Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Shin Tae-yong dan (Semestinya) Guru Kita

Gerda Sukarno Prayudha • Kamis, 2 Mei 2024 | 13:29 WIB

Oleh Alfian*
Oleh Alfian*
Perjalanan Timnas sepak bola Indonesia U-23 dalam piala Asia 2024 sangat fenomenal. Bukan semata-mata sampai di titik semifinal. Mampu mengalahkan Australia, Yordania, Korea Selatan dengan permainan apik di babak sebelumnya sudah menjadi catatan sejarah sepak bola Indonesia.

Reaksi publik luar biasa. Tidak terkecuali dari berbagai media luar negeri. Optimisme bangunan sepak bola akan bersinar di masa mendatang. Garuda Muda dielu-elukan di seantero Nusantara. Nonton bareng membludak.

Insan sepak bola berterima pada coach Shin Tae-yong (STY). Pelatih asal Korea ini dianggap mampu membangkitkan mental tanding Garuda Muda dengan cepat. Mereka percaya diri melawan tim tangguh sekelas Korea Selatan sekalipun.

Pelatih STY dan anak-anak Garuda Muda, sama dengan guru dan siswa. Tugas STY dan guru menggali dan mengembangkan potensi anak dalam bingkai penuh karakter. Keberhasilan Timnas U-23 menembus semifinal tidak terlepas dari peran STY dalam mengelola potensi dan emosi anak asuhnya.

STY menyadari bahwa Garuda Muda adalah anak-anak generasi Z (gen-Z). Yang hidup di zaman berbeda dengan zamannya. Dia mempelajari karakteristik gen-Z. Dia sentuh dengan pendekatan anak muda sehingga interaksi yang terjadi dalam satu frekuensi. Tanpa pendekatan yang tepat, anak asuh yang baik dan pelatih yang baik tidak menjamin membuahkan hasil yang baik.

Dalam pola interaksi sosial, gen-Z lebih suka berada dalam konteks kesetaraan. Sehingga STY menciptakan atmosfer pertemanan. Pola komunikasi cair. Mentor, bukan bos. Mengarahkan bukan menyalahkan. Menginspirasi bukan memarahi. Beri apresiasi sewajarnya. Tidak berlebih. STY memang tidak bisa berkomunikasi dengan baik secara verbal. Tapi gestur sentuhan, senyuman pada anak asuhnya menunjukkan pribadi yang menyatu.

Gen-Z akan semangat berlatih dan bertanding bila berada dalam suasana enjoy. Dan peran mentor sangat menentukan. Anak-anak masuk dalam Timnas U-23 tidak dari nol. Tugas STY mengorkestra potensi-potensi baik pada mereka menjadi sebuah kekuatan tim.

Dunia sepak bola bergerak menjadi magnet baru di dunia profesi dan industri. Semua menimbulkan self esteem terhadap pelakunya. Ini juga dirasa oleh anak-anak Garuda Muda. Mereka bangga terhadap dirinya. Membela nama bangsa, dibanggakan di keluarga dan kampung halamannya.

Mereka sadar, memilih profesi pesepak bola sama halnya dengan profesi mentereng lainnya. Self esteem inilah yang menggerakkan mereka untuk memberikan yang terbaik sepanjang piala Asia U-23 2024. STY menanamkan self esteem ini pada anak asuhnya. Sehingga mereka punya effort untuk mengoptimalkan potensi mengocek bola dengan baik.    

Gen-Z sejak lahir sudah mengenal gadget. Familiar berselanjang di dunia maya. Bergerak dari satu fitur, ke fitur lainnya. Mereka challenge seeker. Suka banget tantangan. Society menilai gen-Z memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Hal kebebasan mereka dikenal dengan boundary-less generation. Gen-Z memiliki harapan, preferensi, dan perspektif berbeda dan dinilai menantang. Karakter ini dibaca oleh STY.

STY memberi ruang kebebasan pada mereka untuk bergerak dan berkreasi. STY menggunakan berbagai formasi untuk menyesuaikan dengan karakteristik main lawan. Varian formasi dianggap tantangan dan disukai oleh Garuda Muda. Pola permainan sulit dibaca lawan. Passion mencintai bola menjadi utama, di samping capaian hasil.

Garuda Muda bebas berkreasi menunjukkan cara bermain bola yang mereka sukai. Satu sentuhan, umpan pendek, umpan panjang, umpan silang, menahan bola, bermain cepat, semua mereka peragakan. Sepakat. Gol-gol yang tercipta dirancang dengan skema enak ditonton. Berkelas.

 Karakter lain yang dimiliki gen-Z adalah ambisius dan berkelompok. Ambisius adalah keinginan meraih yang pertama dan utama. Bukan untuk pencapaian itu sendiri, tapi demi membedakan diri sendiri dengan orang lain. Kolektif berarti memiliki kecenderungan ingin melakukan secara bersama-sama. Ikatan kebersamaan sangat kuat. Memilih berkolaborasi dibanding berkompetisi. Garuda Muda ingin meletakkan sejarah sepak bola Indonesia.   

STY memadukan dua karakter ini. Ambisius kolektif. Garuda Muda dibentuk dengan semangat menuju puncak dengan kekuatan tim. Ini sesuai dengan hasrat pencinta bola yang selalu menyemangati para pemain di lapangan. Siapa kita (bukan aku)? Indonesia.

Masalah pendidikan terbesar saat ini adalah rentang generasi antara guru dan siswa. Perubahan sosial yang semakin cepat semakin memperlebar jarak sosial guru dan siswa. Pola komunikasi dan interaksi keduanya berjarak. Harus ada yang mengalah. Dorong atau tarik. Dan STY sudah mengajarkan kepada kita menggunakan filosofi dorong. Dia mendorong dirinya sama dengan kehidupan anak asuhnya. Ini jauh lebih efektif, dibanding harus menarik siswa ke arah kita (guru).

Jadilah guru yang menyenangkan. Sahabat anak dan menginspirasi. Ajarkan sejarah masa depan agar anak-anak mulai mengantisipasi. Mendidiklah dengan cinta. Karena rasa tidak bisa digantikan dengan teknologi. Artinya, guru konsisten memfasilitasi pembelajaran yang melibatkan karakter.  

Rancang pembelajaran dengan berbagai varian. Agar tidak membosankan dan menantang. Project based learning menjadi pilihan. Pendekatan ini melibatkan banyak anak secara kolektif. Anak dilatih berkolaborasi dan menentukan target secara bersama-sama. Untuk mencapai sebuah target, pasti akan melibatkan rasa ambisius untuk memperoleh kepuasan tersendiri. Ini semua karakteristik gen-Z yang terakomodasi dalam proses pembelajaran.

Guru tidak menyakiti. Tapi ketika anak disakiti (wasit dianggap kurang fair), dia akan membela. STY bukan sekedar cerdas, terampil, dan berkarakter, tapi juga dicintai. Kekalahan Garuda Muda dari Uzbekistan di babak semifinal tidak menyurutkan kebanggaan bangsa. Karena dia sudah memenangkan hati dan pikiran publik. Trust terbangun sangat kuat. Kesalahan dan kekalahan akan dimaafkan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2024.

 

*) Sekretaris Dinas Pendidikan    

     Kabupaten Banyuwangi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Syaifuddin Mahmud
#Shin Tae Yog #Sepakbola #Gen Z