AWAL bulan Juni setiap tahunnya adalah masa2 yang paling mendebarkan bagi setiap orang tua khususnya yang anaknya baru lulus dan akan memasuki jenjang sekolah berikutnya.
Entah mau masuk sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), maupun sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), bahkan pendidikan anak usia dini (PAUD), atau taman kanak-kanak (TK).
Selain harus bersaing dengan ratusan bahkan ribuan calon siswa baru lainnya, kadang yang menjadi kekhawatiran adalah ketika keinginan untuk memasuki sekolah favorit berpeluang tipis atau kecil kemungkinan untuk diterima.
Sistem PPDB pada sekolah negeri yang dibuat pemerintah memungkinkan anak berprestasi dan tinggal dalam rentang zonasi terdekat yang berpeluang lebih besar untuk diterima.
Tentunya ini menambah dag dig dug jantung orang tua, terlebih bila nilai sang anak relatif rata-rata, tidak memiliki prestasi akademik maupun non akademik menonjol atau tempat tinggalnya di luar rentang zonasi kedekatan.
Tak ayal, ini menimbulkan berbagai spekulasi potensi subjektivitas panitia PPDB setiap sekolah, dengan berbagai dalih dan alasan yang pada akhirnya memungkinkan ditempuh jalur lobby atau kesepahaman yang sebenarnya merugikan mereka yang berjuang pada jalur normal.
Kapasitas kursi sekolah negeri selalu lebih sedikit dibanding jumlah lulusan sekolah di bawahnya. Meski menjadi peluang bagi sekolah swasta, pada akhirnya persaingan untuk masuk sekolah negeri menjadi sesuatu yang wajib untuk dilakukan.
Permasalahannya, apakah kualitas lulusan sekolah negeri jauh lebih baik dibanding sekolah swasta? Melihat rasio siswa sekolah negeri dan swasta hal ini sangatlah bisa dipahami.
Mengapa kemudian lulusan sekolah2 negeri yang kemudian mendominasi calon siswa / mahasiswa baru di sekolah-sekolah negeri. Tapi ini bukanlah semata faktor tunggal.
Banyak sekolah swasta yang kemudian lebih gercep (gerak cepat / reaktif) dalam menyikapi upaya peningkatan kualitas pembelajaran.
Baik di sisi fasilitas, kualitas guru maupun sistem pembelajaran. Kecepatan menyikapi perubahan ini berdampak pada semakin meningkatnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap sekolah swasta.
Kemauan untuk bisa bertahan inilah, yang pada akhirnya memacu semua stake holder sekolah swasta untuk berlari lebih kencang memberikan layanan pendidikan berkualitas. Justru ini sangat positif sekali.
Meski kadang biayanya tinggi, masyarakat yang sangat paham tentang bagaimana pendidikan kekinian dan masa depan, tak segan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta.
Stagnasi akibat dari sistem birokrasi dan berada dalam zona nyaman oleh berbagai fasilitas pemerintah lambat laun menina bobokan praktisi sekolah negeri untuk berlomba memberikan layanan pendidikan berkualitas dibanding sekolah-sekolah swasta.
Dapat dipahami, bila kemudian banyak orang tua yang lebih nyaman menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta.
Karena jaminan kualitas yang lebih menjanjikan dibanding sekolah negeri. Bahkan kemudian menjadi prestise tersendiri bagi sebagian orang tua.
Dialektika pelayanan pendidikan yang terus menerus ini justru relatif lebih tinggi intensitasnya di sekolah swasta.
Hingga kemudian memunculkan banyak terobosan strategi pendidikan yang memberikan banyak alternatif dan pilihan.
Dan itu relatif tidak banyak ditemui di sekolah negeri yang lebih banyak hanya mengandalkan dari pendampingan langsung dinas pendidikan sesuai tingkat wilayahnya.
Bukan hal yang aneh, bila sekolah swasta yang berkualitas (meski tidak semua harus mahal biaya pendidikannya) harus menutup kegiatan PPDB di masa inden, jauh sebelum masa PPDB normal diberlakukan.
Bahkan pada beberapa kondisi, ada sekolah swasta yang harus inden satu hingga dua tahun, bagi calon siswanya untuk bisa masuk dengan pertimbangan banyaknya animo calon siswa baru walaupun untuk itu kadang berbiaya tinggi.
Pada akhirnya, bila kemudian banyak sekolah negeri yang pada akhirnya di-merger (digabungkan) atau bahkan ditutup karena kekurangan siswa baru, tidaklah bisa disalahkan begitu saja.
Bila kemudian sekolah swasta benar-benar dapat bersaing secara fair dari titik yang sama dengan sekolah negeri, bukan mustahil bila sekolah-sekolah negeri akan benar-benar tertinggal jauh dengan sekolah swasta.
Masih ragu untuk belajar di sekolah swasta? Banggalah bersekolah di sekolah swasta. (*)
*) Humas Al Uswah Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin