Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sastra Cyber di Era Digitalisasi

Ali Sodiqin • Jumat, 28 Juni 2024 | 16:53 WIB
Oleh: NADIA YASMIN DINI*
Oleh: NADIA YASMIN DINI*

TANPA sadar, kita telah memasuki era yang serba digital. Era digital ini sering disebut juga sebagai era globalisasi, sebuah masa di mana teknologi dan internet sangat mudah untuk dijangkau oleh manusia.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, dunia kesusastraan pun juga ikut mengalami perkembangan dan bergerak ke ranah yang modern pula.

Dunia sastra juga ikut menyesuaikan diri dan terkena dampak dari internet. Hal ini dapat dilihat dari kemunculan Sastra Cyber di tengah-tengah masyarakat. Khususnya, pada kalangan Generasi Z (Gen-Z).

Sastra cyber dapat diartikan sebagai sebuah karya sastra yang ditulis dengan menggunakan media internet atau teknologi lainnya.

Neuage dalam bukunya yang berjudul Influence of the World Wide Web on Literature (1997) menyebutkan bahwa sastra cyber diperkirakan lahir untuk pertama kali pada tahun 1990.

Dan kembali mencuat di tahun 2000-an berkat diterbitkannya buku Graffiti Gratitude pada 9 Mei 2001. Graffiti Gratitude merupakan sebuah buku antologi puisi cyber.

Meski kemunculan Sastra Cyber ini sempat memicu pro dan kontra. Namun, tak bisa dipungkiri jika kehadiran  Sastra Cyber secara tidak langsung telah membawa angin  segar bagi seluruh penggiat sastra yang masih bingung dalam mencari wadah untuk berekreasi.

Kehadiran Sastra Cyber ini juga seakan memberi jalan dan kesempatan bagi munculnya para penulis-penulis muda dan baru  di Indonesia. Karena mereka bisa memanfaatkan berbagai macam platform media sosial sebagai ladang menulis mereka.

Contoh-contoh media publikasi yang biasanya dimanfaatkan para penulis-penulis muda dalam menuangkan seluruh ide-idenya ialah, Wattpad, Flizo Novel, Cabaca,  NovelToon, GoodNovel, hingga yang paling baru dan viral ialah AU ( Alternate Universe) .

Au (Alternate Universe) merupakan sebuah istilah untuk menyebut sebuah cerita yang ada di media sosial Twitter.

Sesuai dengan namanya, AU berisi sebuah cerita yang dibuat dengan dimensi atau alur cerita yang berbeda dari sebenarnya. Biasanya nama karakter serta visual yang digunakan dalam cerita AU diambil dari  Idol K-Pop.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa kehadiran Sastra Cyber di tengah-tengah kita seakan-akan memberi jalan dan kesempatan yang luas bagi munculnya para penulis-penulis muda dan baru  di Indonesia.

Salah satu contohnya ialah, Dhia’an Farah, penulis AU Dikta dan Hukum yang merupakan kelahiran tahun 2000. Meski umurnya masih terbilang cukup muda, namun Dhia’an Farah telah sukses menjadikan AU Dikta dan Hukum menjadi sebuah novel best seller dan diangkat menjadi Web Series.

Ada pula nama Putri Azzahra, Penulis Novel IPA dan IPS. Diketahui bahwa penulis Wattpad novel IPA dan IPS tersebut, saat ini masih berusia 20 tahun.

Meski begitu, ia telah berhasil menjadikan Novel IPA dan IPS menjadi salah satu novel best-seller dan diangkat menjadi sebuah serial TV.

Selain kedua penulis tersebut, masih banyak contoh penulis muda lainnya yang sukses berkat kehadiran Sastra Cyber ini.

Intinya, kemunculan Sastra Cyber ini mampu membebaskan imajinasi penulis untuk menciptakan karya-karya yang layak diperhitungkan.

Dunia baru ini dianggap menjadi tonggak baru dunia sastra Indonesia yang selama ini terkesan ‘inklusif’ untuk lebih membumi di kalangan seluruh lapisan penulis, khususnya penulis pemula.

Diakui atau tidak kemunculan Sastra Cyber mampu menjawab kegelisahan jiwa penulis pemula untuk mendapatkan ‘ruang’ dalam pergulatan kancah dunia sastra Indonesia (Laily Fitriyani, 2007).

Selain itu, kemunculan Sastra Cyber ini juga dapat membuat anak muda menjadi lebih tertarik untuk membaca. Karena membaca kini bukan lagi hal yang membosankan bagi mereka semua.

Sudah jelas karena dalam Sastra Cyber ini, karya sastra hadir dalam bentuk digital. Selain itu, mereka juga bisa membaca kapan pun dan di mana pun mereka mau.

Tanpa harus repot-repot membawa buku-buku jenis novel atau lainnya yang tebal dan pastinya berat.

Jika minat literasi anak muda semakin meningkat, maka secara tidak langsung hal tersebut juga dapat mempengaruhi peningkatan kualitas SDM Indonesia. (*)

*) Mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga.

Editor : Ali Sodiqin
#Novel #digital #Sastra #buku #Gen-Z #cyber #media sosial #penulis afrika #berkreasi