SETIAP insan di dunia ini, pasti mendambakan kehidupan yang baik dan layak. Baik secara finansial maupun secara spiritual. Lantas bagaimana cara mewujudkannya?
Sukses. Satu kata yang sering muncul bagi yang mendambakan kehidupan yang baik dan berkecukupan. Kata sukses identik dengan kehidupan yang berkecukupan. Untuk mencapainya, perlu usaha keras. Salah satunya dengan cara bisnis atau berdagang.
Dalam berbisnis, kata gagal seolah terus menghantui. Lantas bagaimana cara menghadapi semua itu dan meraih kesuksesan? Salah satunya dengan memberi maaf kepada orang lain.
Tidak adanya keinginan untuk memberi maaf adalah hambatan besar untuk mewujudkan kehidupan yang Anda inginkan. Energi negatif ini akan menghalangi Anda mewujudkan hal-hal positif dalam hidup.
Bagaimana caranya menjadi pribadi sukses saat Anda tersakiti? Seseorang yang mendambakan kesuksesan finansial maupun spiritual, perlu memahami bahwa tidak ada kesempurnaan dalam hidup. Karena setiap orang diciptakan untuk hidup bersosial. Saling bantu satu sama lain.
Karena itu, manusia perlu hidup berdampingan untuk mencapai titik yang disebut kesempurnaan. Walaupun pada hakikatnya kesempurnaan hanyalah milik Sang Mahakuasa.
Dalam kehidupan berbisnis, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama seperti kita. Semua itu akan menimbulkan rasa tidak menyenangkan dalam hati.
Ini adalah kesalahan terbesar yang kita alami. Semua ini tidak seharusnya terjadi pada kita bukan? Kalau hati tersakiti berulang kali, perlukah kita memberi maaf?
Betapa pun pedih, coba memberi maaf. Karena dengan cara memberi maaf, dapat memberikan keuntungan sangat besar bagi kita.
Aura positif akan terpancar dari dalam diri dan sekelilingnya. Kelegaan hati akan membuat segala urusan menjadi mudah dan menyenangkan.
Jika kita melatih kesabaran dari waktu ke waktu akan mampu membuat pribadi kita menjadi lebih baik. Rasa percaya diri semakin membara.
Semua cemoohan yang yang sangat menyakitkan, kini justru menjadi motivasi bagi kita untuk berbuat lebih baik lagi. Terus melangkah maju untuk menjemput kesuksesan, tanpa memikirkan cemoohan orang lain.
Karena sesungguhnya, orang yang kuat itu bukan karena ia mampu mengangkat beban berat. Melainkan ia yang mampu melawan hawa nafsunya, dengan cara memaafkan orang lain.
Tidak adanya keinginan memberi maaf, merupakan hambatan besar. Energi negatif akan menghalangi Anda dalam mewujudkan hal-hal positif dalam hidup.
Bukan lagi menjadi rahasia umum, jika Anda memikirkan pikiran yang positif, maka akan mampu melakukan hal yang positif pula. Begitu juga sebaliknya.
Keberhasilan diri, kita sendiri yang akan menentukan. Dari fenomena saat ini, kebiasaan tak memberi maaf membuat kita menjadi pribadi yang sulit memaafkan kesalahan orang lain.
Sebagian besar dendam muncul dari penilaian kita sendiri, atas tindakan maupun kata-kata seseorang yang menyakiti kita. Itu merupakan penilaian yang salah, yang kemudian dari pemikiran itu, muncul rasa dendam kepada orang lain.
Padahal, rasa dendam akan memberikan hambatan sangat besar bagi kita dalam menjalankan bisnis. Sering kali kita merasa mendapat perlakuan tidak adil dan teraniaya oleh lawan bisnis kita.
Satu-satunya jalan agar membuat hati kita lega, yaitu menuntut hukuman kepada pelaku sambil terus menyimpan dendam. Kita mungkin berpikir, mereka akan menyesal atas apa yang mereka lakukan.
Beberapa yang lain mungkin takut untuk memaafkan, karena mereka merasa orang lain tidak pantas untuk dimaafkan karena sikapnya yang berlebihan serta tidak mau berubah.
Cara terbaik bagi siapa pun yang ingin sukses finansial maupun spiritual adalah, melepaskan semua dendam dan kebencian. Serta senantiasa memberi maaf pada siapa pun yang membuat hati tersakiti.
Pencapaian bisnis tidak akan pernah terwujud, tanpa ada perubahan pola pikir Anda tentang kebencian yang justru seharusnya dapat memacu diri Anda untuk mendapat kesuksesan dalam hidup.
Bagi Anda yang masih sulit memberi maaf kepada orang lain dan melepaskan dendam, coba mulai memberi maaf kepada orang lain. Semua ini dapat dilakukan secara perlahan.
Yaitu mulai memaafkan kesalahan yang terkecil, hingga nanti jika hati kita sudah terbiasa memberi maaf, tidak sulit bagi kita untuk memaafkan kesalahan besar.
Seperti yang dikatakan dalam pepatah: “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”. (*)
*) Mahasiswa Universitas KH Mukhtar Syafaat, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin