MADRASAH merupakan lembaga yang menyediakan pembelajaran, di mana pembelajaran tersebut didominasi oleh nilai-nilai spiritualisme.
Madrasah juga mendampingi para pembelajarnya agar bisa merealisasikan pembelajaran mengenai teori tersebut.
Program di lingkup madrasah sangat membantu untuk pembentukan karakter, pola pikir, dan sudut pandang pembelajarnya dalam menanamkan jiwa-jiwa religiusitas.
Kurikulum di madrasah juga mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan mengenai iptek, sains, dan kehidupan sosial.
Perkembangan iptek, sains dan sosialisme di madrasah bisa dinyatakan sangat baik.
Kegiatan-kegiatan tersebut dikemas oleh madrasah sebagai ekstrakurikuler.
Berbagai keterampilan dapat dipelajari dalam ekstrakurikuler tersebut.
Mulai dari keterampilan berpikir, keterampilan fisik, dan terampil dalam bertutur kata.
Pembelajaran dalam ekstrakurikuler dilaksanakan setiap pekan. Karena itu, siswa-siswi bisa dengan mudah mengasah skill dan minatnya dengan begitu antusias.
Mereka rela pulang sedikit terlambat karena mengikuti ekstrakurikuler.
Dengan wajah yang ketika pulang terlihat berkeringat dan lelah, namun terpancar energi semangat. Ini menunjukkan obsesi mereka dalam meningkatkan kualitas diri.
Tidak diragukan lagi, siswa madrasah pasti memiliki potensi yang berguna untuk kemajuan negeri.
Mirisnya, masih banyak orang yang memiliki perspektif bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan yang kurang menjamin mengenai pendidikan iptek.
Mereka masih beranggapan teknologi informasi madrasah masih tertinggal dengan sekolah lain. Bahkan madrasah dianggap out off date.
Hal ini dapat dilihat dari beberapa orang tua yang enggan memberikan pendidikan formal kepada anak-anaknya di madrasah.
Sayangnya orang-orang tersebut tidak hanya bersudut pandang, bahkan ada yang terus terang menjustifikasi madrasah dengan pandangan negatif.
Lantas, untuk menghapus pikiran, sudut pandang, dan komentar negatif dari orang-orang tersebut tugas siapa? Nah, itulah tugas warga madrasah dalam problem solving.
Karena salah satu faktor adanya pikiran, sudut pandang, dan komentar negatif mereka yakni madrasah dianggap sedikit tertinggal dalam dunia kompetisi.
Kompetisi membantu para siswa untuk semakin terlatih, semakin kuat, dan tidak mudah putus asa. Selain itu, effort yang diberikan membuat kompetisi memberi peluang untuk mendapatkan banyak relasi.
Manfaat banyak relasi itu mulai dari bertambahnya pengalaman, bertambah pengetahuan, dan relasi juga dapat membuat madrasah lebih menonjol.
Melalui kompetisi yang diikuti dan dijuarai oleh madrasah, relasi terhadap komunitas, organisasi, dan lembaga pendidikan akan lebih mudah terjalin. Karena itu, problem solvingnya adalah, madrasah sebaiknya fokus pada peningkatan potensi dan kualitas diri pelajarnya melalui ekstrakurikuler.
Dan nilai plusnya adalah, sejauh ini ekstrakurikuler di madrasah sangat baik dan banyak melahirkan pelajar yang berpotensi juga berkualitas.
Sehingga pelajar madrasah bisa percaya diri dalam mengikuti kompetisi. Jika banyak pelajar madrasah yang aktif berkompetisi dan bahkan menjuarai, pasti publikasi mengenai prestasi madrasah akan tersebar sendiri.
Dari prestasi yang diraih dalam berbagai kompetisi, akan mengubah perspektif mereka yang memiliki sudut pandang negatif.
Bahkan bisa meningkatkan rasa percaya juga bangga dari mereka yang sejak awal sudah menaruh hati pada madrasah.
Metode ini tidak akan menyulitkan siapa pun. Karena dengan sendirinya, mereka akan sadar bahwa pelajar madrasah memiliki potensi unggul dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lain.
Warga madrasah tidak perlu bersusah payah melakukan marketing untuk mengambil hati mereka.
Karena jika warga madrasah sendiri yang mempengaruhi mereka dengan menyebut keunggulan bahkan akreditasi madrasah, mereka akan sulit percaya.
Mereka berpikir itu adalah hal wajar jika seorang pemilik bangga dengan apa yang dimilikinya.
Dengan meningkatkan potensi unggul dan pelayanan pendidikan berkualitas, akan menyadarkan para wali siswa untuk menceritakan hal-hal positif mengenai madrasah. Metodologi ini disebut dengan "gethok tular".
Gethok tular adalah metode paling ampuh untuk menarik hati seseorang. Dengan metode ini, orang-orang akan penasaran mengenai kenyataan sebenarnya di madrasah.
Mereka akan berpikir dua kali jika tidak mengemban pendidikan formal di madrasah. Karena banyak pernyataan yang menjadi bukti betapa berkualitasnya madrasah.
Metode ini telah digunakan Bupati Banyuwangi periode 2010 - 2021, Abdullah Azwar Anas yang menggunakan metode gethok tular untuk membangun inovasi Banyuwangi.
Dalam buku berjudul "Inovasi Banyuwangi", Anas mengatakan, "Kesan pertama adalah begitu penting bagi kami. Oleh karena itu, maka setiap pendatang bagi kami adalah menjadi endorser, tamu-tamu kami jamu agar mereka menjadi endorser bagi pengembangan pariwisata Banyuwangi."
Dari perkataan itu bisa disimpulkan, orang-orang akan dengan sendirinya melakukan endorse, karena baiknya impresi yang beliau suguhkan.
Dapat dibuktikan bahwa semua program Anas sangat dikenal, diminati, dan dinikmati banyak orang melalui salah satu metode beliau yaitu gethok tular.
Jadi, madrasah yang sudah dilandasi kekuatan batin berupa imtaq, dan dibangun kualitasnya dengan iptek, adalah madrasah yang mampu menggugah sekitarnya.
Ini bisa memperlihatkan kerja konkret, dan bersaing dalam kompetisi.
Sehingga eksistensi madrasah semakin meningkat dengan landasan spiritualisme kokoh dan intelektualisme yang mapan.
Jika terbentuk aura positif batinnya, maka akan terbentuk pula aura positif dhohirnya. Madrasah juga akan mudah diterima semua kalangan.
Dari pemaparan ini bisa disimpulkan, brand madrasah yang berkualitas dilihat dari seberapa kokoh spiritual dan seberapa mapan intelektual.
Karena hubungan imtaq dan iptek adalah hubungan yang integral.
Madrasah yang didasari spiritualisme dan dibungkus dengan intelektualisme, adalah brand paling cerdas untuk madrasah yang berkualitas. (*)
*) Guru Kimia MAN 4 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin