Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Wujudkan Indonesia Emas dengan Kurikulum Merdeka

Ali Sodiqin • Jumat, 22 Maret 2024 | 13:30 WIB
Oleh: AL IKLAS KURNIA S.*
Oleh: AL IKLAS KURNIA S.*

PADA 1 Juni 1945 di Sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, Soekarno menegaskan pentingnya kemerdekaan bagi pembentukan masyarakat adil dan makmur di Indonesia.

Soekarno berkata: “Kemerdekaan, tak lain dan tak bukan ialah, satu jembatan, jembatan emas. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat.”

Setelah berlalu lebih dari 78 tahun (Maret 2024), janji kemerdekaan itu masih terus diperjuangkan oleh semua orang.

Baik pemerintah, pengusaha, maupun guru terus berjuang untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan di berbagai penjuru negeri.

Perjuangan ini diwujudkan dengan pembentukan berbagai program yang berpihak pada nilai-nilai kerakyatan.

Kurikulum Merdeka yang digulirkan sejak tahun 2022 adalah salah satu program pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), untuk mewujudkan janji kemerdekaan yang telah diucapkan Soekarno.

Kurikulum Merdeka didesain dengan semangat kemandirian, kreativitas, kebebasan, dan keadilan untuk menyongsong Indonesia emas yang adil dan makmur.

Penyediaan layanan pendidikan yang berkualitas memang jalan yang paling tepat untuk mewujudkan mimpi Indonesia emas yang adil dan makmur.

Dengan pendidikan berkualitas berbasis kemandirian dan kreativitas di kurikulum merdeka, kemajuan peradaban bisa diraih.

Sayangnya, implementasi kurikulum merdeka di berbagai sekolah tidak segampang yang dibayangkan.

Ada berbagai tantangan yang harus dihadapi guru agar bisa menyesuaikan diri dengan berbagai aspek yang ada di kurikulum merdeka.

Berbagai tantangan ini harus segera dijawab oleh pihak-pihak terkait agar target kurikulum merdeka bisa tercapai.

Tantangan

Jaka Warsihna Dkk (2023: 297) dalam Jurnal Teknologi Pendidikan menjelaskan berbagai tantangan dalam kurikulum merdeka.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam implementasi kurikulum merdeka berasal dari kesiapan guru sebagai pembawa perubahan di kelas, dukungan sekolah dalam memberikan fasilitas penunjang, dan hadirnya keragaman siswa dalam suatu kelas.

Bayangkan nasib para guru yang bertugas mengajar di daerah terpencil dan tanpa akses teknologi. Apalagi bila mereka sudah berusia lanjut.

Tentu pelaksanaan implementasi kurikulum merdeka akan sangat terganggu.

Padahal, implementasi kurikulum merdeka menggunakan pendekatan berbasis teknologi.

Apa yang harus dilakukan guru sekolah di daerah pedalaman untuk mendapatkan centang biru di platform merdeka mengajar bila tidak ada fasilitas penunjang dan tidak melek teknologi.

Dibutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar untuk penyediaan perangkat serta pelatihan untuk menghadapi tantangan ini.

Namun, bisa proses ini dijalankan dengan baik, masa depan pendidikan kita akan sangat cerah.

Perkuat Kurikulum Merdeka

Banyaknya kritik pada implementasi Kurikulum Merdeka tidak membuat kurikulum ini otomatis dijadikan musuh bersama para stakeholder pendidikan, khususnya para guru.

Buktinya masih banyak guru di tanah air yang terus berusaha memperkuat praktik-praktik kebaikan dengan menyebarkan ide-ide pembelajaran yang menyenangkan dan emansipatif.

Guru-guru inspiratif ini berjuang keras untuk menerapkan amanat kurikulum merdeka di dalam kelas dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.

Guru-guru inspiratif ini merupakan model berharga yang bisa dijadikan teladan guru-guru lain yang ingin maju dan berkembang.

Keberhasilan kurikulum merdeka melahirkan guru-guru inspiratif yang banyak bermunculan di media sosial adalah modal awal bagi pencapaian prestasi Indonesia emas tahun 2045.

Tugas kita sekarang adalah terus menyempurnakan dan memperkuat kurikulum merdeka agar bisa berjalan sesuai dengan cita-cita bangsa.

Wacana pergantian kurikulum yang biasa terjadi saat transisi kekuasaan sebaiknya segera dihentikan.

Hal ini dilakukan untuk menegaskan bahwa kurikulum pendidikan itu independen dari politik kekuasaan.

Kurikulum pendidikan merupakan area sakral yang dimaksudkan untuk mewujudkan amanat undang-undang dasar yakni terciptanya masyarakat adil dan makmur.

Kurikulum merdeka dengan segala kekurangan dan kelebihannya adalah amanat yang harus didukung segenap masyarakat Indonesia.

Dukungan itu bisa dalam bentuk kritik, saran, konsepsi, atau praktik kebaikan.

Saya yakin dengan dukungan semua pihak, kurikulum merdeka bisa menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan mimpi Indonesia emas yang adil dan makmur.

Mudah-mudahan kita adalah salah satu aktor yang ikut aktif memperjuangkan terwujudnya mimpi mulia itu. Amin. (*)

*) Guru di SMA Plus Cordova, Karangdoro, Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#jembatan #soekarno #merdeka #indonesia emas #kurikulum #kemerdekaan