SUATU waktu, impresi saya tentang seblang tertuang dalam bentuk puisi. Saya beri judul puisi itu “Aku seblang yang nyala ke nadi-nadi.”
Puisi itu khusus mengungkapkan kekaguman saya tentang aura eksklusif yang dibangun tarian ritual masyarakat Oseng itu, dalam rangka membangun keharmonisan antara manusia dengan semesta yang mengelilingi.
Seperti kita ketahui, ritual atau tradisi seblang dilakukan di dua tempat berbeda. Tradisi seblang di Olehsari dan seblang di daerah Bakungan.
Seblang Olehsari ditarikan anak perempuan yang masih perawan, sedangkan seblang Bakungan ditarikan perempuan tua yang sudah menopause. Meskipun demikian, tak sembarang perawan atau perempuan tua dapat menari sebagai seblang.
Mereka dengan garis keturunan sebagai seblang pertama, yang bisa melakukannya. Gambuh (pawang) merupakan perantara yang menunjukkan siapa orang-orang yang dipilih leluhur sebagai seblang.
Tradisi seblang Bakungan dan seblang Olehsari memiliki waktu dan cara penyajian ritual yang berbeda. Seblang Olehsari dilakukan setelah Idul Fitri, sedangkan seblang Bakungan dilaksanakan setelah Idul Adha.
Namun secara prinsip memiliki tujuan yang sama yakni ritual bersih desa untuk menghilangkan tolak bala. Ketika dupa menguar dan penari seblang mengibas selendang, ibaratnya ia akan menangkis mendung hitam atau bala yang bermacam-macam.
Penari yang mengatupkan belah mata merupakan isyarat sebuah kontemplasi dan kekhusyuan dalam memohon perlindungan dari bala agar diaminkan oleh semesta.
Seblang Olehsari diawali terpejamnya mata penari setelah wajah dirias dan dipasangi hiasan kepala dari pelepah pisang disuwir kecil. Baju yang dipakai dominan warna hijau hingga kekuningan.
Tangannya membaca tempeh dan pawang memanjatkan doa serta mantra. Sesaat penari akan menjatuhkan tempeh sebagai pertanda arwah leluhur telah hadir, menyatu dengan penari, dan memulai ritual tari. Penari seblang menari diiringi tembang-tembang khusus secara trance.
Penyajian musik pengiring tembang oleh para wiyaga harus berurutan dan tidak boleh bolong. Satu tembang tidak ditabuh musiknya, menyebabkan seblang mogok menari dan itu sudah terbukti beberapa kali.
Ada bagian tertentu dari penyajian seblang yakni penari melempar selendang pada penonton. Yang terkena lemparan harus maju dan ikut menari bersama seblang.
Urutan penyajian tarian dengan tembang-tembang pilihan ini memiliki kaitan dengan filosofi kehidupan rural agraris masyarakat suku Oseng.
Penyajian seblang Bakungan sedikit beda. Penari dirias dan dipasangi hiasan kepala yang terbuat dari kain kafan dibentuk rumbai-rumbai hingga menutupi sebagian wajah. Baju dominan berwarna merah dan kekuningan.
Ritual diawali dengan ziarah pada makam leluhur, dilanjutkan dengan selamatan kampung pada sore menjelang Magrib. Dilakukan ider bumi atau berjalan mengelilingi kampung dengan penerangan obor.
Penari seblang yang bersiap di balai dusun siap untuk menari setelah pawai ider bumi usai. Sama seperti seblang Olehsari, banyak terdapat ubo rampe pelengkap ritual berupa hasil bumi, makanan, bunga, dan kemenyan.
Pada seblang bakungan, ditambah dengan peralatan di sawah seperti singkal, cemeti, caping, dan boneka. Pada sesi menari dengan tembang Kembang Gadung, penari seblang akan mengedarkan kembang dermo yang akan dibeli oleh masyarakat sebagai symbol keberkahan dan kemakmuran.
Di akhir ritual, penari akan mengacung-acungkan dua keris ke udara sebagai perlambang perang mengusir penyakit yang dapat menyerang manusia, hewan, dan tumbuhan.
Berbagai simbol dan perlambangan dapat kita temukan pada tiap prosesi ritual seblang baik di Bakungan maupun Olehsari.
Sebagian saya abadikan dalam rangkaian puisi. Bila kita berada di sekitar tempat ritual diadakan, aura kekhusyuan, ketenangan, kepasrahan, hingga mungkin mistis, amat kentara.
Pada saat itu, masyarakat suku Oseng sedang berharmonisasi dengan semesta dan harapan tertinggi, kehidupan di masa yang akan datang tetap dilingkupi keberkahan, aman dari pagebluk, dan bertambah makmur.
Aroma dupa dan asap yang membumbung dipercaya akan menyampaikan pengharapan mereka pada Tuhan Penguasa Semesta.
Bunga, bulir padi, beras kuning, sampai kopi yang akan diteguk diberi mantra dan doa hingga keyakinan semakin kuat terbangun.
Keyakinan bahwa semesta akan mendukung dan melindungi setiap langkah masyarakat suku Oseng dengan semua latar belakang penghidupannya.
Syair Podo Nonton merupakan mantra sakral yang memiliki tuah bagi masyarakat suku Oseng. Peperangan di masa lalu digunakan sebagai pengingat, agar jangan sampai terlena agar tidak kembali terjajah.
Masyarakat suku Oseng diingatkan bahwa mereka bangsa yang kuat dan berani, dalam keadaan apa pun.
Ada momen ketika ritual seblang telah selesai dilaksanakan dan penari telah tersadar, diharapkan jiwa-jiwa yang dipenuhi nafsu jahat akan hilang.
Yang muncul kemudian adalah jiwa-jiwa yang siap bertarung kembali, menaklukkan kehidupan dan mendapatkan kebahagiaan.
Pada saat itulah, sesungguhnya efek magis ritual seblang telah menyusup ke nadi-nadi, dan menjadi membangun energi masyarakat suku Oseng Banyuwangi. (*)
*) Guru penulis dari MAN 1 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin