Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bullying: Luka Lama yang Butuh Pendekatan Baru

Gerda Sukarno Prayudha • Rabu, 27 Maret 2024 | 03:55 WIB

 

Photo
Photo
KASUS bullying (perundungan) yang marak terjadi di lingkungan pendidikan dalam sebulan terakhir ini, menjadi pukulan keras bagi kita semua. Tindakan perundungan, baik secara fisik, verbal, maupun online, telah menjadi ancaman yang menimbulkan rasa takut dan meninggalkan luka yang mendalam bagi para korban.

Di balik maraknya kasus perundungan, terdapat krisis moral dan agama yang perlu ditelusuri lebih dalam. Pendidikan nilai-nilai moral dan agama sejak usia dini menjadi kunci utama dalam mencegah perilaku perundungan.

Sering kali, permasalahan perundungan dikaitkan dengan kurangnya pengajaran nilai-nilai moral dan agama sejak dini. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memperkuat pendidikan moral dan agama di lingkungan pendidikan agar kasus bullying dapat diminimalkan.

Penanaman moral dan agama menjadi petunjuk yang menuntun anak, untuk berperilaku baik dan berempati terhadap sesama. Ketika nilai-nilai ini lemah, anak-anak lebih mudah terjerumus dalam tindakan perundungan. Baik sebagai pelaku maupun korban.

Karena itu, penting bagi orang tua dan guru untuk secara komprehensif dan berkelanjutan menanamkan nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini. Orang tua dan guru memiliki peran sangat penting, dalam memberikan contoh dan teladan yang baik.

Sementara di lingkungan rumah, orang tua dapat mengajarkan anak untuk saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang damai.

Sedangkan di sekolah, guru juga dapat memperkenalkan nilai-nilai moral dan agama melalui pembelajaran dan kegiatan sehari-hari. Selain itu, guru juga harus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif. Sehingga anak-anak dapat belajar dan berinteraksi dengan baik.

Penanaman nilai-nilai moral dan agama bisa dimulai dengan hal-hal yang sederhana. Seperti saling berbagi mainan/ makanan dengan teman. Dengan demikian, penanaman nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini dapat dilakukan secara efektif dan berkesinambungan.

Diperlukan pendekatan baru untuk mengatasi masalah perundungan yang lebih efektif. Salah satu caranya adalah, dengan mengimplementasikan program anti-bullying yang melibatkan semua pihak. Ini termasuk melibatkan siswa, guru, orang tua, dan pihak sekolah. Program ini harus didesain dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang memicu terjadinya perundungan. Seperti kurangnya rasa empati, rendahnya harga diri, dan pengaruh media sosial.

Selain itu, sangat penting untuk membangun budaya pelaporan yang aman dan nyaman bagi korban perundungan. Korban perundungan harus didorong untuk berani melaporkan kejadian tersebut tanpa rasa takut akan stigma, atau balasan dari pelaku.

Bullying merupakan luka yang sulit sembuh dan membutuhkan pendekatan yang baru. Pendidikan moral dan agama sejak usia dini, program anti-bullying yang komprehensif, serta menciptakan budaya pelaporan yang aman adalah kunci utama dalam memerangi bullying. Ini sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif bagi semua pihak.

Opini ini tidak hanya berhenti pada analisis dan kritik.  Tetapi juga menawarkan solusi konkret untuk mengatasi perundungan. Dengan kerja sama dan komitmen dari semua pihak, perundungan dapat dibasmi. Sehingga generasi penerus bangsa dapat tumbuh kembang dengan karakter yang mulia dan berakhlakul karimah.

Karena itu, kejadian perundungan merupakan sebuah pengingat, bahwa pendidikan moral dan agama tidak boleh diabaikan. Dengan menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kasih sayang sejak dini, kita dapat membangun bangsa yang berbudi luhur dan bebas perundungan bagi generasi penerus. (*)

 

*) Mahasiswa Pascasarjana, Universitas Negeri Surabaya.

Editor : Syaifuddin Mahmud
#bullying #orang tua #opini