Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengapa Saya Susah Menyimak?

Ali Sodiqin • Jumat, 26 Juli 2024 | 21:36 WIB
Oleh: WAYAN PATU HATUNNAJAH*
Oleh: WAYAN PATU HATUNNAJAH*

MENYIMAK adalah kemampuan yang sangat bermanfaat. Jika perhatian kita mudah teralihkan saat mengobrol, atau merasa tidak dipercaya untuk menyimpan rahasia, sudah saatnya kita belajar menyimak.

Kemampuan menyimak ditunjukkan melalui tindakan dan perhatian kepada teman bicara. Ini juga bisa membantu kita dalam berkomunikasi, menjalin hubungan, serta menambah pengalaman.

Ada beberapa aspek kegagalan dalam berinteraksi. Termasuk kegagalan perusahaan, institusi, dan organisasi, sekitar 70 persennya dipengaruhi aktivitas komunikasi. Sedangkan separo dari aktivitas komunikasi tersebut adalah faktor menyimak.

Mendengar aktif (menyimak) adalah setengah dari aktivitas komunikasi. Bayangkan kalau separo ini tidak efektif, bagaimana kita bisa berhasil membangun interaksi yang harmonis?

Lalu muncul pertanyaan, kenapa sangat sulit menyimak? Terus terang, saya masih belajar untuk meningkatkan skill menyimak. Beberapa kali saya "terpeleset" dalam mengamalkan pengetahuan ini.

Karena memang bukan persoalan mudah, dan butuh perjuangan. Setidaknya ada empat faktor, mengapa kita sulit menyimak yakni:

Pertama, pengetahuan. Belum ada pemahaman yang cukup akan manfaat pentingnya kita harus menyimak. Banyak orang menganggap menyimak itu aktivitas biasa. Tanpa perlu dipelajari pun, otomatis kita dapat melakukannya.

Kedua, show off. Kita sering menunjukkan, sebetulnya kita lebih memahami topik yang dibicarakan. Sehingga kita tidak memiliki minat untuk mendengarkan.

Malah kita sibuk menyiapkan sanggahan, agar kita lebih diakui. Akhirnya komunikasi menjadi ajang menunjukkan kehebatan, bukan saling memberi pemahaman.

Ketiga, over power. Merasa memiliki kekuasaan dan pengaruh. Imbasnya, pesan yang didengar dari bawah dianggap "sampah" yang tak perlu disimak.

Keempat, sombong. Merasa diri lebih tahu, lebih tua, pintar, dan lebih berpengalaman. Sesungguhnya, kesombongan adalah benteng penghalang masuknya pencerahan dalam diri kita.

Kebanyakan orang ingin didengarkan. Berarti kita harus mencari cara, bagaimana orang mau menyimak yang kita ucapkan. Ada beberapa cara agar ucapan kita bisa disimak dengan baik, yaitu abaikan pengalih perhatian.

Ketika seseorang memulai percakapan, berusaha fokuskan perhatian kepadanya dan mengabaikan hal yang membuat Anda teralihkan. Misalnya mematikan TV, menutup laptop, meletakkan yang sedang dibaca atau dikerjakan.

Selanjutnya, fokuskan perhatian saat orang lain berbicara. Fokus pada kata-kata yang ia ucapkan. Jangan sibuk memikirkan apa yang ingin Anda katakan. Jangan terfokus pada diri sendiri.

Banyak orang yang kesulitan berkonsentrasi selama percakapan, karena khawatir dengan pendapat teman bicara tentang penampilan mereka. Orang yang sedang berbicara tidak menilai kita pada saat bersamaan. Ia akan berterima kasih karena kita mau mendengarkan.

Selain itu, belajarlah berempati. Tempatkan diri di posisi orang lain. Jika seseorang menceritakan masalahnya, tunjukkan kepedulian dan berusaha merasakan apa yang sedang dialaminya.

Seberapa sering orang menceritakan masalah mereka? Jika sering, mungkin Anda termasuk pendengar yang baik. Ada kalanya, seseorang membutuhkan tempat untuk menceritakan masalah mereka.

Sebagian orang hanya membutuhkan orang lain untuk membuat mereka merasa diperhatikan dan didengar saja, walaupun tanpa saran.

Jika ternyata jarang orang bercerita pada Anda, berikut lima cara agar Anda jadi pendengar yang baik:

Pertama, lakukan kontak mata. Memandang mata lawan bicara merupakan hal sangat penting. Ketika seseorang sedang curhat, hal ini juga dapat menunjukkan perhatian Anda yang tulus. Cara ini juga memastikan Anda benar-benar serius dan sungguh-sungguh mendengarkannya.

Kedua, jangan menyela pembicaraan. Tidak ada hal yang menyebalkan selain dipotong ketika sedang berbicara. Walaupun kata-kata tersebut sekadar menambahi atau mendukung pendapatnya, tetapi sebaiknya jangan buru-buru melakukannya.

Jawab saja seperlunya ketika mereka melemparkan pertanyaan, dan baru berikan saran atau kata-kata yang membesarkan hatinya ketika dia selesai bicara.

Ketiga, perhatikan perkataan lawan bicara. Ketika dalam pembicaraan penting dan serius, sebaiknya perhatikan dengan sepenuh hati. Usahakan agar menunjukkan rasa simpati dan memperhatikan seluruh kata-katanya.

Keempat, jangan alihkan perhatian. Mengalihkan perhatian ketika dia sedang berbicara serius, dapat membuat masalahnya semakin berat. Usahakan hindari gangguan, terutama panggilan telepon. Pastikan perhatian Anda hanya tertuju pada lawan bicara.

Kelima, beri saran seperlunya. Hal menyebalkan lain yang terjadi adalah saran yang terlalu banyak dan berlebihan. Terlalu banyak saran justru dapat membuat beban masalah mereka menjadi semakin besar. Usahakan agar hanya bicara seperlunya ketika menanggapi, dan jangan terlalu menggurui.

Lima cara tersebut dapat membuat Anda menjadi pendengar yang baik. Mengapa saya membuat opini dengan tema menyimak, karena saya sendiri masih susah menjadi penyimak yang baik. (*)

*) Keluarga Besar Tadris Bahasa Indonesia, Universitas KH Mukhtar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#rahasia #Menyimak #komunikasi #interaksi