PENGARUH globalisasi kepada adat budaya suatu daerah ternyata dapat menurunkan elektabilitas kelestariannya.
Kita ketahui bersama, adat budaya asli pribumi pelan-pelan semakin luntur, kultur sesungguhnya di masing-masing daerah semakin dijauhi. Moral dan tingkah laku pun semakin tidak karuan.
Masyarakat hari ini, khususnya generasi Z cenderung lebih menyukai hal-hal yang berbau budaya barat.
Rata-rata golongan tersebut menanamkan persepsi pada diri mereka sendiri bahwa kiblat adat budaya yang relevan dan keren merupakan adat dan budaya yang berasal dari barat.
Kecepatan dalam mengakses informasi membuat mudah masuknya budaya luar dengan jor-joran.
Minimnya pengetahuan filterisasi pada anak muda membuat semua budaya luar yang masuk baik yang bersifat positif atau negatif dapat mudah diterima dan dieksplorasi oleh mereka.
Alhasil, budaya asli daerah kita masing-masing tercemar oleh budaya luar.
Budaya buruk pun turut menyertai mengotori kebiasaan baik leluhur daerah setempat.
Hal ini terjadi di daerah kami, Kabupaten Banyuwangi. Fokus kami adalah tingkat kualitas penggunaan bahasa Oseng yang menjadi bahasa daerah asli Banyuwangi.
Di mana masyarakat Banyuwangi, terutama generasi Z ketika sudah menginjakkan di tempat umum maka Bahasa Oseng-nya akan berubah menjadi bahasa Jawa, Indonesia, atau bahkan bahasa Inggris yang digunakan untuk berinteraksi.
Hal ini terjadi, karena tingkat ke eksis-an bahasa Oseng sudah menurun.
Sedangkan bahasa Jawa, Indonesia dan Inggris memiliki reputasi yang baik di kalangan anak muda.
Sehingga ketika bahasa keren digunakan, dapat meningkatkan value seseorang.
Singkatnya, bahasa juga termasuk salah satu gaya interaksi yang dinilai oleh seseorang.
Berbeda halnya ketika menggunakan Bahasa Oseng, mereka akan berpandangan, bahwa penggunaan bahasa Oseng di dalam koridor tempat umum kurang relevan atau kurang keren.
Juga ada anggapan dapat menurunkan value diri sendiri ketika menggunakan bahasa daerah yang kurang eksis.
Pada biasanya, bahasa daerah-termasuk bahasa Oseng juga disebut bahasa ibu. Karena penggunaannya hanya di dalam lingkungan keluarga.
Kebiasaan miring dan opini buruk tentang bahasa daerah terutama Bahasa Oseng tentu harus dituntaskan.
Sebab, sebagaimana Joleha Nacikit dalam jurnalnya yang berjudul “Pentingnya Melestarikan Bahasa Daerah” menjelaskan bahwa bahasa daerah berfungsi sebagai bahasa budaya, bahasa pemersatu intra-etnis, mempererat keakraban serta untuk mengetahui sejarah dan bukti peninggalan nenek moyang dalam bentuk perangkat bertutur.
Bahasa daerah juga memegang peran penting sebagai identitas budaya dan adab serta tingkah laku seseorang yang berbicara.
Dalam bahasa daerah terdapat panduan khusus ketika berbicara.
Kepada siapa seseorang bertutur memiliki tata atur cakap tersendiri.
Sebab, di balik aturan yang diciptakan memiliki pesan moral yang berupa budi pekerti.
Kebanyakan penerapan bahasa akan berbeda setelah melihat objek yang di ajak berbicara.
Ketika lawan bicaranya lebih tua, maka ada kosa kata dan nada sendiri.
Begitu pula ketika berbicara kepada orang yang seumuran, maka kosa kata dan nada juga berbeda.
Untuk itu, mulai dari lingkungan keluarga terutama para orang tua ketika berinteraksi kepada buah hatinya lebih mengedepankan bahasa daerah.
Mengajarkan bagaimana cara komunikasi antar sesama dan kepada orang yang lebih tua.
Sebab, masa kecil adalah masa yang paling mudah untuk mengenalkan bahasa kepada anak.
Penerapan ini akan menjadikan bahasa daerah spontan dilontarkan anak.
Namun di samping itu semua, ternyata masih ada komunitas seni dari anak muda yang memiliki semangat ingin melestarikan dan tetap membumikan Bahasa Oseng.
Tepat tanggal 3 April, bersama Samsudin Adlawi dan Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri yang turut menjadi narasumber menghadiri acara bedah buku puisi bahasa Oseng yang berjudul “Merlike Basa Arum”.
Buku tersebut merupakan kreasi milik anak muda yang notabene santri Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo.
Acara tersebut juga dihadiri oleh dosen bidang sastra dari Untag 1945 Banyuwangi.
Mereka sangat menerima baik dan mengapresiasi atas karya puisi Bahasa Oseng milik mereka.
Begitu bangga mereka ternyata masih ada komunitas anak muda yang memiliki semangat ingin membumikan Bahasa Oseng di Banyuwangi.
Meski mereka merantau jauh dari tanah kelahiran dan dengan keterbatasan di pesantren.
*) Warga Perum Kalirejo, Kecamatan Kabat, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin