IBARAT ‘jeruk kok minum jeruk’. Ini yang saya gunakan sekarang. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tak bisa dibendung. Makanya saya berusaha cari solusi untuk mengatasi penyalahgunaan AI. Caranya dengan minta bantuan AI. Ya, ini namanya sama saja, ‘AI kok minum AI’.
Kali ini di dunia pendidikan, banyak siswa yang memanfaatkan bantuan AI untuk membuat tugas. Caranya gampang. Tinggal ketik di aplikasi AI yang sesuai, buatkan tugas tentang bla… bla.. bla..
Dalam hitungan detik, aplikasi berbasis AI tersebut akan langsung menyelesaikan tugas siswa yang bersangkutan. Apakah dengan begini siswa menjadi pintar? Ya, tentu saja mereka menjadi lebih pintar. Tetapi bukan pintar pada mata pelajaran yang diajarkan tersebut. Melainkan, siswa bersangkutan menjadi lebih pintar dalam memanfaatkan teknologi. Terutama yang terkait dengan pemanfaatan AI.
Karena itu, dari sudut pandang guru, ini tidak sesuai tujuan mata pelajaran yang sedang diajarkan. Sebagai upaya pencegahan, ada beberapa saran yang harus dilakukan guru. Nah, saran-saran ini saya tanyakan kepada sebuah aplikasi berbasis AI. Berikut penjelasan mereka (mesin AI) tersebut:
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang semakin populer adalah penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
AI tidak hanya membantu dalam pengelolaan data dan proses administrasi, tetapi juga memiliki potensi untuk mendukung proses pembelajaran. Namun, seiring dengan manfaat tersebut, muncul tantangan baru yang harus dihadapi oleh para guru, yaitu potensi penyalahgunaan teknologi oleh siswa.
Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memahami dan mempelajari AI agar tidak diakali oleh siswa dalam proses belajar mengajar.
Sementara itu, AI juga bermanfaat dalam dunia pendidikan. Salah satunya, AI menawarkan berbagai manfaat dalam bidang pendidikan. Sistem pembelajaran berbasis AI dapat membantu dalam personalisasi pembelajaran, memberikan umpan balik secara real-time, dan mengidentifikasi kesulitan belajar siswa lebih dini.
Selain itu, AI juga dapat digunakan untuk mengotomatisasi tugas-tugas administratif seperti penilaian dan penyusunan laporan, sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada kegiatan pengajaran yang lebih interaktif dan mendalam.
penggunaan AI juga membawa tantangan tersendiri. Siswa yang lebih akrab dengan teknologi cenderung menemukan cara untuk menyalahgunakan teknologi tersebut. Contoh yang umum adalah penggunaan perangkat lunak plagiarisme untuk menyalin tugas, penggunaan aplikasi untuk memecahkan soal matematika secara instan, atau manipulasi data dalam sistem pembelajaran daring.
Jika guru tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang teknologi ini, mereka akan kesulitan mengidentifikasi dan mencegah perilaku curang.
Untuk itu, guru perlu membekali pengetahuan tentang AI dan teknologi terkait agar:
Pertama, untuk mendeteksi kecurangan. Dengan memahami cara kerja alat-alat berbasis AI, guru dapat lebih mudah mendeteksi kecurangan dan penyalahgunaan teknologi oleh siswa. Misalnya, guru yang memahami bagaimana alat plagiarisme bekerja akan lebih waspada terhadap tugas-tugas yang dihasilkan oleh siswa.
Kedua, meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengetahuan tentang AI memungkinkan guru untuk memanfaatkan teknologi ini secara efektif dalam proses pembelajaran. Mereka dapat menggunakan alat AI untuk memberikan pembelajaran yang lebih personal, menilai kemajuan siswa secara akurat, dan memberikan umpan balik yang konstruktif.
Ketiga, lebih siap menghadapi era digital. Pemahaman AI tidak hanya relevan untuk menghadapi tantangan saat ini, tetapi juga untuk mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi masa depan. Guru yang menguasai AI akan lebih siap untuk beradaptasi dengan inovasi teknologi yang terus berkembang.
Keempat, menjadi panutan dan inspirasi bagi siswa. Guru yang terbuka terhadap pembelajaran teknologi baru menunjukkan kepada siswa bahwa belajar adalah proses yang berkelanjutan. Ini memberikan contoh positif dan mendorong siswa untuk terus mengembangkan keterampilan siswa.
Karena itu, untuk memulai menguasai AI, guru dapat mengikuti berbagai program pelatihan dan kursus online yang tersedia. Baik yang kursus gratis maupun berbayar. Selain itu, mengikuti seminar dan workshop tentang AI dalam pendidikan juga dapat memberikan wawasan yang berguna. Bergabung dengan komunitas profesional dan diskusi online juga dapat membantu guru berbagi pengalaman dan saling belajar dari sesama guru.
Akhirnya harus kita akui, pendidikan tak dapat terlepas dari perkembangan teknologi. Agar tidak diakali oleh siswa, guru perlu membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang AI. Dengan demikian, guru tidak hanya dapat mengatasi tantangan yang ada, tetapi juga memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pengajaran. (*)
*) Guru IPA di MTs Negeri 10 Banyuwangi.
Editor : Salis Ali Muhyidin