Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Runtuh, Bangkit, Bersinar: Menjadi Pribadi Positif di Tengah Stigma Negatif

Ali Sodiqin • Rabu, 19 Juni 2024 | 21:50 WIB
Oleh: ISKA NUR MAWARDA*
Oleh: ISKA NUR MAWARDA*

DI dunia yang serba kompleks ini, rumah merupakan tempat perlindungan dan keamanan bagi banyak individu. Namun, sayangnya, tidak semua rumah memiliki fondasi yang kokoh.

Broken home, sebuah istilah yang menyiratkan kondisi di mana sebuah keluarga mengalami perpecahan atau ketidakstabilan yang cukup serius, menjadi realitas yang dihadapi oleh banyak orang di seluruh dunia.

Menurut laporan Badan Pusat Statistik Indonesia, sepanjang 2023 terdapat 463.654 kasus perceraian di Indonesia.

Broken home bukan hanya sekadar istilah statistik. Ini adalah kisah nyata yang penuh dengan kepedihan, ketidakpastian, dan tantangan.

Bagi anak-anak, broken home sering kali berarti kehilangan kestabilan emosional dan psikologis yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembang secara sehat.

Mereka mungkin harus menghadapi konflik yang konstan antara orang tua mereka, kehilangan rasa keamanan, atau bahkan menjadi saksi dari perceraian yang menyakitkan.

Sering anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan broken home cenderung lebih dekat dan lebih sering berinteraksi dengan ibu mereka daripada ayah mereka.

Hal ini bisa disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk peran tradisional yang masih kuat di banyak budaya di mana ibu lebih sering bertanggung jawab atas perawatan harian anak-anak, serta realitas praktis bahwa di banyak kasus, ibu menjadi orang yang memegang peran utama dalam mengasuh anak-anak setelah perceraian.

Indonesia menjadi negara yang menempati urutan ketiga sebagai negara fatherless (father hunger) terbanyak di dunia. Fenomena ini muncul akibat dari hilangnya peran ayah dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak.

Fatherless bukan hanya kehadiran dan keterlibatan secara fisik saja tapi juga secara psikologis di mana peran ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah dan ibu sebagai bertugas mengurus urusan keluarga, tetapi keduanya punya peran dan tanggung jawab yang sama besar yakni membesarkan dan mendidik anak.

Menjadi anak broken home, bukanlah hal diinginkan setiap anak di dalam suatu keluarga.

Melihat kedua orang tuanya bertengkar di depan matanya setiap saat serta melihat keduanya saling berjauhan dan melihat rumah yang tak lagi hangat seperti di mana rumah selayaknya menjadi tempat paling nyaman untuk pulang bukan hanya bentuk bangunan.

Tenggelam dalam samudera stigma negatif tidak pernah mudah, tetapi di antara riak-riak yang menghantam, ada kekuatan yang membara dalam diri kita yang bisa membawa kita melalui badai.

Menjadi pribadi positif di tengah-tengah stigma negatif adalah sebuah perjalanan yang menuntut keberanian, keteguhan hati, dan tekad yang kokoh.

Langkah pertama yang penting adalah memahami bahwa kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain memandang atau menilai kita.

Stigma negatif mungkin akan selalu ada, tetapi itu tidak berarti bahwa kita harus membiarkannya mendefinisikan siapa kita. Kita memiliki kendali atas bagaimana kita merespons dan meresapi stigma tersebut.

Pada titik ini, kita perlu menyadari kekuatan dalam kerentanan. Terbuka tentang pengalaman kita, bahkan ketika itu menyakitkan, bisa menjadi langkah pertama yang kuat menuju pemulihan.

Ini memungkinkan kita untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan orang lain, menunjukkan kepada mereka bahwa kita tidak sendiri dalam perjalanan ini.

Nilai-nilai seperti integritas, ketulusan, keberanian, dan kebaikan hati menjadi kompas yang menuntun kita melalui setiap langkah dalam hidup.

Tetapi mungkin yang paling penting dari semua ini adalah memilih untuk percaya pada diri sendiri. Ketika kita mempercayai kemampuan kita sendiri untuk mengatasi rintangan dan melewati badai, kita membuka pintu bagi kesempatan yang tak terbatas.

Kita adalah pahlawan dalam kisah hidup kita sendiri, lahir untuk mengukir takdir kita sendiri di atas batu-batu ujian dan tantangan.

Tuhan tidak membiarkan kita dilahirkan dalam ketidaksempurnaan hanya untuk menyerah pada takdir kita. Jadilah saksi hidup bahwa keberhasilan tidak bergantung pada asal-usul kita, tetapi pada tekad dan kerja keras yang kita tanamkan.

Teruslah berjuang, teruslah bergerak maju, dan jangan pernah menyerah pada mimpi-mimpi kita.

Jangan pernah meremehkan kekuatan dalam diri kita sendiri, karena kita telah membuktikan berulang kali bahwa keajaiban terjadi ketika kita bersikeras untuk melangkah maju. (*)

*) Mahasiswa jurusan Perbankan Syariah, Universitas KH Mukhtar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#tumbuh kembang #ayah #pahlawan 10 november #ibu #psikologis #Statisitik #Perceraian #tantangan #ujian #orang tua #Anak #kompas #stigma #Broken Home