Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Belajar dari Shin Tae-Yong dan Timnas Indonesia

Ali Sodiqin • Minggu, 5 Mei 2024 | 02:00 WIB
Oleh: NADIA YASMIN DINI *
Oleh: NADIA YASMIN DINI *

UNTUK pertama kali dalam sejarah, Indonesia berhasil maju semifinal Piala Asia U-23, setelah berhasil mengalahkan tim Korea Selatan (Korsel) melalui adu penalti.

Kemenangan tersebut tak hanya mencatat sejarah baru bagi Indonesia, tetapi juga sekaligus menghentikan rekor kelolosan Korsel ke Olimpiade selama bertahun-tahun.

Rekor Korsel lolos ke Olimpiade secara beruntun berhenti di angka sembilan, di tangan Timnas Indonesia U23. Hal ini merupakan sebuah pencapaian luar biasa yang patut kita banggakan.

Selain berhasil maju Semifinal Piala Asia U-23, perlu diketahui bahwa dengan keikutsertaan timnas Indonesia dalam Piala Asia ini juga merupakan sebuah sejarah baru.

Karena keikutsertaan Indonesia di Piala Asia U-2023 2024 adalah yang pertama kali sejak turnamen tersebut digelar pada 2012.

Sebelumnya, Indonesia selalu kalah di babak kualifikasi.

Prestasi yang diperoleh oleh timnas Indonesia saat ini tentu melalui proses yang sulit.

Sebelumnya, timnas Indonesia sempat dipandang remeh oleh media asing Vietnam dan Inggris.

Salah satu media Vietnam, Soha pun mengakui bahwa Timnas Indonesia U23 sempat diremehkan.

Bahkan sejak menjalani laga uji coba melawan UEA U-23 pun, Timnas Indonesia sudah mendapat pandangan negatif.

Sementara salah satu media Inggris, sempat meremehkan timnas Indonesia dengan memprediksi jika timnas Indonesia akan kalah dari Australia tanpa bisa mencetak gol di babak 16 besar Piala Asia 2023.

Tetapi pada akhirnya, timnas Indonesia berhasil membuktikan.

Timnas Indonesia sukses menampar media-media asing tersebut dengan membawa kemenangan.

Kemenangan timnas Indonesia kemarin juga tak lepas dari peran pelatih Shin Tae-Yong.

Karena kalau bukan berkat bimbingan dari Shin Tae-Yong, mungkin saja timnas Indonesia tidak akan mendapatkan kemenangan kemarin.

Sebelum menjadi pelatih Indonesia, Shin Tae-Yong lebih dulu menjadi pelatih timnas Korea Selatan pada Piala Dunia 2018.

Diketahui bahwa di tahun 2018, Shin Tae-Yong pernah mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan ketika sedang melakukan acara jumpa pers dan sesi foto di Bandara Incheon.

Secara tiba-tiba, seseorang melemparkan telur dan guling ke arah Shin-Tae Yong.

Diduga, hal itu dipicu lantaran gagalnya timnas Korsel lolos ke babak 16 Piala Dunia 2018.

Mereka menyalahkan Shin Tae-Yong atas kegagalan tersebut bahkan secara tidak langsung juga menganggapnya sebagai seorang pelatih yang gagal.

Hal tidak mengenakkan juga terjadi ketika salah satu media Inggris juga menyebutkan bahwa pelatih Timnas Indonesia,

Shin Tae-yong tak memiliki catatan mengesankan saat bertemu tim besutan Graham Arnold di empat pertemuan sebelumnya.

Namun, seperti halnya timnas Indonesia, Shin Tae-Yong juga telah berhasil menampar orang-orang yang telah menghina dan meremehkannya sebelumnya, melalui kemenangan timnas Indonesia.

Hal ini cukup menarik perhatian saya. Karena hal-hal seperti itu kerap kali dijumpai dalam kehidupan setiap manusia.

Kebanyakan dari kita pasti pernah berada di posisi atau titik terendah di dalam hidup.

Sehingga dalam keadaan itu, kita kerap kali mendapatkan hinaan serta pandangan remeh dari orang-orang.

Sebagian dari kita mungkin pernah diremehkan karena selalu mendapatkan nilai yang jelek di sekolah.

Sebagian lainnya mungkin pernah dianggap sebelah mata karena tak sekaya orang lain.

Atau mungkin, sebagian dari kita juga pernah dianggap remeh lantaran tak secantik atau setampan orang lain.

Jika kita belajar dari timnas Indonesia dan Shin Tae-Yong, seharusnya kondisi-kondisi tersebut dapat memotivasi kita untuk menuju ke arah yang lebih baik.

Jika diremehkan karena tidak pintar, maka terus belajar. Jika diremehkan karena tak kaya, maka bekerja keraslah.

Jika diremehkan karena masalah fisik, maka belajarlah untuk merawat diri mulai dari sekarang.

Karena kebanyakan dari kita ketika dihadapkan pada kondisi tersebut, malah meresponnya dengan cara yang salah.

Seperti merespons dengan menangis, merasa paling tersakiti, adu nasib, dan lain sebagainya.

Intinya sampai mendramatisasi keadaan. Padahal, menangis, adu nasib, dan terlalu mendramatisasi keadaan, tidak akan merubah keadaan yang ada.

Maka belajarlah dari Shin Tae-Yong dan timnas Indonesia.

Ketika mereka diremehkan, mereka justru menjadikan hal tersebut sebagai sebuah semangat untuk menuju arah yang lebih baik.

Hingga pada akhirnya, mereka berhasil menutup mulut orang-orang yang telah meremehkan mereka sebelumnya, melalui kemenangan. (*)

*) Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga.

Editor : Ali Sodiqin
#kualifikasi #Olimpiade #shin tae-yong #pelatih #sejarah #semifinal #indonesia #Piala Asia #U23 #timnas #Korea Selatan