Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pergelaran Sederhana Bernilai Luar Biasa

Ali Sodiqin • Kamis, 21 Maret 2024 | 21:35 WIB
Oleh: ACHMAD FARROS*
Oleh: ACHMAD FARROS*

PADA momen liburan santri kali ini, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebuah SMA swasta berbasis pondok pesantren di Situbondo, melaksanakan pergelaran seni dengan judul besar "Malam Meracik Madu".

Tepat pada hari Jumat, acara pergelaran itu berlangsung di ruang terbuka hijau (RTH) Singojuruh, Banyuwangi. Dengan ucapan syukur atas nikmat Tuhan, acara tersebut dapat terealisasi dengan lancar, meski terdapat rintangan dan cobaan yang datang.

Hal ini karena bentuk kerja keras bersama yang dilakukan oleh seluruh elemen pengurus, simpatisan, dan juga warga sekitar.

Masyarakat yang turut men-support acara pergelaran tersebut. Mulai dari alat-alat pendukung, fasilitas hidup, dan sumbangan dhohir maupun batin.

Tak tanggung-tanggung, santri yang notabene berasal dari berbagai daerah, turut membantu terealisasinya kegiatan tersebut.

Mulai santri dari daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Banyuwangi, Situbondo, Jember, Kangean, Ra'as, serta santri dari Probolinggo sekitarnya.

Melihat effort para santri tersebut, merupakan bentuk prinsip totalitas mereka terhadap organisasi yang menjadi amanah yang harus dijalankan dengan sebenar-benarnya dan dengan penuh keikhlasan.

Prinsip penting ini mereka dapatkan saat mengemban ilmu di pesantren.  

Saat itu, bentuk totalitas mereka diuji tatkala jarak tempuh untuk menghadiri acara pergelaran tersebut terbilang jauh. Namun, tidak ada kata "tidak bisa" bagi mereka yang telah tertanam prinsip totalitas dalam diri.

Dengan membuktikan sejauh apa pun daerah yang akan menjadi tempat pembelajaran dan perjuangan, maka tetap akan diterjang. Sekalipun penuh dengan tantangan.

Dari tamu yang datang berasal dari beberapa sanggar seni yang ada di Banyuwangi. Para tamu pun turut bahagia melihat acara tersebut.

Di panggung pendapa RTH Singojuruh, host acara pergelaran memberikan kesempatan kepada para tamu untuk menampilkan diri. Seperti membacakan puisi milik sastrawan besar Indonesia.

Apresiasi Sastra

Pada sesi apresiasi sastra, para sastrawan dan tamu undangan diberikan ruang untuk melontarkan pesan dan evaluasi yang harus dibenahi pada pergelaran tadi.

Mulai dari menafsirkan makna puisi yang ditampilkan, apa arti dari kata-kata yang disusun. Kemudian membenahi gerakan-gerakan deklamasi.

Di mana ternyata, gerakan juga menjadi media perantara untuk menyampaikan perasaan si peraga. Dan mengambil makna dan mengambil pesan dari puisi yang ditampilkan.

Sementara itu, pergelaran "Malam Meracik Madu" ini bukan sekadar pergelaran biasa. Namun memiliki banyak sekali hikmah dari penyelenggaraan panggung seni tersebut.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua OSIS sekolah tersebut: "Setiap rasa yang ditempa akan melahirkan doa yang selalu kuhaturkan pada Yang Kuasa. Kami hanya ingin menyampaikan bahasanya di setiap lini kehidupan, bahwa kita harus peka dan selalu mawas diri. Melihat berbagai konflik dengan berbagai pandangan. Dan bahwa santri tidak melulu tentang keislaman dan lain Namun santri itu multi-talenta".

Perkataan Ketua OSIS tersebut mengajak kita agar supaya setiap manusia memiliki rasa kepekaan atas apa yang terjadi di lingkungan sekitar.

Dengan hal demikian, tingkat rasa saling menghargai kita atas perbedaan di suatu lingkungan, akan semakin tinggi.

Ini juga mengingatkan kita, bahwa santri bukan hanya identik dengan religius ke-Islam semata.

Melainkan santri memiliki daya luas dalam mengisi segala pojok-pojok sektor kehidupan.

Melalui manifestasi dalam survival di pondok pesantren untuk menggali potensi yang ada dalam masing-masing personal.

Alhasil, boleh jadi melalui perisai multi-talenta, seorang santri mampu memberikan kontribusi.

So, "Pergelaran Malam Sejuta Madu" memang pergelaran yang memiliki prinsip kesederhanaan. Namun, dibalik itu semua, acara seni tersebut memiliki makna dan pesan yang tersimpan.

Sebab, Mas Bungki selaku Ketua Sanggar Seni Cermin pernah mengatakan: "Pergelaran seni bukan sekadar ingin meledakkan tepuk tangan, namun juga ingin menyampaikan pesan kebaikan." (*)

*) Warga Perumahan Kalirejo Permai, Kecamatan Kabat, Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#seni #Sastra #RTH #osis #singojuruh