangan bodoh berlomba-lomba mengejar seragam bersabuk, untuk digunjing semua orang! (*)

*) Mahasiswa Universitas K.H Muhktar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#sarjana #skripsi #semester akhir #mahasiswa