MENGENAI permasalahan suasana hati yang mudah berubah. Hal ini bisa dikatakan ciri dari suatu gangguan mental yang disebut gangguan bipolar.
Bipolar disorder atau gangguan bipolar adalah masalah kesehatan mental yang menyebabkan perubahan suasana hati secara drastis.
Penderita ini, pada suatu saat akan merasa sangat bahagia (mania atau hipomania). Namun pada saat yang lain, akan berubah menjadi sangat sedih bahkan putus asa (depresi).
Seorang psikolog bernama Ridwan dari Jambi mengungkapkan, perubahan suasana hati yang tidak mengganggu masih dianggap normal.
Dia menambahkan, bipolar merupakan gangguan jiwa yang umumnya mempengaruhi mood atau suasana hati.
Nama lain dari gangguan bipolar adalah manik depresif. Seorang psikolog dari Tangerang, Dani Tri Astuti mengatakan, banyak masyarakat yang menganggap gangguan bipolar adalah sesuatu yang tabu. Juga banyak yang belum mengetahui keberadaan gangguan ini dan cara penanganannya.
Gangguan bipolar menyerang pada perubahan suasana hati, konsentrasi bahkan tingkat kegiatan seseorang secara tiba-tiba. Seseorang yang mengidap bipolar dapat membahayakan dirinya jika tidak segera ditangani.
Gangguan bipolar mempunyai beberapa jenis tingkatkan. Yaitu gangguan bipolar I, gangguan bipolar II, dan gangguan siklotimik.
Gangguan bipolar I adalah jenis gangguan yang paling berbahaya. Para pengidap bipolar I ini minimal mengalami satu periode mania dalam hidup.
Pada episode tersebut, pengidap akan mengalami kesulitan untuk menjalankan hidupnya, karena bipolar I berpotensi menyebabkan depresi.
Gangguan bipolar II hampir sama dengan gangguan bipolar I, akan tetapi jenis ini mempunyai episode depresi dengan hipomania sesekali saja.
Meskipun bipolar II masih berada di bawah bipolar I, realitanya dapat mengembang menuju gangguan bipolar I.
Gangguan siklotimik adalah jenis yang tergolong langka. Jenis ini tidak terlalu mengerikan seperti bipolar I dan II. Namun tetap saja, dampaknya cukup besar dalam kehidupan pengidapnya.
Seseorang yang mengalami gangguan siklotimik biasanya mengalami periode gejala hipomania yang lebih singkat.
Dan masih sama, jika gangguan ini tidak segera ditangani, maka dapat mengembang menjadi bipolar I dan II.
Mengenai gangguan bipolar, terdapat beberapa faktor penyebabnya. Hal ini dipengaruhi oleh ketidakseimbangan neurotransmitter atau zat pengontrol fungsi otak.
Namun, beberapa pakar menyebutkan pula bahwa penyebab gangguan bipolar berhubungan dengan faktor keturunan.
Seseorang yang mengalami gangguan bipolar mempunyai peluang besar untuk menurunkan pada generasinya.
Ada pun ketidakseimbangan neurotransmitter, yakni kimia otak yang bertugas untuk mengatur suasana hati dan perilaku juga sangat berperan.
Bahkan faktor lain bisa disebabkan karena perubahan siklus tidur yang tidak baik. Baik kebanyakan tidur atau kurang tidur, hal ini dapat menumbuhkan depresi hingga menyebabkan gangguan bipolar.
Setiap penyakit bisa dikatakan pasti akan ada obatnya. Meskipun terkadang belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan secara tuntas.
Namun setidaknya masih ada hal yang dapat mengobati atau membantu untuk proses penyembuhan pada suatu penyakit.
Sama halnya dengan gangguan bipolar, sebenarnya gangguan bipolar adalah penyakit seumur hidup di mana gejalanya bisa datang kapan pun dan di mana pun.
Akan tetapi, gejala yang muncul dapat dikelola dengan perawatan jangka panjang dan berkelanjutan.
Pengidap dapat menggunakan obat-obatan untuk menstabilkan suasana hati, antipsikotik dan anti-depresan.
Pengobatan yang lain bisa dibantu dengan psikoterapi yakni cara pengobatan yang membantu untuk mengidentifikasikan serta mengubah pikiran, emosi dan pikiran yang mengganggu.
Sebelum melangkah pada pengobatan, tentu kita sebagai manusia harus menjaga kesehatan sebelum terkena gangguan. Dari situ, terdapat hal-hal yang dapat dicegah agar kita tidak terkena gangguan bipolar.
Sebenarnya, pencegahan dari gangguan bipolar belum diketahui secara pasti karena penyebabnya pun belum diketahui.
Akan tetapi, ketika seseorang mengalami gejala tersebut, hendaknya segera memeriksakan diri untuk mendapatkan perawatan.
Pengidap juga harus melakukan perawatan secara berkelanjutan agar tidak terjadi dampak yang lebih serius. Terutama bagi seseorang yang memiliki genetik dengan latar belakang mempunyai gangguan bipolar. Dia harus lebih waspada untuk menjaga kesehatannya.
Dari banyaknya penyakit yang ada, tentu ada pengobatannya. Namun, kita harus berpikir sehat dengan menjaga kesehatan diri kita sekarang.
Karena mencegah lebih baik dari mengobati. Oleh karena itu, tetap jaga diri baik kesehatan dhohir maupun batin. (*)
*) Mahasiswi Universitas KH Mukhtar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin