Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Budaya Literasi Digital, Benteng Memerangi Hoaks

Ali Sodiqin • Jumat, 16 Februari 2024 | 22:12 WIB
Oleh: NIKMATUR ROHMAYA*
Oleh: NIKMATUR ROHMAYA*

SETIAP musim pemilihan umum (pemilu), biasanya bertebaran berita bohong (hoaks) di dunia maya.

Marak berita negatif melalui media sosial yang belum terbukti kebenarannya.

Penyebaran hoaks bisa berdampak fatal, karena bisa memecah persatuan dan kesatuan bangsa.

Hasil survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan, pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya yakni sebanyak 215,63 juta jiwa sepanjang tahun 2022-2023.

Namun fenomena tersebut tak lantas menjadikan penggunanya menjadi smart seperti smartphone yang dimilikinya.

Hal ini dibuktikan dari makin banyak hoaks yang beredar di media sosial.

Hampir semua smartphone telah didukung dengan sosial media.

Bahkan beberapa sosial media telah dilengkapi dengan fitur canggihnya seperti broadcast massages, hanya tinggal klik enter, langsung tersebar ke puluhan bahkan ratusan pengguna lainnya.

Fasilitas broadcast massages bagai dua sisi mata uang.

Selain menguntungkan karena pesan bisa langsung tersebar dan diterima oleh banyak pengguna, namun juga merugikan manakala pesan yang tersebar justru adalah pesan bohong alias hoaks.

Baca Juga: Demokrat-PKB Adu Kuat di Dapil 2 Banyuwangi, Michael Klaim Raih 13 Ribu Suara, Arvy Rizaldy Tembus 12.321 Suara

Berita bohong kadang susah dibedakan dengan berita asli. Namun hoaks dapat dikenali dari berbagai ciri-ciri sebagai berikut:

Pertama, judul bisanya menggunakan huruf kapital, huruf tebal, banyak tanda seru, serta bersifat provokatif.

Berita dengan judul yang demikian seolah memberi penekanan dan penguatan seolah berita itu benar adanya.

Selain itu, judul hoaks biasanya bersifat provokatif. Karena tujuan hoaks adalah untuk mempengaruhi dan memprovokasi pembacanya.

Kedua, tidak mencantumkan sumber. Kalaupun mencantumkan sumber tidak tepercaya/ palsu. Waspadai informasi yang tidak mencantumkan sumber.

Jika bukan berasal dari situs resmi, maka perlu waspada dan mengecek terlebih dahulu kebenarannya.

Menurut catatan Dewan Pers, hanya 300 dari 43.000 situs portal berita yang terverifikasi sebagai situs berita resmi.

Ketiga, menggunakan foto palsu. Foto editan alias foto palsu tersebut digunakan untuk mendukung berita hoaks yang disebarkan oleh pelaku.

Sehingga pembaca benar-benar mempercayai hoaks tersebut.

Keempat, menyudutkan pihak-pihak tertentu. Berita hoaks memiliki isi yang tidak berimbang dan biasanya membahas sesuatu dari satu sisi saja.

Tidak tanggung-tanggung, hoaks menyudutkan pihak-pihak tertentu dengan gamblang.

Bahkan tertera dengan jelas nama pihak yang disudutkan pada judul.

Karena itu, literasi digital secara sederhana bisa diartikan sebagai sikap dan kemampuan seseorang dalam menggunakan teknologi dan informasi serta perangkat digital.

Jadi, literasi digital tidak hanya terbatas apakah seseorang bisa menggunakan perangkat digital.

Namun, juga sikap memilih dan memilah serta menganalisis secara kritis arus informasi digital yang diterimanya.

Mengapa literasi digital penting untuk melawan hoaks? Seperti yang telah dijelaskan dalam pengantar, pengguna smartphone tidak se-smart telepon yang dimilikinya.

Literasi digital sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran hoaks.

Tanpa adanya literasi digital, maka pengguna perangkat digital akan mudah terpengaruh hoaks.

 Sehingga dengan adanya literasi digital, pengguna akan lebih kritis dalam menghadapi hoaks dan tidak mudah terprovokasi.

Berikut merupakan tips untuk melawan hoaks dengan menerapkan literasi digital:

Pertama, saring sebelum sharing. Jangan langsung men-share berita yang tersebar di media sosial.

Saring terlebih dahulu dengan cara membaca berita secara keseluruhan.

Jangan sepotong-potong, apalagi hanya membaca judulnya saja. Apalagi bila judulnya heboh dan provokatif.

Kedua, cek kebenaran berita. Bila berita tersebut benar, biasanya ada banyak situs yang memuat berita tersebut.

Namun bila hanya satu situs saja yang membahas, Anda patut waspada.

Ketiga, cek kesesuaian gambar dengan isi berita. Waspadai gambar palsu yang sengaja dibuat untuk mendukung hoaks.

Buka Google image dan klik ikon kamera, dan unggah foto yang akan dicek atau bisa juga di-copy paste link/url yang akan dicek kebenarannya.

Keempat, kunjungi link yang tertera. Cek apakah link sesuai dengan berita, situsnya resmi atau tidak, pemilik akun bisa dipercaya atau tidak.

Baca Juga: Pedagang Siap Siap Direlokasi, Pasar Banyuwangi Mulai Direvitalisasi Bulan April 2024 Ini

Kelima, aktifkan fitur pelacak hoaks. Dengan membumikan literasi digital, maka akan tumbuh self control pada diri seseorang.

Sehingga dapat menciptakan filter pada informasi-informasi yang tersebar di media sosial.

Yang tak kalah penting, literasi digital diharapkan merangsang tumbuhnya para konten kreator yang dapat bergerak aktif untuk menciptakan konten-konten positif.

Yakni konten yang bermanfaat, yang dapat menandingi konten negatif dari hoaks.

Bumikan literasi digital, stop hoaks, dan jadilah bijak.

*) Guru di MAN 1 Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#budaya #digital #hoaks #Literasi #dewan pers #Situs Berita