Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menasihati Bukan Melukai

Ali Sodiqin • Sabtu, 27 April 2024 | 17:25 WIB
Oleh: NELLY NI’MATUS SHOOLIHAH*
Oleh: NELLY NI’MATUS SHOOLIHAH*

MANUSIA dianjurkan untuk saling menasihati antar sesama. Karena terkadang manusia masih belum mampu mengambil keputusan sendiri.

Manusia sebagai makhluk sosial masih membutuhkan manusia lainnya, untuk membantu dia menjalani kehidupan.

Terkadang, sikap manusia yang labil juga butuh untuk dinasihati agar dia mampu bersikap tenang dan selayaknya manusia dewasa.

Menasihati juga biasanya dilakukan oleh seorang yang telah memiliki banyak pengalaman kehidupan agar orang yang dinasihati dapat menjalankan kehidupannya dengan baik.

Diharapkan, orang tersebut tidak akan mengalami kegagalan yang serupa seperti apa yang sudah dialami orang tersebut.

Memang benar, menasihati untuk menuju lebih baik. Tetapi sekarang, rata-rata menasihati dengan cara yang salah, menyebabkan seorang yang dinasihati menjadi sakit hati.

Karena menasihati juga memiliki etika, bukan sembarangan menasihati.

Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berperilaku santun, termasuk dalam cara menasihati.

Ada etika dan aturan dalam memberi nasihat untuk istri, anak, saudara, atau pun orang lain.

Dengan begitu, nasihat yang disampaikan bisa diterima dengan baik.

Berikut ini adab menasihati dalam Islam:

Pertama, niat untuk mengingatkan. Adab menasihati dalam Islam pertama adalah berniat untuk meningkatkan bukan untuk 'menunjukkan keegoisan' atau pamer.

 Sangat berbeda jika seseorang memberikan nasihat dengan maksud untuk memperbaiki saudara-saudaramu sebagai cara berdakwah yang baik menurut Islam.

Ini lebih baik dibandingkan untuk ‘menunjukkan diri’ lebih benar, lebih takwa, dan lebih berilmu.

Jangan pernah memberikan nasihat dalam kondisi merasa diri lebih baik dari saudara kita, karena itu termasuk kebanggaan dalam Islam.

Tentu saja, tidak ada manusia yang nyaman jika diberi nasihat dalam posisi yang salah.

Berilah nasihat dengan memosisikan diri secara setara bahwa kita masih perlu belajar. Dengan begitu, nasihat yang diberikan akan lebih efektif.

Kedua, memberikan nasihat secara privat. Banyak orang yang salah dalam memberikan nasihat dan merasa paling pintar.

Nah menurut laman AZ Islam, adab menasehati menurut Imam Syafi'i yakni sebaiknya dilakukan dengan cara privat dan empat mata.

Bahkan jika perlu, rahasiakan waktu dan tempat ketika menasihati istri atau orang lain.

Ketiga, menggunakan bahasa sopan dan tidak kasar. Adab menasihati lainnya yang juga perlu diperhatikan yakni dengan berbahasa sopan dan tidak kasar.

Meneriaki, memaki, merendahkan, atau memaksa tidak termasuk adab menasihati dalam Islam, meskipun ditujukan untuk kebaikan.

Bahkan ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menasihati Firaun yang sombong dan melakukan kerusakan, keduanya diminta untuk berbicara lembut kepada pemimpin sombong itu.

Keempat, menasihati sesuai ilmu dan kehendak dimiliki. Adab menasihati dalam Islam yang tak kalah penting adalah poin satu ini.

Ada beberapa orang yang menasihati tanpa pengetahuan yang cukup. Mereka hanya menasihati berdasar prasangka atau dugaan tanpa tahu faktanya.

Sebisa mungkin, pastikan kita memberikan nasihat sesuai dengan ilmu yang mumpuni dan telah kita pelajari serta dapat dipertanggungjawabkan.

Kelima, bersabar dalam menasihati. Tidak ada alasan untuk berhenti memberi nasihat walaupun nasihat yang disampaikan tidak pernah dihiraukan atau dilaksanakan.

Nah, bersabar adalah bagian dari adab menasihati dalam Islam.

Jadi, jangan bosan memberi nasihat dan peringatan, karena batu yang keras sekalipun bisa berlubang, jika terus menerus meneteskan air, apalagi hati manusia.

Keenam, menerima dengan keikhlasan. Sebagai seorang muslim, wajib untuk menerima nasihat dengan lapang dada.

Menerima nasihat dari orang lain merupakan tanda dari keikhlasan, keimanan, dan kebersihan hati.

Tetapi hal ini tidaklah berlaku saat ini mereka berpikir menasihati tidak memiliki aturan tersendiri, jadi hal itu sangat salah besar.

Setiap kita mau menasihati seseorang kita harus mengetahui latar belakang orang tersebut.

Bukan langsung menasihati tetapi, harus melalui proses terlebih dahulu karena menasihati orang harus memikirkan perasaan seseorang yang dinasihati.

Terkadang kebanyakan orang melakukan tidak pada kondisi tepat seperti halnya menasihati dalam keadaan empat yang ramai, menggunakan emosi, terlalu memaksakan keadaan dan lain-lain.

Hal tersebut menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan yang berujung kematian.

Jadi, sebagai teman yang baik, kita harus menjadi nasihat sebagai motivasi untuk maju.

Jangan malah sebaliknya, kita membebani mereka dengan kehendak yang tidak sesuai jalan pemikirannya.

Terutama seorang ibu harus pintar memberi nasihat yang mendorong anaknya maju. (*)

*) Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, Universitas KH Mukhtar Syafa’at, Blokagung, Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#lapang dada #Kegagalan #pengetahuan #adab #manusia #dakwah #takwa #hati #islam #dewasa #keimanan